Generasi milenial dan Gen Z, sebagai konsumen digital yang kritis, praktis, dan berorientasi pada gaya hidup, menjadi kunci bagi masa depan pemasaran produk hasil unggas yang menuntut transformasi menuju ekosistem bisnis berbasis teknologi dan kebiasaan digital.

Di tengah arus globalisasi yang ditopang oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, dunia bisnis dituntut untuk terus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. Tidak terkecuali sektor perunggasan, yang selama ini identik dengan produk kebutuhan sehari-hari seperti daging ayam dan telur. Kini, pemasaran produk hasil unggas tidak lagi cukup hanya mengandalkan kualitas dan harga, melainkan juga cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan konsumen yang semakin digital dan kritis, terutama generasi milenial dan Gen Z.

Memahami Milenial dan Gen Z

Mungkin bagi sebagian kita akan muncul pertanyaan. “Mengapa hampir semua strategi pemasaran kini diarahkan pada generasi milenial?” Jawabannya sederhana, karena mereka adalah kelompok konsumen terbesar yang akan mewarisi pasar di masa depan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2017), generasi milenial adalah  mereka yang lahir antara tahun 1981 hingga 1997, mencakup sekitar 33,75% populasi Indonesia, sementara Generasi Z (lahir 1998–2010) mencapai 29,23%. Jika digabungkan, keduanya mencakup lebih dari separuh penduduk Indonesia. Dimana potensi pasar yang sangat besar untuk berbagai sektor, termasuk produk hasil unggas.

Milenial dikenal sebagai generasi pertama yang tumbuh bersama internet. Mereka cepat beradaptasi dengan teknologi, akrab dengan gawai, dan cenderung mengandalkan dunia digital dalam hampir semua aspek kehidupan. Sementara itu, generasi setelahnya  Gen Z  bahkan lebih jauh lagi dalam hal konektivitas dan mobilitas digital. Mereka adalah “generasi mobile”, terbiasa melakukan hampir semua aktivitas melalui ponsel pintar, mulai dari komunikasi, hiburan, hingga transaksi ekonomi.

Riset Alvara (2019) mencatat bahwa Gen Z dan milenial muda memiliki minat yang kuat pada topik-topik ringan seperti musik, teknologi, film, dan gaya hidup. Sementara milenial dewasa dan Gen X lebih sering membicarakan isu-isu serius seperti ekonomi dan sosial politik. Perbedaan pola pikir dan gaya hidup ini juga menciptakan perbedaan dalam perilaku konsumsi mereka.

Kemudian  dalam urusan belanja, generasi muda cenderung lebih kritis, rasional, dan berbasis data. Sebelum membeli produk, mereka mencari ulasan, membandingkan harga, dan membaca testimoni secara daring. E-commerce pun menjadi “mall baru” bagi generasi ini. Survei berbagai lembaga riset menunjukkan bahwa sebagian besar milenial dan Gen Z pernah berbelanja secara online dalam enam bulan terakhir dari kebutuhan primer hingga produk gaya hidup.

Kebiasaan digital ini juga tercermin dari cara mereka mengalokasikan pengeluaran. Gen Z menghabiskan lebih dari 20% dari total pengeluaran bulanannya untuk keperluan telekomunikasi dan hiburan. Aktivitas seperti video streaming, game online, serta keinginan untuk bepergian dan berbagi pengalaman di media sosial menjadi bagian dari gaya hidup mereka. Dalam konteks ini, pelaku bisnis produk hasil unggas perlu memahami bahwa generasi ini tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli pengalaman dan nilai-nilai yang melekat pada produk tersebut.

Produk Unggas dan Peluang di Pasar Generasi Muda

Produk unggas, baik daging maupun telur serta berbagai olahannya memiliki potensi besar di pasar milenial. Produk-produk seperti nugget, sosis, bakso ayam, dan ayam siap saji sangat sesuai dengan karakter generasi muda yang mengutamakan kepraktisan, harga terjangkau, serta kandungan protein tinggi. Namun, keberhasilan menjangkau pasar ini tidak bisa dicapai dengan cara-cara konvensional.

Kunci utamanya terletak pada digitalisasi strategi pemasaran. Generasi milenial lebih percaya pada informasi yang mereka temukan di internet, terutama dari media sosial dibandingkan dengan iklan tradisional. Mereka menilai kredibilitas produk melalui testimoni pengguna lain, influencer, atau konten kreatif yang relevan dengan gaya hidup mereka. Oleh karena itu, pelaku usaha perunggasan harus aktif membangun kehadiran digital yang kuat, bukan hanya memiliki situs web pasif, tetapi juga mengelola media sosial secara konsisten, informatif, dan interaktif.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Pasca Panen pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com