Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menemui penggunaan asam secara luas, seperti dalam pembuatan obat-obatan, pembuatan pupuk bahkan sebagai bahan peledak. Meskipun asam merupakan senyawa yang sangat berguna, asam juga dapat mengakibatkan kerusakan karena sifatnya yang korosif. Berdasarkan asalnya, asam dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu asam anorganik dan asam organik.
Asam anorganik merupakan asam yang dibuat dari mineral dan non-logam oleh karena itu asam anorganik juga disebut dengan asam mineral. Contoh asam anorganik antara lain, asam fluorida (HF) dari fluorin, asam klorida (HCl) dari klorin, asam sulfat (H2SO4) dari belerang, asam nitrat (HNO3) dari natrium, dan asam fosfat (H3PO4) dari fosfor. Asam anorganik ini umumnya bersifat asam kuat dan korosif sehingga berbahaya. Karena sifat demikianlah maka asam anorganik jarang digunakan di industri peternakan.
Sedangkan asam organik adalah senyawa asam karbon yang dihasilkan dari makhluk hidup seperti tumbuhan dan hewan. Kebanyakan asam ini tidak berbahaya dan banyak memberi aroma pada buah dan makanan. Ciri-ciri asam organik adalah senyawa asam yang memiliki atom karbon (C). Contoh asam organik antara lain, Asam sitrat (C6H8O7) yang menyebabkan rasa masam pada buah jeruk dan buah lemon, Asam tartrat (C4H6O6) yang menyebabkan rasa masam pada buah anggur.
Dewasa ini, industri unggas maupun babi dihadapkan kepada permasalahan untuk memproduksi daging yang rendah kolesterol, rendah total lipid dan rendah asam lemak jenuh. Tidak hanya itu saja, namun harus kaya asam amino tertentu (asam aspartat, asam glutamat dan arginin), rendah tingkat kontaminasi terhadap mikrobia patogen dan bebas residu kimia sintetik seperti antibiotika.
Pada unggas dan babi, ada beberapa cara untuk mengoptimalkan efisiensi penyerapan zat makanan di dalam saluran pencernaan. Salah satu cara yang umum digunakan oleh peternak saat dengan memanfaatkan antibiotik. Fungsi dari pemberian antibiotik melalui pakan ini guna menyeimbangkan jumlah bakteri di pencernaan, bakteri non-patogen jumlahnya selalu lebih banyak dibandingkan bakteri patogen.
Namun penggunaan antibiotika yang tidak bijak bisa menimbulkan retensi mikroba dan residu antibiotik dalam tubuh ternak sehingga membahayakan manusia yang mengkomsumsinya nanti. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dicarikan alternatif yang bersifat alami yang mampu meningkatkan produktivitas dan memproduksi daging berkualitas. Salah satu jenis alternatif yang bisa diaplikasikan pada ternak adalah acidifier.
Acidifier adalah aditif atau tambahan yang berupa asam organik yang dapat diberikan melalui pakan atau air minum. Penambahan asam organik dapat menjaga keseimbangan mikrobia dalam saluran pencernaan dengan cara mempertahankan pH saluran pencernaan sehingga penyerapan protein lebih optimal. Aktivitas saluran pencernaan terutama usus halus yang berperan penting dalam pencernaan dan penyerapan nutrien dapat dibantu dengan pemberian acidifier.
Perbedaan utama acidifier yang diberikan melalui pakan dan air minum adalah target yang dicapai. Acidifier yang melalui pakan berfungsi mengasamkan saluran pencernaan sehingga bakteri non-patogen yang sudah ada di saluran pencernaan dapat berkembang biak lebih baik. Sedangkan acidifier yang diberikan melalui air minun berfungsi hanya mengasamkan air minum saja. Penggunaan asam organik dalam air minum untuk mengendalikan mikroorganisme yang tidak diinginkan dengan memperkecil nilai pH serta melalui aktivitas langsung terhadap mikroorganisme.
Air adalah nutrisi yang paling penting bagi ternak. Dimana hewan ternak biasanya minum setidaknya dua kali lebih banyak dari jumlah pakan yang dikonsumsi. Pada suhu lingkungan yang lebih tinggi, asupan air dapat meningkat lebih tinggi. Hewan ternak yang dipelihara dengan metode modern saat ini, semakin kurang toleran terhadap stres seperti kualitas air yang buruk. Penerapan pemberian asam organik ke dalam air minum dapat memberikan solusi untuk efek negatif kualitas air yang rendah terhadap kesehatan dan kinerja hewan ternak.
Asam organik yang sering digunakan sebagai water acidifier adalah asam rantai pendek (SCFA, C1-C7) dan merupakan asam monokarboksilat sederhana seperti asam format, asetat, propionat dan asam butirat. Semakin pendek rantai karbon sebuah asam organik maka semakin baik dan cepat juga asam tersebut dapat menurunkan pH. Tidak hanya semakin pendek rantai karbonnya saja, namun semakin kecil ukuran partikel asam organik tersebut dapat mempengaruhi dosis yang dibutuhkan untuk mencapai target pH yang kita harapkan yaitu pH 4.0 – 4.5. Karena pada pH tersebut hampir seluruh bakteri patogen tidak dapat bertahan hidup. Kualitas air minum yang kita miliki juga mempengaruhi dosis asam organik yang akan kita gunakan. Penggunaan pH meter dalam mengetahui dan mengontrol pH air minum memiliki peranan sangat penting.
Nilai pKa dari suatu asam organik mempengaruhi kestabilan pH air minum yang terbentuk. Jika suatu asam memiliki beberapa nilai pKa maka pH air minum yang terbentuk tidak akan stabil sesuai yang kita harapkan (pH 4.0 – 4.5).
Berikut ini adalah tabel dari berbagai jenis asam organik yang sering digunakan dalam industri peternakan.
 
 
 
 
 
 
Sumber : https://www.researchgate.net/figure/Formulas-physical-and-chemical-characteristics-of-organic-acids-used-as-dietary_tbl1_23668421
Produk ADDCON XL 2.0 yang berfungsi sebagai water acidifier, merupakan produk yang didistribusikan oleh PT Novindo Agritech Hutama dan terdaftar di Kementerian Pertanian dengan nomor pendaftaran KEMENTAN RI No. I. 19045918 FTC. ADDCON XL 2.0 mengandung Asam Format sebagai asam organik serta Natrium format sebagai bentuk garam dari asam format. Natrium format berfungsi membantu menjaga kestabilan pH air yang terbentuk sesuai yang kita harapkan. ADDCON XL 2.0 merupakan produk asam organik yang berbentuk cairan sehingga memiliki tingkat kelarutan yang sangat baik dengan berbagai jenis kualitas air apapun. Adv