Kolaborasi CPI dan UGM dalam Work Based Academy (WBA)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Tak bisa dipungkiri bahwa dunia pendidikan tinggi dengan segudang bekal ilmu pengetahuan yang dibawa oleh lulusan, bisa sangat berbeda dengan kenyataan di lapangan.
Terutama untuk dunia perunggasan yang memiliki kompleksitas tersendiri dalam industrinya dari hulu hingga hilir, menuntut para lulusan perguruan tinggi lebih memahami persoalan yang ada di lapangan terkait dengan pemeliharaan dan pemasaran perunggasan.
Oleh karena itu, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk membuat sebuah program dengan nama Work Based Academy. Kolaborasi antara pihak perguruan tinggi dengan industri ini hadir untuk membekali lulusan perguruan tinggi untuk memahami lebih mendalam mengenai manajemen budi daya unggas dengan langsung terjun di lapangan.
Dalam acara penutupan WBA batch kedua yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom, Jumat (23/4), Syafri Afriansyah selaku General Manager Human Capital PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk menjelaskan bahwa program WBA batch kedua kali ini sangat diminati oleh para lulusan perguruan tinggi.
“Program kedua ini dimulai sekitar September 2020 dan cukup banyak antusiasme dari para pendaftar. Ada 90 perempuan dan 173 laki laki dengan total 263 orang. Usia pendaftar itu dari 21 tahun dan ada pula dari 28 tahun lebih. Sebagian besar berada di rentang umur 22-24 tahun,” ucap Syafri.
Program magang WBA menurut Syafri terdiri dari kegiatan terjun langsung ke lapangan baik di kandang maupun marketing, juga diiringi dengan sesi perkuliahan secara daring.
Pada saat magang juga terdapat sesi sharing dengan area head, juga ada beberapa yang melakukan mini project dalam rangka proses improvement di lokasi magang peserta.
Selanjutnya menurut Muhsin Al Anas selaku dosen yang bertanggung jawab dalam mengawal program WBA, menjelaskan bahwa program kolaborasi yang menggabungkan antara materi dari universitas dan industri ini saling melengkapi dan melahirkan banyak sekali pandangan yang baru terkait dengan efisiensi di lapangan.
Baca Juga: WBA Meningkatkan Peluang Karier di Dunia Perunggasan
“Kami juga melakukan monitoring selama 6 bulan proses pembelajaran teman-teman WBA. Setiap bulannya kami lakukan evaluasi sehingga kompetensi yang sudah disiapkan kepada peserta itu tercapai sesuai target,” jelas Muhsin.
Lebih lanjut dalam acara yang sama, Prof. Ali Agus selaku Dekan Fapet UGM sangat mengapresiasi program WBA. Pasalnya, SDM yang unggul sangat diperlukan untuk menghadapi kerasnya perdagangan khususnya komoditas ayam ras di mana banyak sekali negara yang ingin mengekspor produk ayam ras ke Indonesia.
“Dalam rangka meningkatkan kualitas dari sumber daya manusia yang nantinya akan menggerakkan industri perunggasan khususnya broiler, saya kira alumni alumni dari WBA ini mudah-mudahan bisa berkiprah secara nyata dan signifikan untuk membantu masyarakat dan negara agar mampu berproduksi secara efisien dengan produktivitas tinggi,” kata Ali.
Senada dengan Ali, Dr (HC). Thomas Effendy selaku Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk juga mengapresiasi antusiasme dari peserta WBA. Selain itu, ia juga menyoroti tentang mini project yang dilakukan peserta ternyata memiliki dampak positif terhadap kegiatan budi daya.
“Kalau karyawan kami itu yang sehari-harinya bekerja, sudah dibebani target segala macam, dan juga sudah berada di lapangan selama puluhan tahun, kadang-kadang lupa bahwa ilmu itu harus terus menerus diasah sehingga kalau kita lihat mini project yang ada, hal-hal yang sepele untuk orang yang sudah bekerja sehari-hari di lapangan mungkin terabaikan. Akan tetapi, para peserta lewat mini project mampu membuktikan bahwa hal yang sepele ini bisa memberikan efisiensi dalam produksi,” ucap Thomas.