Oleh : Muhammad Muharram Hidayat*

Pasar unggas Jepang menawarkan peluang besar bagi industri perunggasan Indonesia. Namun berbagai tantangan harus dihadapi dengan berbagai strategi dan kolaborasi yang baik.

Dalam peta perdagangan unggas global, Jepang menempati posisi strategis sebagai pasar yang besar, stabil, namun sarat tantangan. Data dari Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries of Japan (MAFF) tahun 2024 menunjukkan bahwa konsumsi daging ayam di Jepang mencapai sekitar 2,4 juta ton per tahun. Hal ini menjadi sebuah angka yang tidak hanya mencerminkan permintaan tinggi, tetapi juga peluang besar bagi negara pengekspor.

Pasalnya, Jepang hanya mampu memenuhi sekitar 40% kebutuhan pangannya dari produksi domestik, sehingga terdapat kekosongan sekitar 60% yang harus dipenuhi dari impor. Dan untuk produk unggas sendiri, lebih dari 900.000 ton daging ayam diimpor setiap tahun. Dimana sebagian besar dari Thailand, Brasil, dan Tiongkok. Di tengah dominasi tiga raksasa tersebut, muncul pertanyaan besar. Apakah Indonesia siap menjadi pemain baru di tengah dinamika perdagangan unggas tersebut?

Potensi Perunggasan Indonesia

Jika dilihat dari sisi nilai tambah, unggas Indonesia memiliki satu keunggulan utama, yakni status halal yang kuat. Dalam beberapa tahun terakhir, lonjakan kunjungan wisatawan muslim ke Jepang, meningkatnya jumlah penduduk muslim lokal, dan bertumbuhnya restoran halal telah memicu permintaan tinggi terhadap produk pangan halal. Thailand mungkin telah lebih dahulu menjejakkan kaki di pasar Jepang, namun posisi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar kedua di dunia memberikan legitimasi dan kepercayaan yang tidak bisa diremehkan.

Di sisi lain, faktor diaspora juga tidak bisa diabaikan. Lebih dari 180.000 warga negara Indonesia tinggal di Jepang, dan komunitas ini turut mendorong terbentuknya jaringan toko, restoran, hingga usaha kecil yang bergelut dalam perdagangan produk pertanian dan pangan. Keberadaan mereka, ditambah setengah juta lebih wisatawan asal Indonesia yang masuk ke Jepang sepanjang tahun 2024, menjadikan produk unggas asal Indonesia memiliki basis konsumen yang semakin kuat dan loyal.

Tantangan Berlapis

Namun memasuki pasar Jepang tidaklah sesederhana memiliki produk bagus dan target konsumen yang jelas. Negeri Sakura dikenal memiliki standar keamanan pangan (food safety), sistem ketertelusuran (traceability), serta kebijakan kesehatan hewan yang sangat ketat. Negara ini sangat melindungi status bebas penyakit seperti Avian Influenza (AI), dan memberlakukan kebijakan tegas berupa pemusnahan total begitu ditemukan kasus AI di peternakan.

Dalam konteks ini, Indonesia menghadapi tantangan serius. Status belum bebas AI membuat produk unggas segar dan beku dari Indonesia belum diizinkan masuk ke Jepang. Satu-satunya celah yang bisa dimasuki adalah melalui produk olahan yang telah dipanaskan minimal 70°C. Itulah sebabnya, produk seperti nugget, karage, dan chicken strip menjadi andalan ekspor saat ini.

Terbukti, hingga pertengahan 2025, baru ada lima perusahaan Indonesia yang diizinkan melakukan ekspor produk olahan unggas ke Jepang. Mereka adalah Belfoods Indonesia, PT Cahaya Gunung Food Boyolali, PT Malindo Food Delight, PT So Good Food Manufacturing Unit Cikupa, dan PT Charoen Pokphand Indonesia – Food Division. Kelima perusahaan ini merupakan pemain besar di Indonesia dan sebagian besar telah memiliki sistem produksi terintegrasi.

Dan terbaru, pada akhir 2024 lalu, lima unit usaha tambahan telah diajukan untuk mendapat izin ekspor ke Jepang. Saat ini, MAFF Jepang tengah melakukan proses penilaian risiko terhadap unit-unit tersebut. Jika hasilnya positif, maka akan terbuka peluang ekspor bagi pelaku UMKM, sesuatu yang selama ini hanya menjadi wacana.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com