“Kondisi sejak tahun 2019-2020 terjadi oversupply karena produksi broiler tidak diikuti dengan kenaikan konsumsi, bahkan dengan adanya COVID-19, penurunan konsumsi masyarakat cukup drastis. Akibatnya, produksi pada tahun 2020 turun hingga 12% jika dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Dawami.
Dampak selanjutnya dari penurunan konsumsi adalah kerugian cukup besar yang dirasakan oleh stakeholder perunggasan. Akibat kondisi seperti demikian, Ditjen PKH Kementan mengambil kebijakan untuk mengurangi produksi melalui Surat Edaran Dirjen PKH tentang penyerapan ayam hidup (livebird) afkir dini PS, tunda setting, dan cutting HE. “Tujuannya untuk menyeimbangkan antara supply dan demand dari sisi hulu produksi broiler,” ujarnya.
Meskipunm dengan gambaran yang kurang baik pada tahun 2020, menurutnya bisnis perunggasan akan segera bangkit. Indikatornya adalah harga livebird sejak akhir 2020 hingga Maret 2021 tidak terjadi gejolak yang ekstrem. “Prediksi untuk sampai tahun 2025 dengan asumsi pertambahan pendapatan per kapita yang digunakan untuk konsumsi protein hewani sebesar 2%, maka per tahun akan ada pertambahan konsumsi yang jika dikonversi akan setara dengan 460 juta ekor DOC atau setara dengan pertambahan impor GPS sekitar 70 ribu D-Line per tahun,” tutupnya. Adv