Ayam yang mengalami batuk berdarah akibat ILT (sumber gambar: MSDvetmanual.com)
Oleh: Sulaxono Hadi*
Penyakit infeksi pernafasan pada unggas yang bisa menyebar cepat ini disebabkan oleh Gallid Herpesvirus (GaHV-1). Dampak dari penyakit ini yaitu berupa kerugian ekonomi yang besar karena kematian, terhambatnya pertumbuhan anak ayam, serta produksi telur yang menurun. Virus yang termasuk keluarga Herpesviridae subkeluarga Alphaherpesvirinae dapat menyebabkan mortalitas 10-5% dan bahkan bisa mencapai 70%, sedangkan morbiditasnya mencapai 90-100%. Gejala lainya yang terlihat yaitu ayam terlihat bernafas melalui mulut, kurus, dan terjadi penurunan produksi telur. Kematian pada ayam bisa terjadi dengan tiba-tiba, ditandai dengan jeritan tercekik dalam kandang. Penyakit ini dapat menyerang ayam para penghobi, ayam kampung, ayam aduan, broiler komersial, ayam petelur, bahkan ayam pada breeding farm.

Peternak bisa saja tidak menyadari awal datangnya infeksi penyakit viral ini, yaitu infectious laryngotracheitis atau ILT yang diawali dengan ayam yang terlihat depresi, berlinang air mata, bersin, batuk yang bisa disertai dengan lendir bercampur darah,  muka yang terlihat bengkak, mata yang tertutup, dan susah bernafas.

Herpesvirus mampu memproduksi glikoprotein penting yang berkaitan dengan keganasannya diantaranya gL, gM, gH, gB,gC, gK, gG, gJ,gD,gI, gE, thymidin kinase, dan non-struktural protein. Peternak di sentra produksi di dunia telah lama berkawan dengan virus penyebab penyakit respirasi terbesar ini sejak ditemukan virusnya pertama kali tahun 1925 oleh May dan Thittsler (Hindalgo et al, 2003).
Pada ayam yang terserang ILT, DNA virus dapat ditemukan pada laring, trachea, paru, sekum, ginjal, pankreas, dan esofagus ayam (Wang et al, 2013). GaHV-1 bisa ditemukan juga pada sinus hidung dan konjungtiva mata ayam. Kipas angin dalam kandang saat terjadi serangan penyakit dapat menjadi penyebar virus karena virus dapat ditemukan sejauh 500 m dari kipas angin.
Baca Juga: Kontrol Amonia untuk Cegah Cekrek
Tempat persembunyian virus ILT pada tubuh ayam terletak pada trigerminal ganglion otak. Trigerminal ganglion adalah sumber infeksi laten virus penyebab ILT (Williams, Bennet & Bradbury, 1992). Dengan pengujian PCR, virus bisa  teridentifikasi pada trigerminal ganglion ini walaupun virus tidak teridentifikasi pada laring dan trakhea. Kondisi seperti ini menjadi faktor penting dalam epidemiologi penyakit ini.
Ayam terinfeksi melalui melalui jalur respirasi atas dan mata. Virus akan sampai pada trigerminal ganglion setelah 4-7 hari setelah virus menempel dan berkembang di trakhea. Dalam kondisi stress, virus pada simpul syaraf yang ke mata ini bisa berkembang dan menyebabkan infeksi. Inkubasi penyakit berlangsung 6-12 hari, dan gejala awal yang muncul terjadinya konjungtivitis, disusul pembengkakan infraorbital, keluar discharge dari hidung produksi telur yang menurun, penurunan intake pakan serta kemerosotan bobot badan ayam.
Perubahan patologi anatomi
Sesak nafas, mati tiba-tiba seperti tercekik dapat ditemukan pada kondisi infeksi berat. Hal tersebut terjadi karena adanya proses penyumbatan jalan nafas akibat akumulasi lendir dan perkejuan pada saluran nafas ayam.
Saat dilakukan nekropsi pada ayam yang mati, ditemukan perdarahan pada saluran nafas atas, mulai dari trakea hingga bronkus. Berdasarkan pengamatan mikroskopis pada awal infeksi, akan ditemukan hilangnya sel-sel goblet, infiltrasi mukosa trachea oleh sel-sel radang, dan terjadinya edema. Perkejuan dapat ditemukan mulai dari palatum mole, langit-langit atas mulut ayam, laring hingga trakhea. Infeksi skunder bakteri bisa berperan dalam proses perkejuan dengan memanfaatkan media tumbuh yaitu lendir yang berlebihan pada saluran nafas. Cairan mukus atau lendir ini akan ditemukan sepanjang trakhea ayam, selain itu cairan lendir bercampur dengan darah dan luruhan lapis mukosa trakhea yang rusak, juga dapat ditemukan sewaktu dilakukan bedah bangkai.
Beberapa penyakit pada ayam yang juga menimbulkan gejala gangguan pada saluran pernafasan diantaranya Newcastle Disease, Infectious Bronchitis, dan Avian Influenza. Akan tetapi, perubahan histopatologi pada ILT sangat berbeda dengan ketiga penyakit viral ini. Seperti pada pengujian temuan makropatologi, pada pemeriksaan histopatologi akan di-temukan adanya perdarahan pada lamina propria trakhea, infiltrasi sel radang, kerusakan berat dan luruhan mukosa trakhea, serta banyaknya badan inklusi intranuklear pada sel-sel syncytial mukosa. Badan inklusi ini umumnya terbentuk beberapa hari pada fase awal infeksi, 3-5 hari setelah infeksi.*Medik Veteriner Ahli Madya
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2021 ini dilanjutkan pada judul Identifikasi virus ILT”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153