Webinar OBRASS
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Terdapat tren yang cukup menarik pada perkembangan kejadian penyakit Avian Influenza (AI) yang berada di peternakan ayam di Indonesia. Dimana pada tahun 2020- 2021 dominasi virus yang menyerang adalah dari strain virus H5N1. Fenomena ini berbeda dengan tahun 2018-2019, dimana strain virus yang menyerang adalah dari H9N2.
Baca juga : Berkelanjutan dalam Beternak Adalah Kunci
Hal ini seperti yang disampaikan oleh drh. Roiyadi, Technical Service Manager, PT. Vaksindo Satwa Nusantara, dalam OBRASS ( Obrolan Ringan Akhir Pekan Seputar Unggas) yang berlangsung secara daring melalui  Zoom, pada Sabtu (22/1).
Menurut Roiyadi adanya serangan H5N1 pada tahun 2020- 2021 tentunya telah menimbulkan gejala yang cukup berbeda, apabila dibandingkan dengan gejala pada awal mula kasus flu burung merebak di tahun 2003- 2004. Dimana kala itu, imunitas ayam terhadap flu burung sangat rendah.
” Saat itu, titer antibodi  terhadap flu burung sangat rendah. Berbeda dengan sekarang, yang titernya sudah semakin bagus,” tegasnya.
Semantara itu, strain H9N2 selama tahun 2018-2019 memang mendominasi, dengan tingkat penularan yang cukup tinggi. Disisi lain kasus H5N1 sebenarnya masih ada. Namun, lebih tertutupi oleh kasus H9N2 yang sedang merebak.
Dalam kesempatan yang sama, drh. Hendra Wibawa, M.Sc., Ph.d, selakub Kepala Balai Besar Veteriner (Balitvet) Wates, Yogyakarta mengungkapkan bahwa virus AI strain H5N1 clade 2.3.2.1 mendominasi sirkulasi HPAI (High Pathogenic Avian Influenza). Menurutnya, virus AI di Indonesia sejak 2014 dan virus ini terus bermutasi menghasilkan genetic and antigenic drift. Sementara itu virus H9N2 yang termasuk LPAI (Low Pathogenic Avian Influenza) memang terdeteksi di unggas dan lingkungan. Namun, masih menunjukkan diversitas clade yang rendah.
“Yang perlu menjadi catatan adalah adanya vaksinasi secara rutin dan penerapan biosekuriti yang tepat. Ternyata hal ini mampu untuk menurunkan kasus AI pada unggas,” pungkasnya.