Dengan perkembangan genetik yang sedemikian rupa, ayam ras  sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan ventilasi, maka perlu dipastikan kandang yang ditempatinya memberikan kenyamanan.

Semakin hari, suhu lingkungan semakin meningkat akibat perubahan iklim global dan cuaca ekstrem, yang berdampak langsung pada kenyamanan dan produktivitas ternak, khususnya ayam ras. Dimana ternak yang satu ini sangatlah sensitif terhadap perubahan suhu, saat suhu lingkungan terlalu tinggi, mereka dapat mengalami stres panas yang menyebabkan penurunan nafsu makan, produktivitas telur menurun, bahkan menyebabkan gangguan kesehatan. 

Serupa dengan hal tersebut, Bagyo Suprapto selaku Sales Area Surabaya dan Makassar di PT BD Agriculture Indonesia dalam wawancara bersama Tim Poultry Indonesia secara daring melalui aplikasi Google Meet pada Selasa, (14/1) menyampaikan bahwa ayam yang terpapar suhu tinggi lebih rentan mengalami stress dan dapat menyebabkan turunnya produktivitas, mengurangi efisiensi pakan dan meningkatkan resiko terpapar penyakit.

“Dampak perubahan lingkungan yang kian tidak menentu ini tidak bisa kita hindari, tetapi bisa diminimalisir dengan penggunaan sistem kandang closed house. Sistem perkandangan ini memungkinkan kita memiliki kendali atas lingkungan, seperti suhu, kelembapan, pencahayaan, dan ventilasi. Teknologi dan peralatan dalam closed house pun terus mengalami perkembangan seiring dengan kebutuhan dan pergeseran iklim”.

Ia menyampaikan bahwa Indonesia berada di zona 4 atau negara beriklim tropis dimana cuacanya panas dan lembap, sedangkan ayam secara genetika berasal dari Amerika, Eropa atau Brazil yang memiliki iklim berbeda, sehingga lingkungan tentu menjadi tantangan tersendiri untuk industri peternakan di Indonesia.

Otomatisasi memudahkan operasional

Saat ditanya mengenai otomatisasi dalam sistem closed house, Bagyo menjelaskan bahwa secara sederhana, tugas monitoring pada awalnya diserahkan kepada operator, yang merupakan manusia. Namun, kondisi manusia yang tidak selalu stabil dalam menjalankan tugasnya dapat memengaruhi efektivitas operasional. Oleh karena itu, dengan hadirnya alat otomatis, proses pengawasan dan pengendalian menjadi lebih mudah dan efisien, membantu manusia dalam menjalankan operasional budidaya.

“Terlebih saat ini teknologi perkandangan sudah semakin canggih, mengontrol kandang sudah bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun hanya dengan bermodalkan smartphone dan internet saja. Data yang dikirim juga bukan lagi berupa angka-angka yang sulit dibaca, bisa dalam bentuk grafik, diagram ataupun tabel. Selain itu penyimpanan internalnya pun besar sehingga bisa menyimpan banyak data, mudah untuk melakukan perbandingan data,” ujarnya.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com