POULTRYINDONESIA, Jakarta – Soybean meal atau biasa disebut dengan bungkil kedelai menjadi salah satu bahan pakan yang krusial. Pasalnya, bungkil kedelai menyumbang porsi 23-30% dalam total formulasi pakan unggas. Ditambah, hampir sepenuhnya kebutuhan bungkil kedelai nasional diperolah melalui impor. Hal tersebut menuntut para negara produsen bungkil kedelai untuk memberikan jaminan kualitas dengan harga yang tetap kompetitif kepada industri pakan nasional.
Berangkat dari hal tersebut, Northern Soy Marketing (NSM) menyelenggarakan seminar yang bertajuk “Essential Amino Acids in Soybean Meal”. Seminar tersebut dilaksanakan di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Jakarta, Kamis (23/2). Turut hadir para pembicara yang ahli di bidangnya, Dr. Robert Swick sebagai Poultry Consultant, Seth Naeve selaku Associate Professor and Soybean Agronomist at the University of Minnesota, Mike McCranie selaku petani kedelai AS, dan Alfred Kompudu sebagai Animal Protein Technical Consultant.
Dalam sambutannya, sebagai Project Manager NSM, Katelyn Engquist memperkenalkan NSM lebih dalam. Ia mengatakan bahwa NSM merupakan kolaborasi para tokoh petani yang berada di 5 negara bagian utara AS (Midwest Region) yaitu Minnesota, Nebraska, Dakota Utara, Dakota Selatan, dan Wisconsin. Pada tugasnya, NSM bertanggungjawab dalam mempromosikan kualitas, konsisten, dan keunggalan kedelai dan bungkil kedelai yang ditanam di negara bagian utara AS.
“Saat ini, ada lebih banyak permintaan minyak kedelai di AS untuk membuat energi yang berkelanjutan yaitu biodiesel. Produk sampingan dari minyak kedelai tersebut adalah bungkil kedelai. Artinya, AS akan memiliki sediaan bungkil kedelai yang lebih banyak untuk diekspor. Salah satu tujuan ekspor kami adalah Indonesia,” sambutnya.
Pemaparan materi pertama disampaikan oleh Seth yang membawakan materi mengenai variasi bungkil kedelai. Ia mengatakan bahwa kedelai merupakan komoditas dengan kandungan nutrisi yang kompleks. Protein menjadi komposisi utama dari kedelai dengan persentase 35%. Berdasarkan kandungan nutrisinya, ia meyakini bahwa kedelai AS memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan negara produsen lainnya, walaupun memiliki protein yang lebih rendah, tetapi hal tersebut tidak bisa dijadikan acuan dalam menentukan kualitas kedelai.   
“Negara AS memiliki banyak daerah dengan kondisi iklim yang berbeda-beda, sehingga ini juga memengaruhi kepada kandungan protein pada tanaman kedelai. Jika dibandingkan dengan produsen kedelai seperti Brazil dan Argentina, kandungan protein kedelai AS berada di peringkat kedua di bawah Brazil. Jika diperhatikan, tanaman kedelai yang ditanam mendekati garis khatulistiwa memiliki protein yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, kedelai di negara bagian utara AS dan Argentina bagian selatan memiliki protein yang lebih rendah,” kata Seth.
Kemudian, pemaparan dilanjutkan oleh Robert yang membahas materi terkait kebutuhan bungkil kedelai pada peternakan unggas. Ia menyebut bahwa kandungan protein kasar bungkil kedelai dari negara bagian utara AS lebih rendah dibandingkan yang lainnya. Namun, tetap memiliki asam amino kritis (lisin, metionin, sistin, treonin, isoleusin, dan triptofan) dan sukrosa yang tetap tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya, ia menyebut bahwa semakin rendah protein kasar bungkil kedelai, maka semakin tinggi pula kandungan sukrosanya.  Selain itu, kandungan sukrosa berkorelasi positif dengan energi yang dapat dimetabolisme.  Dalam kata lain, bungkil kedelai ditanam di wilayah utara AS mengandung sukrosa lebih tinggi yang akan memiliki lebih banyak energi daripada bungkil kedelai lainnya.
“Semakin banyak protein dalam pakan, maka semakin banyak pula unggas akan minum untuk menghilangkan kelebihan protein itu. Hal ini akan menimbulkan masalah baru karena unggas akan lebih banyak mengeluarkan kotoran basah dan memiliki amonia yang tinggi. Oleh sebab itu, peternak harus memformulasikan pakan sesuai dengan kebutuhan unggas dan tidak memiliki kelebihan protein. Dalam melakukannya, peternak bisa menggunakan bungkil kedelai yang mengandung lebih sedikit nitrogen. Intinya, bungkil kedelai berprotein rendah dengan asam amino esensial yang tinggi. Dan ini adalah yang bisa didapatkan dari kedelai yang ditanam di daerah yang lebih dingin, yaitu negara bagian utara AS,” papar Robert.
Dalam kesempatannya, Mike seorang petani kedelai dari US menceritakan ladang pertaniannya. Tinggal dan berladang di negara sub-tropis membuat Mike harus mempersiapkan langkah ketika menghadapi keempat musim yang berbeda. “Di musim dingin, kami melakukan hal-hal seperti membuat keputusan input. Bagaimana cara membeli bahan kimia, benih kedelai, dan pupuk. Memasuki musim semi kami mulai menanam dan kami memikirkan cara merawatnya di musim panas. Memasuki musim gugur menandakan kita harus panen dan kita selalu menjaga kelembapan dan suhu di tempat penyimpanan,” cerita Mike.
Masih dalam acara yang sama, Alfred menjelaskan mengenai pentingnya menggunakan bahan pakan yang berkelanjutan. Menurut American Feed Industry Association, keberlanjutan produksi pakan mampu menghasilkan lebih banyak pakan dengan lebih sedikit penggunaan energi dan sumber daya. Hal ini juga dapat membantu peternak dalam menerapkan nutrisi hewan yang presisi untuk meminimalkan dampak lingkungan, yang berasal dari kelebihan nutrisi dalam ransum seperti kelebihan protein.
“Kita melihat selama 40 tahun dampak keberlanjutan kedelai AS. Dari tahun 1981-2021, petani-petani yang ada di AS telah mendorong substansial dalam peningkatan efisiensi sumber daya bungkil kedelai dengan meningkatkan produksi kedelai sebesar 130%. Disamping itu, keberlanjutan ini juga meningkatkan efisiensi sumber daya lainnya yaitu, mengurangi tingkat erosi tanah 25%, lebih sedikit emisi yang dihasilkan yaitu 42%, air yang digunakan juga berkurang 61%, energi juga berkurang 45%, serta penggunaan lahan juga semakin efisien dengan pengurangan 47%,” terang Alfred.