Oleh : Ir. Musbar*
Peternakan ayam petelur (layer) merupakan jenis usaha rakyat yang masih bertahan di tengah kuatnya hegemoni korporasi perunggasan. Mereka menjadi kuat karena kemauannya untuk berserikat dan berkumpul dalam wadah koperasi. Dalam sebuah kesempatan, Bung Hatta pernah berkata, “Dasar kekeluargaan itulah dasar hubungan istimewa pada koperasi. Di sini tidak ada majikan dan buruh, melainkan usaha bersama di antara mereka yang sama kepentingan dan tujuannya.” Penulis melihat, negara-negara yang maju justru negara-negara yang memiliki koperasi petani dan peternak. Mereka bahkan mampu menguasai pasar peternakan domestik maupun internasional.

Semangat gotong royong merupakan sikap luhur masyarakat Indonesia. Berhimpun dalam wadah koperasi hingga mampu mendirikan pabrik tepung telur sendiri adalah cita-cita peternak rakyat dalam mewujudkan demokrasi ekonomi.

Melihat kenyataan tersebut, para peternak yang terhimpun dalam wadah koperasi peternak layer berusaha mewujudkan pabrik tepung telur sebagai upaya untuk menjaga keterjaminan pasar sekaligus menjadi stabilitator saat terjadi kelebihan stok produksi. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian, menyebutkan bahwa produksi telur ayam ras nasional sejak tahun 2017-2019 meningkat sebesar 85 persen dengan produksi rata-rata mencapai 13.200 ton per hari.
Baca Juga : Industri Pengolahan Jalan Keluar Bagi Komoditas Telur
Tren produksi yang terus meningkat ini jika tidak diimbangi dengan jumlah permintaan yang sama, maka akan membuat harga jual telur jatuh yang justru akan merugikan para peternak itu sendiri. Pada sisi lain, Presiden Republik Indonesia di berbagai pidatonya selalu menekankan bahwa sudah saatnya Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk impor. Berkaca dari latar belakang itulah, maka sesungguhnya peluang untuk menyediakan tepung telur produksi dalam negeri sangat terbuka lebar.
Selain berbicara kedaulatan pangan, dengan adanya pabrik tepung telur skala industi yang ditopang oleh koperasi peternak, maka akan membantu para peternak layer untuk tetap bisa bertahan. Hadirnya pabrik tepung telur ini juga diharapkan akan melindungi para peternak rakyat kecil yang hanya menggantungkan pasar pada koperasi. Bilamana rencana ini berjalan dengan semestinya, maka angka pengangguran di pelosok-pelosok desa di tanah air akan semakin berkurang. Anak-anak muda di desa tidak perlu mencari pekerjaan lagi ke kota karena bisa beternak di kampung halamannya. *Presiden Peternak Layer Nasional (PLN)
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2019 dengan judul “Mendorong Terwujudnya Pabrik Tepung Telur”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153