Pada era kemajuan teknologi informasi, keberadaan data yang valid, terintegrasi dan mudah diakses merupakan suatu hal yang sangat berharga. Tak terkecuali pada ranah penelitian di mana kesinambungan pada setiap informasi data yang ada merupakan sebuah hal yang penting. Untuk itu, Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) Bogor mengadakan Focus Group Discussion bertemakan “Sosialisasi Launching Integrated of Bigdata Of Indonesian Research Center For Veterinary Science (InBIG of IRCVS) dan Diseminasi Hasil Riset Penyakit Eksotik” melalui aplikasi Zoom, Kamis (5/11).
FGD tersebut dihadiri oleh berbagai stakeholder dari berbagai institusi lingkup Kementerian Pertanian, lembaga riset, perguruan tinggi, Kementerian Kesehatan, Lembaga Pemerintah (TNI/POLRI), asosiasi, PB PDHI, peneliti, dan lain sebagainya.
Dr. drh. NLP Indi Dharmayanti, M.Si selaku Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) mengungkapkan bahwa InBIG of IRCVS merupakan sebuah platform inovasi sistem informasi yang terintegrasi terkait big data Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) yang telah ada sejak 112 tahun yang lalu. Secara umum InBIG of IRCVS dibagi menjadi 3 data besar yaitu Sourcing-Absorptive Capacity, Research and Development Capacity dan Disseminating Capacity.
Sourcing-absorptive capacity merupakan kemampuan lembaga dalam mengakses informasi teknologi, mengefisienkan penggunaan sumber daya yang ada, dan mencegah terjadinya tumpang tindih riset. Research and development capacity merupakan kemampuan lembaga untuk meningkatkan kapasitas iptek melalui potensi adopsi, adaptasi, dan pengembangan teknologi untuk peningkatan daya saing barang dan/atau jasa melalui optimalisasi input, proses, dan pengelolaan industri. Sementara disseminating capacity merupakan kemampuan untuk mendiseminasikan hasil-hasil riset yang manfaatnya dirasakan oleh pengguna teknologi yaitu masyarakat, industri, swasta, dan pemerintah.
Memudahkan akses bagi peneliti dari seluruh dunia
Dalam kesempatan tersebut, Indi menjelaskan bahwa InBIG of IRCVS dapat memberikan berbagai informasi terintegrasi tentang riset veteriner yang dapat diakses secara global dan dapat dimanfaatkan dalam pengambilan kebijakan, informasi, data penyakit hewan, advanced technology, fasilitas laboratorium, fasilitas sarana dan prasarana, invensi, inovasi, lisensi, hasil riset, rencana, program penelitian dan informasi terkait veteriner lainnya.
Indi yang juga merupakan kepala proyek dari platform ini menambahkan bahwa InBig of IRCVS diharapkan dapat dilaksanakan dan dimanfaatkan dengan baik ke depannya, sehingga dapat memperkuat kapasitas institusi riset veteriner yang mampu menghadirkan big data riset veteriner yang valid dan berdasar kepada science-based evidence di tengah arus globalisasi yang ada. Selain itu, platform tersebut juga hadir untuk menjawab tantangan munculnya penyakit baru termasuk penyakit zoonosis yang berpotensi menjadi pandemi di kemudian hari.
“Terakhir, hadirnya InBig of IRCVS yang dapat diakses secara global juga diharapkan menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan pengguna atau stakeholder internasional untuk terbangunnya kolaborasi internasional yang lebih baik sehingga dapat berkiprah secara nyata di dunia riset veteriner tingkat internasional,” pungkasnya.
Sementara itu dalam video sambutannya, Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si yang merupakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada BBLitvet yang telah mampu mengembangkan dan meluncurkan InBIG of IRCVS. Fadjry berharap dengan adanya platform tersebut tidak ada lagi tumpang tindih terkait data atau informasi veteriner di Indonesia.
“Melalui platform ini, saya juga berharap ke depannya dapat terintegrasi dengan riset-riset dari perguruan tinggi, lembaga riset lain dari dalam maupun luar negeri,” ujarnya.
Selepas peluncuran InBIG of IRCVS, dalam acara yang sama juga dilaksanakan pemaparan materi terkait penyakit Nipah dan Hendra yang dibawakan oleh drh. Indrawati Sendow, M.Sc selaku Peneliti Virologi Balai Besar Penelitian Veteriner, serta pakar Nipah dunia, Hume Field, BVSc, PhD MACVS yang merupakan Adjunct Professor University of Queensland Australia.
Penyakit Nipah dan Hendra merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus Nipah dan virus Hendra yang termasuk ke dalam famili Paramyxoviridae. Penelitian terkait penyakit Nipah dan Hendra sangat diperlukan untuk pengendalian penyebaran penyakit tersebut di Indonesia. Dalam hal ini, BBLitvet telah berperan serta dalam melakukan penelitian dengan serangkaian kegiatan di antaranya pengambilan sampel pada hewan babi dan kelelawar, pengujian laboratorium (ELISA, SN test, RT-PCR) serta wawancara pada pekerja peternakan babi dan penjual atau pengepul kelelawar serta studi telemetri.