Bisnis perunggasan mempunyai potensi yang besar
POULTRYINDONESIA, Sidoarjo – Mengawali usaha dengan modal kecil, bukan halangan untuk terus menguatkan tekad untuk terus membuka usaha. Justru mereka yang mengawali dari kecillah yang mampu tumbuh, seperti yang diungkapkan oleh Edy Susilo, peternak puyuh asal Ponorogo, dalam webinar yang bertajuk “Peluang Usaha di Bidang Peternakan” yang diadakan oleh Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Brawijaya (UB) pada Kamis, (2/9) lewat aplikasi Zoom.
Edy menyebutkan bahwa proses perjalanan usaha itu mirip dengan menanam pohon trembesi, pada awalnya hanya berupa biji, kemudian bersemi, tumbuh dan berkembang,
“Pohon trembesi akan menjadi besar dan rindang, jika tidak terlalu sering dipangkas,” tegasnya.
Baca juga : Malindo Optimis Bisnis Perunggasan Terus Tumbuh
Begitu pula dengan beternak puyuh, mengawali dari dari ratusan ekor, tidak menjadi persoalan, jika dalam perjalanannya keuntungannya tidak segera dipangkas untuk dinikmati, melainkan dikembalikan untuk menumbuhkan usaha puyuhnya.
“Paling tidak sekitar tiga bulan, jangan dipangkas untuk dinikmati, tabung untuk investasi dan saya yakin setelah itu populasinya akan segera bertambah,” terangnya.
Ia bercerita, banyak peternak puyuh yang gulung tikar, bukan karena tidak mempunyai modal cukup, melainkan mereka cenderung ingin langsung memulai dengan skala besar, tanpa melalui proses.
“Saran saya, kalau mau beternak puyuh sebaiknya dari DOQ (Day Old Quail) bukan dari pullet. Sebab, kalau dari pullet kita tidak mengerti sejarah pullet, tak mengherankan jika kemudian masa produksinya juga singkat,” tegasnya.
Sejalan dengan Edy, Agus Pranajaya, Owner Pranafood Sukses Manfaat, dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa memulai usaha tidak menuntut semuanya sempurna, dan bisa diawali dengan yang ada. Semisal untuk mengawali membuka ayam krispi, tidak harus mempunyai warung atau tempat dulu, semua bisa diawali dari rumah dengan peralatan dapur yang ada, lantas penjualannya lewat aplikasi online yang sudah banyak tersedia. Ia menegaskan tentang pentingnya praktik dalam berusaha,
“Untuk menjadi pengusaha tidak cukup hanya membaca buku menjadi pengusaha, yang penting bagaimana bisa terjun langsung, sama dengan. belajar renang, jika berhenti lada buku teori renang maka tidak akan bisa, untuk bisa renang harus basah dikolam renang,” terangnya.