Oleh : Sugeng Wahyudi*
Kaset kusut lagu lama, menjadi peribahasa yang sangat relevan menggambarkan kondisi perunggasan, terutama pada bisnis budi daya ayam ras pedaging (broiler). Persoalan harga ayam hidup (LB) yang seringkali berada di bawah biaya pokok produksi (BPP), membuat peternak mandiri terus mengalami kerugian. Di lain sisi, kenaikan sapronak baik pakan maupun DOC yang terus terjadi beberapa waktu terakhir, kian memberikan beban ganda pada peternak.
Jelas sebagai pelaku usaha, peternak ingin untung atau mendapatkan insentif dari usaha budi dayanya. Sehingga harus ada keseimbangan harga, antara input (pakan, DOC, OVK) dan output yakni harga jual LB. Ini harus berimbang. Namun saat ini yang terjadi, harga pakan naik terus yang membuat harga DOC turut naik, sedangkan di sisi output atau harga LB tidak selalu mengikuti hal tersebut. Ini menjadi pertanyaan besar yang harus dicarikan solusi jawabannya.
Terkait harga LB yang tidak selalu bisa mengikuti harga inputnya, oversupply seringkali dianggap menjadi faktor penyebab. Kalau pun demikian, berbagai anomali masih sering terjadi di lapangan. Seperti saat SE cutting dilaksanakan, otomatis membuat harga DOC naik. Hal itu menjadi sebuah fenomena yang wajar. Namun, yang menjadi aneh adalah disaat yang bersamaan justru harga LB turun. Padahal logikanya, ketika cutting bergulir maka ayam yang dipelihara akan berkurang sehingga supplynya turun. Dan apabila mengikuti hukum pasar, dengan penurunan supply dan demand yang tetap maka harga LB juga akan ikut naik. Namun fakta di lapangan tidak demikian. Dan fenomena ini terjadi berulang kali.  
Memang beberapa waktu ke belakang banyak narasi yang beredar tentang keseimbangan baru pada bisnis perunggasan. Lebih tepatnya berkaitan dengan keseimbangan harga baru. Dimana dengan kenaikan harga sapronak yang terjadi, diharapkan juga diikuti dengan turut naiknya harga LB sebagai output dari usaha peternak. Berbagai upaya edukasi konsumen pun juga terus digalakkan beberapa waktu kebelakang. Pemahaman tentang harga ayam yang harus berubah mengikuti kenaikan harga pakan dan DOC pun terus disuarakan.
Namun demikian, narasi ini hanya berkaitan dengan harga. Karena harga DOC dan pakan naik, sehingga HPP pun harus muncul yang baru. Katakan hari ini harga DOC Rp7.500,00 dan pakan di atas Rp9.000,00/kg  maka untuk ayam panen ukuran 1,4-1,6 kg membutuhkan HPP sekitar Rp23.000,00/kg. Jadi ini baru berbicara tentang keseimbangan harga. Namun hal tersebut seolah akan menjadi narasi belaka, apabila tidak diikuti dengan keseimbangan pada sisi supplydemand. Walaupun harga HPP naik, kalau dilapangan masih terjadi oversupply, maka otomatis harga LB di peternak pun akan tertekan atau tidak bisa terangkat.
Fenoma semacam ini terjadi berulangkali, dan mengakibatkan banyak peternak mandiri mengalami kerugian, hingga kebangkrutan. Sebagian besar diantaranya menutup usaha, kehilangan harta untuk membayar hutang produksi bahkan ada diantaranya yang depresi. Seperti yang terlihat saat ini, jumlah peternak mandiri terus mengalami penurunan akibat kerugian usaha yang terus dirasakan. Selain itu, penulis mempertanyakan arah kebijakan pemerintah yang seolah justru mendorong dan mengarahkan para peternak mandiri untuk beralih ke sistem kemitraan. Ini kan logika yang terbalik. Harusnya kan bermitra, sudah mahir dan berpengalaman dan menuju mandiri. Ini malah dari peternak mandiri berupah ke kemitraan bermitra. Menurut saya ini menjadi sebuah logika yang terbalik.
Penulis melihat harapan keseimbangan baru, baik dari sisi harga maupun supply demand membutuhkan peran serta dari berbagai pemangku kepentingan. Contoh klasik, kita impor GPS senilai A, siapa yang bisa memastikan hingga masuk kandang jumlahnya tepat dan presisi. Kalau persoalan itu saja belum bisa dipastikan kebenarannya, maka masalah oversupply akan terus terjadi. Keseimbangan baru ini tidak akan terwujud kalau tidak didukung oleh semua pihak. Kita bilang kementrian A sudah tepat, tapi kalau Kementerian B belum, maka akan sama aja. Begitu pun kalau industri tidak berperan dengan benar dan melaporkan data yang sesuai dengan kenyataan di lapangan, maka kondisi juga akan begini-begini saja. Keseimbangan baru akan terjadi, apabila semua pihak bisa menaati aturan dan saling berkoordinasi dengan baik. Kalau tidak, maka hal itu hanyalah sebuah utopia belaka. Yang ada, kita hanya terjebak pada keseimbangan sementara akibat adanya intervensi, seperti kebijakan pemadam kebakaran yang selama ini dilakukan.
Terlepas dari itu semua, peternak mandiri harus terus berjuang, Mulai dari kandang sendiri melalui pembenahan manajemen pemeliharaan yang dilakukan hingga melakukan konsolidasi dan  membangun soliditas dan sinergisitas antarpeternak, pelaku usaha dan pemangku kebijakan. Sembari terus berdoa kondisi bisnis ini segera membaik. Semoga.  *Sekretaris Jenderal Garda Organisai Peternak Ayam Nasional (GOPAN)
Artikel ini merupakan rubrik Suara Asosiasi pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com