POULTRYINDONESIA, Jakarta – Koksidiosis merupakan ancaman berbahaya pada unggas, yang secara langsung menggangu ekonomi dan tidak dapat dibasmi secara baik. Hal ini seperti disampaikan oleh drh Brahma Tusta B, selaku Key Account Manager Phibro Animal Health dalam webinar dengan tema ” How to Control Coccidiosis in Poultry”. Acara yang terselenggara secara daring, Selasa (22/11) ini, merupakan rangkaian dari program NH University, kerjasama antara PT New Hope Indonesia dan Phibro Animal Health Corporation.
Menurut Brahma, dibutuhkan strategi untuk mengontrol adanya serangan penyakit koksidiosis pada unggas. Salah satu strategi pengontrolan itu bisa diterapkan dengan pengontrolan secara konsisten pada manajemen kesehatan, untuk melakukan pengendalian penyakit coccidiosis secara baik.
“Supaya sukses dalam melakukan manajemen pengendalian secara baik, maka bisa melalui sistem monitoring untuk mencegah adanya outbreak secara klinis. Namun, hal ini tidak bisa berjalan pada subklinis, sebab pencegahan seringkali kebobolan dalam bidang koksidiosis subklinis. Selain itu, strategi kontrol bisa juga dengan memperbaiki nutrisi, meningkatkan kekebalan tubuh unggas, pemberian vaksin, dan pemberian antikoksidiosis,” tegasnya.
Khusus pada pemberian obat antikoksidiosis, ia memberi catatan tersendiri tentang adanya kemungkinan berkembangnya resistensi obat dan resistensi silang antar obat. Menurutnya resistensi berkembang dalam proses seleksi secara alamiah. Sedang, resistensi silang dibangun berdasarkan adanya struktur dari produk obat kimia.
” Oleh karena itu dalam pemberian antikoksidiosis, sebaiknya diberikan dalam dosis yang benar. Hal ini untuk menghindari berkembangnya resistensi, dan aman pula dari masalah residu yang tidak diinginkan. Sedangkan penerapan vaksinasi harus pula tepat untuk menghindari reaksi terbuka atau kurang efektifnya vaksin yang digunakan,” tegasnya.
Menurutnya untuk menghindari resistensi maka sebaiknya melakukan rotasi antikoksidiosis seperti menggunakan salinomycin, kemudian diganti dengan lasalocid. Dan ika sudah digunakan selanjutnya bisa menggunakan semduramicin.
“Yang perlu menjadi catatan dalam rotasi antikoksidiosis bukan berarti rotasi produk. Namun, lebih pada komposisi molekul, struktur kimia, dan mode aksi dari obatnya,” pungkasnya. Yafi
Menyukai ini:
Suka Memuat...