Saat ini ayam ras di dunia telah menjelma menjadi industri biologis yang berperan dalam menyuplai konsumsi protein hewani bagi masyarakat dunia. Daging broiler saat ini bahkan menjadi sebuah komoditas yang dipandang sangat penting secara global karena sangat berperan untuk menjaga keamanan pangan di berbagai dunia,dan menjadi sebuah komoditas penting bagi neraca perdagangan internasional.

Ayam ras pedaging saat ini telah mengalami berbagai proses dan transformasi. Hal tersebut tidak terlepas dari riset dan pengembangan dari potensi genetik yang terus berevolusi menjadi sangat efisien. Dalam perjalanannya, untuk mendukung segala potensi genetik yang ada ayam ras pedaging harus didukung dengan pemeliharaan secara intensif, hingga menjelma menjadi Industri biologis penghasil pangan.

Di sebagian besar negara, produksi unggas diutamakan untuk memenuhi konsumsi domestik, akan tetapi, permintaan untuk perdagangan karkas internasional juga ikut meningkat. Sebagian besar daging unggas yang tersedia di pasar global berasal dari produsen komersial berskala besar dan khusus. Importir utama daging unggas adalah negara berkembang, di mana potongan murah dan berkualitas rendah seperti sayap, kaki bagian bawah, leher dan jeroan ayam yang dijual per potongan membuat daging ayam lebih mudah diakses oleh sebagian besar masyarakat.
Berdasarkan data dari United States Department of Agriculture (USDA) dalam sebuah laporan yang berjudul “Livestock and Poultry : World Markets and Trade” Produksi daging ayam global untuk 2022 hampir tidak berubah dari estimasi produksi pada bulan April 2022 di angka 101,0 juta ton. Hal tersebut merupakan imbas dari penurunan permintaan karkas dari Ukraina, namun penurunan tersebut memang diimbangi dengan penurunan produksi di Brasil dan Uni Eropa. Penurunan produksi unggas dari Brazil disumbangkan oleh inflasi yang melemahkan permintaan domestik, sementara penurunan produksi di Uni Eropa disebabkan oleh kenaikan harga pakan dan dampak dari Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI).
Masih merujuk pada laporan yang sama, Ekspor daging ayam global untuk tahun 2022 direvisi naik 1 persen dari April 2022 menjadi 13,5 juta ton jika prospek membaik di Ukraina dan Cina lebih dari offset mengurangi pengiriman UE dan Inggris. Impor daging ayam Cina diperkirakan akan turun lebih jauh seiring pulihnya produksi daging babi domestik di negaranya. Peningkatan permintaan protein hewani lainnya sangat berpengaruh terhadap berkurangnya permintaan domestik juga mendukung rekor tertinggi tingkat pemasukan komoditas ke Cina
Produksi dan permintaan komoditas unggas dunia sejauh ini ditopang oleh negara – negara penghasil karkas ayam ras pedaging. Masih melanjutkan hasil laporan yang sama, negara dengan produksi karkas terbesar diproduksi oleh Negara Amerika Serikat, Brazil dan Cina. Hal tersebut tentu didukung dengan sistem pola budi daya yang terintegrasi di setiap mata rantainya.
Mengapa Produsen Karkas bisa kompetitif?
Efisiensi dari produk karkas yang kompetitif harus dihasilkan dari pola bisnis yang sangat kompetitif, diantara faktor kunci keberhasilan negara negara tersebut yaitu adanya iklim yang sesuai yang membuat biaya pengelolaan kandang menjadi lebih murah, biaya tenaga kerja yang kompetitif,  adanya dukungan kuat produksi bahan pakan lokal melimpah seperti jagung dan bungkil kedelai. Selain itu untuk meningkatkan efisiensi di tingkat peternak, negara produsen dunia menggunakan pola pemeliharaan unggas yang terintegrasi (contract farming) antara perusahaan inti dan peternak plasma, dikelola dengan manajemen yang baik, peralatan yang modern, inovatif dan berbasis pasar (market driven), dan juga adanya iklim investasi yang kondusif. Model sistem contract farming atau sistem kemitraan memberikan nuansa pertumbuhan dan pemerataan (growth with equity) atau pertumbuhan ekonomi yang inklusif dalam industri peternakan unggas.
Menurut Prof. Budi Tangendjaja selaku Technical Consultant for the United States Grains Council menjelaskan bahwa jika industri perunggasan di Indonesia memang ada beberapa hal yang harus diterapkan. Ada empat faktor yang harus dijalankan untuk bisa menghasilkan karkas yang memiliki daya saing. “Pertama, dia harus vertically integrated. Setiap mata rantai yang ada di dalamnya harus sambung menyambung dan terintegrasi. Kedua, harus ada kondisi yang kondusif termasuk banking system dan pembebasan lahan untuk area peternakan. Ketiga, harus mengadopsi teknologi, dari mulai bibit, nutrisi dan kesehatan. Selanjutnya yaitu aspek lower cost of production. Kalau kita lihat di broiler cost itu didominasi oleh pengeluaran terhadap pakan,” ujar Budi saat ditemui di rumahnya Kamis, (18/8).
Bahkan Budi juga menegaskan bahwa jika ingin menghasilkan karkas yang kompetitif, memang sebaiknya dilakukan lewat sistem yang terintegrasi. Masing masing rantai pasok dari mulai jagung dan bungkil kedelai sebagai bahan pakan utama, sampai hasilnya menjadi ayam goreng harus terintegrasi secara vertikal. “Jika tidak dilakukan secara terintegrasi akan sulit untuk kompetitif. Hal tersebut sudah dikerjakan oleh Brazil, ditarik dari harga jagung, bungkil kedelai, sampai contract growernya dimiliki oleh perusahaan. Semua mengerjakan vertical integration hal tersebut tidak hanya dilakukan di Brazil, tapi juga di Amerika juga melakukan hal seperti itu semisal Tyson,” tegas Budi.
Amerika bisa melakukan budi daya yang sangat efisien karena didukung dengan penguasaan bahan pakan seperti jagung dan bungkil kedelai yang sangat efisien. Selain itu, model usaha yang dijalankan oleh Amerika dikerjakan oleh pihak swasta, dimana dari setiap mata rantai hanya mengambil keuntungan dari karkas yang dijual ke masyarakat. Sedangkan untuk di beberapa negara lain, setiap mata rantai mengambil margin keuntungan. “Amerika itu didukung dengan produksi pertanian untuk komoditas jagung dan kedelai dengan precision farming. Budi daya pertanian disana itu didukung dengan teknologi dan peralatan yang sangat canggih, dan juga penguasaan lahan yang sangat besar. Ambil contoh peternakan jagung dan kedelai di Amerika hanya dikelola oleh satu keluarga, dengan penguasaan lahan sampai dengan 200 hektar. Akan tetapi dengan penguasaan teknologi dan peralatan yang canggih, mereka bisa mengejar produksi yang tinggi,” jelas Budi.
Berdasarkan pengalamannya, Budi juga menjelaskan tentang bagaimana Thailand bisa sangat kompetitif. Thailand paham betul bahwa keunggulan yang dimiliki oleh negaranya adalah labour cost, sehingga sinergi antara pihak swasta dan pemerintah di Thailand, menggenjot produk added value yang spesifik yang berbasis pasar (market driven) dari negara pemesan.”Negara tetangga kita seperti Thailand, dari awal itu menghitung berapa harga bahan pakan, lalu dia hitung harga produk akhir berupa karkasnya itu berapa. Thailand paham bahwa cost production seperti ongkos buruh itu murah, kalau di Amerika mengerjakan olahan makanan seperti sate itu akan sangat mahal sekali karena labour cost nya tinggi. tetapi thailand mampu mengerjakan hal tersebut. Walaupun harga jagung dan bungkil kedelainya itu mereka impor, tetapi Thailand mendapatkan nilai tambah berupa hasil olahan ayam. Mungkin ketika berbicara cost karkas hingga rumah potong, Brazil dan Amerika masih unggul, namun ketika berbicara mengenai added value yang didapat melalui further processing, Thailand masih unggul dari kedua negara tersebut,” ujar Budi.
Senada dengan Budi, Menurut Prof. Arief Daryanto selaku Dekan Sekolah Vokasi IPB University, meminimalisir mata rantai bisa menjadi sebuah solusi. Sistem koordinasi vertikal yang dijalankan oleh mayoritas negara produsen karkas merupakan salah satu strategi rantai pasok yang bisa saling menguntungkan antara perusahaan inti dan plasmanya. “Integrasi vertikal dapat diadopsi oleh peternak skala menengah dan besar. Peternak skala kecil dapat menjadi mitra kemitraan yang ditawarkan oleh perusahaan yang menawarkannya,” jelas Arief saat ditemui di Kampus Sekolah Vokasi IPB University, Jl. Raya Pajajaran, Kota Bogor, Kamis (25/8).
Lebih lanjut, Arief mengatakan bahwa jika melihat sejarah perjalanan industri perunggasan di negara-negara pengekspor daging ayam dan telur, perusahaan-perusahaan di negara-negara tersebut dibangun berdasarkan konsep integrasi vertikal. Intinya, konsep integrasi vertikal memungkinkan para produsen karkas untuk mengurangi biaya yang timbul di setiap mata rantai, sekaligus memberikan nilai tambah bagi produk akhirnya. “Faktor yang mendorong tumbuh dan berkembangnya konsep integrasi vertikal adalah perusahaan menginginkan terciptanya jaminan pemasaran produk dan pelayanan, kompetisi harga untuk melakukan retensi keuntungan, dan memiliki keragaman input dan output untuk lebih mampu mengelola risiko,“ ungkap Arief.
Pola Kemitraan di Indonesia
Pola budi daya ayam ras di Indonesia dilakukan dengan berbagai macam bentuk. Menurut buku yang diterbitkan oleh Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHNak) Kementerian Pertanian dengan judul Panduan Kemitraan Usaha Peternakan tahun 2017, ada empat bentuk kemitraan yang bisa dilakukan oleh pihak pelaku usaha di bidang perunggasan. Pertama Kemitraan antar peternak, Kedua yaitu antara peternak dan perusahaan peternakan, ketiga yaitu antara peternak dan perusahaan di bidang lain, dan yang keempat adalah antara perusahaan peternakan dan pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
Dalam buku tersebut juga mencantumkan bahwa bentuk kemitraan dari model yang pertama hingga ketiga dapat dilakukan dengan pola inti plasma, sewa, bagi hasil, sub kontrak dan perdagangan umum. Sedangkan bentuk kemitraan pada poin keempat, dilaksanakan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk peternakan. Peningkatan daya saing usaha peternakan dapat dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, penyuluhan, magang, promosi, dan/atau efisiensi produksi, proses alih teknologi sesuai peraturan perundang-undangan. Sedangkan peningkatan nilai tambah dapat dilakukan dengan pengolahan hasil, peningkatan kualitas produk dan lain-lain.
Pola kemitraan yang tercantum dalam Buku Saku Panduan Kemitraan tersebut, dapat dilakukan dengan pola inti plasma, bagi hasil, Sewa, dan perdagangan umum, dan sub kontrak. Kemitraan dengan pola inti plasma merupakan pola hubungan kemitraan antara peternak dengan perusahaan peternakan maupun perusahaan bidang lain, dimana perusahaan peternakan/perusahaan bidang lain bertindak sebagai inti dan peternak sebagai plasma. Kemitraan pola inti plasma merupakan kemitraan yang melakukan transfer teknologi dari inti ke plasma. Inti biasanya merupakan peternakan skala besar atau perusahaan terintegrasi yang menyediakan sarana produksi ternak. Model kerjasamanya adalah inti akan memberikan sarana produksi berupa pakan dan bibit, lalu hasil peternak dijual kembali kepada perusahaan inti tersebut. Dengan model inti plasma yang ideal, akan terjalin hubungan saling menguntungkan dimana peternak mendapat nilai manfaat berupa kemudahan akses bibit, kemudahan menjual panen, terjamin harga jualnya sesuai dengan parameter yang disepakati kedua belah pihak dalam perjanjian kemitraan.
Perusahaan inti mendapatkan kepastian suplai karkas, kepastian dalam penyerapan produk sapronak,juga tidak perlu mengakuisisi banyak aset dan tenaga produksi berupa kandang, tenaga kerja dan lainnya, karena menjadi tanggungan dari peternak.Pembagian keuntungan dan risiko pada Kemitraan Inti Plasma ditentukan berdasarkan kontribusi jasa dan/atau persentase modal kerja, yang disepakati kedua belah pihak di dalam perjanjian. Kontribusi masing-masing pihak, harga input produksi (pakan, bibit, obat, vaksin, vitamin) dan harga produk yang dihasilkan disepakati secara bersama dan dituangkan dalam perjanjian. Penentuan harga produk yang dihasilkan dengan memperhatikan harga pokok produksi dan mutu produk yang tercantum pada perjanjian.
Kemitraan dengan Pola Bagi Hasil merupakan hubungan kerjasama antar Peternak atau Peternak dengan Perusahaan Peternakan/ Perusahaan di Bidang Lain yang salah satu pelaku berperan sebagai pemilik usaha atau penyedia modal sedangkan pelaku lain sebagai pengelola usaha. Dalam Kemitraan Pola Bagi Hasil masing-masing pelaku yang melakukan Kemitraan memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki serta disepakati dalam bentuk perjanjian. Pembagian keuntungan dan resiko yang diperoleh didasarkan pada persentase yang disepakati bersama dalam perjanjian. Beberapa contoh Kemitraan Pola Bagi Hasil dalam masyarakat misalnya kontrak pertanian (contract farming), sumba kontrak, gaduhan, dan marobati.
Kemitraan dengan pola sewa merupakan hubungan kemitraan dimana salah satu pihak menyewakan sarana prasarana dan/atau ternak dalam jangka waktu tertentu berdasarkan kelayakan usaha. Dalam kemitraan sewa kandang, penyewa wajib membiayai operasional kandang antara lain listrik, air, dan penanganan limbah sesuai perjanjian. Dalam melakukan usaha, penyewa dapat mempekerjakan pemilik kandang sebagai tenaga kerja dengan jasa atau upah yang disepakati.
Kemitraan Pola Perdagangan Umum merupakan hubungan kemitraan di bidang pemasaran, penyediaan lokasi pemasaran, dan pasokan. Kemitraan dengan Pola Perdagangan Umum harus didasarkan pada sistem pembayaran yang tidak merugikan salah satu pihak. Dalam Kemitraan Pola Perdagangan Umum Perusahaan Peternakan/Perusahaan di Bidang Lain bertindak selaku penerima produk sedangkan Peternak bertindak selaku pemasok produk. Peternak sebagai pemasok produk memproduksi produk yang dibutuhkan Perusahaan Peternakan/Perusahaan di Bidang Lain.
Manfaat Pola Perdagangan umum berupa adanya jaminan harga atas produk yang dihasilkan dan kualitas sesuai dengan yang telah ditentukan atau disepakati. Kelemahan yang sering terjadi pada Kemitraan Pola Perdagangan Umum ini antara lain, perusahaan besar seperti swalayan menentukan dengan sepihak mengenai harga, volume, termin, yang sering merugikan Peternak. Untuk menjamin Kemitraan yang saling menguntungkan, harus disepakati kualitas produk yang dipasarkan, harga produk, pengembalian produk yang tidak terjual atau rusak, dan cara serta waktu pembayaran yang selanjutnya dituangkan dalam perjanjian.
Kemitraan dengan pola Subkontrak merupakan pola hubungan kemitraan antara Peternak dengan Perusahaan Peternakan/Perusahaan di Bidang Lain untuk memproduksi produk yang dibutuhkan Perusahaan Peternakan/ Perusahaan di Bidang Lain yang terkait dengan usaha peternakan untuk mendukung kelancaran dalam mengerjakan sebagian produksi dan atau komponen, kelancaran memperoleh bahan baku, pengetahuan teknis produksi, teknologi, pembiayaan dan sistem pembayaran.
Kemitraan Pola Subkontrak mempunyai keuntungan yang dapat mendorong terciptanya alih teknologi, modal dan keterampilan serta menjamin pemasaran produk kelompok mitra usaha. Pembagian keuntungan dan risiko pada Kemitraan Subkontrak ditentukan berdasarkan besarnya kontribusi para pihak dan harga produk hewan sesuai produksi dan mutu hasil, sesuai perjanjian pada saat ditandatangan.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari rubrik Laporan Utama yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia edisi September 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153