Oleh : drh. Esti Dhamayanti*
Penyakit parasitik pada unggas terkadang dipandang sebelah mata karena menimbulkan kematian yang rendah dan jalannya penyakit yang mayoritas bersifat kronis. Namun demikian, penyakit parasitik, dapat menimbulkan kerugian ekonomi akibat turunnya produktivitas serta menimbulkan penurunan imunitas tubuh unggas. Turunnya imunitas unggas berdampak pada kerentanan unggas terhadap penyakit maupun kegagalan vaksin.

Spesies acanthocephala yang teridentifikasi di Indonesia, yakni Mediorhynchus gallinarum, membawa masalah bagi peternak layer karena sulitnya eliminasi M. gallinarum menggunakan berbagai sediaan antelmintik.

Kasus infeksi parasit akibat cacing, atau disebut juga helminthiasis pada unggas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya pemeliharaan ayam. Berdasarkan beberapa penelitian, ayam yang dipelihara secara umbaran atau free range memiliki kasus helminthiasis yang lebih tinggi dibandingkan ayam yang dipelihara secara komersial (menggunakan ayam baterai).Menurut Shifaw et al., (2021), ayam yang dipelihara secara free range memiliki persentase kasus helminthiasis sebesar 82,6%, sedangkan pemeliharaan komersial 63,6%. Tingginya kasus helminthiasis dapat disebabkan oleh mudahnya ayam untuk mengakses telur infektif cacing atau inang intermediet.
Beberapa tahun belakangan, perunggasan sempat mengalami kasus helminthiasis yang terlihat berbeda. Perbedaan terlihat dari cacing yang terlihat berbeda secara bentuk tubuh (morfologi) dari cacing yang menyerang ayam pada umumnya. Helminthiasis pada ayam umumnya disebabkan oleh cacing dari filum nematoda dan cestoda. Beberapa spesies cacing yang dilaporkan banyak menginfeksi ayam antara lain Ascaridia galli, Heterakis gallinarum, Capillaria spp, Echinostoma revoltum, dan Raillietina spp (Prastowo et al., 2015).
Acanthocephala adalah filum cacing yang memiliki nama lain thorny-headed worm. Penamaan tersebut disebabkan oleh fase larva dan dewasa parasit memiliki probosis yang dapat ditarik atau struktur kepala yang berbentuk tubular, runcing dan dikelilingi oleh kait. Cacing ini memiliki kesamaan dengan cestoda pada pencernaanya, sehingga Acanthocephala menyerap nutrisi dari kanal usus unggas, kemudian masuk melalui pori-pori yang terdapat pada seluruh tubuh cacing. Hal tersebut menyebabkan unggas lebih lemah dan rentan terhadap penyakit (Friend et al., 1999). Cacing ini juga diketahui tidak memiliki sistem peredaran darah (Widayati, 2015).
Acanthocephala memiliki jangkauan host atau inang definitif yang luas, mulai dari mamalia, satwa liar, unggas air, unggas domestik, dan ikan. Acanthocephala memiliki 26 famili, 157 genus, dan 1298 spesies (Amin, 2013). Diketahui sekitar 50 spesies Acanthocephala menginfeksi unggas air (Friend et al., 1999). Cacing ini juga tersebar di seluruh dunia, seperti di Papua Nugini, Afrika Selatan, Australia, Filipina, India dan Indonesia. Acanthocephala ditemukan pertamakali di Indonesia, tepatnya di Sulawesi sekitar tahun 1954.
Acanthocephala di Yogyakarta ditemukan secara tidak sengaja oleh akademisi dari Departemen Parasitologi, FKH UGM pada awal tahun 2000-an, kemudian dipublikasikan pada tahun 2013 dan 2015 dalam bentuk studi morfologi dan molekuler. Selain di Yogyakarta, acanthocephaliasis juga ditemukan di beberapa daerah di Jawa Tengah, seperti Magelang, Klaten dan Solo. Acanthocephala juga pernah ditemukan di Jawa Barat berdasarkan keterangan praktisi perunggasan, namun belum pernah diidentifikasi dan dipublikasikan. Spesies Acanthocephala yang ditemukan di Yogyakarta dan Jawa Tengah diidentifikasi sebagai Mediorhynchus gallinarum dan memiliki level variasi genetik yang sangat rendah berdasarkan pengujian secara molekuler (Widayati, 2015; Rodríguez et al., 2022). *Mahasiswa Magister Sains Veteriner, minat Penyakit dan Manajemen Kesehatan Unggas, FKH UGM
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada Majalah Poultry Indonesia edisi November 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com