Sumber: Getty Images
Oleh: Elinda Luxitawati*
Peristiwa kompleks dunia yang bermunculan belakangan ini, seperti perubahan iklim, pandemi Covid-19, maupun konflik antar negara, silih berganti memberikan dampak yang serius terhadap ketahanan sektor ekonomi, pangan, dan energi global. International Energy Agency (IEA) (2022), melaporkan bahwa tren total emisi gas rumah kaca (GRK) global, mengalami kenaikan sejak tahun 2010 hingga tahun 2019. Total emisi GRK pada tahun 2019 mencapai titik tertinggi sepanjang masa yakni mencapai angka 40,74 Gt CO2-eq pada waktu itu. Seiring dengan mewabahnya Covid-19 di berbagai negara yang telah serentak menghambat aktivitas sosial, industri, dan mobilitas perjalanan, pada tahun 2020 emisi GRK turun sebesar 5,2% (menjadi 38,62 Gt CO2-eq).

Dibalik krisis pangan dan energi global yang dirasakan sektor peternakan Uni Eropa, ternyata wabah HPAI turut melengkapi problematika di sub-sektor perunggasannya.

Bertepatan dengan pemulihan bertahap dan dibukanya sistem lockdown Covid-19, emisi GRK kembali naik pada tahun 2021 melebihi total GRK pada tahun 2019, yakni mencapai 40,84 Gt CO2-eq. Konsentrasi GRK pada atmosfer bumi yang meningkat memicu peningkatan resiko pemanasan global. Resiko tersebut menyebabkan perubahan iklim yang kerap abnormal, diantaranya seperti perubahan panas-dingin suhu secara ekstrim, perubahan pola curah hujan, dan perihal musim yang tidak menentu.
Dampak dari perubahan iklim global secara langsung memengaruhi ketersediaan pangan dunia dengan berbagai kemungkinan akibat kegagalan panen sektor agroindustri. Problematika mengenai perubahan iklim dunia sudah menemani masyarakat global sejak dan sebelum masa pandemi Covid-19. Mewabahnya Covid-19 melengkapi ujian tata kelola ketahanan pangan global (termasuk didalamnya mengatur ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas pangan) yang hingga saat ini belum pulih secara sempurna.
 Disamping tantangan perubahan iklim global dan pandemi Covid-19, publik internasional dijejali tantangan baru dengan munculnya konflik antar negara.  Invasi Rusia terhadap Ukraina yang berlangsung sejak 24 Februari 2022 serta ketidakpastian durasi peperangan yang mengekor pada ketegangan dua negara tersebut, secara global juga mengganggu ketersediaan pangan dan energi dunia. Laporan yang ditulis oleh Guénette dkk (2022) di bawah naungan Bank Dunia mengenai Implikasi Perang Ukraina bagi Ekonomi Global, menyebutkan bahwa Rusia dan Ukraina adalah pemain utama dan eksportir kunci komoditas penting dunia. Rusia tercatat sebagai pengekspor gandum (18%), gas alam (25%), palladium (23%), nikel (22%), pupuk 14(%), batu bara (18%), platinum (14%), minyak mentah (11%) dan aluminium (10%) global. Sementara itu, Ukraina tercatat sebagai negara pengekspor minyak biji-bijian (40%), jagung (13%), dan elemen pembuatan chip (gas neon 50%) di ranah ekspor global.
Konflik yang terjadi antara Rusia-Ukraina disebut memicu kemacetan logistik, pasokan energi yang lamban, dan kekurangan input pangan. Ketiganya membawa dampak pada kenaikan harga komoditas pangan dan energi global. Indeks harga pangan riil global tahunan yang dimuat dalam laman Food and Agriculture Organization (FAO) pada 2 September lalu, menyebutkan bahwa indeks harga komoditas pangan global meliputi serealia (barley, sorghum, gandum, beras, jagung), minyak nabati, daging, susu-hasil olahan susu, dan gula mengalami kenaikan pada tahun 2020 hingga saat ini (Gambar 1).  Indeks harga energi global juga terbaca naik pada akhir tahun 2021 dan Juni 2022 (Gambar 2) sebagai akibat dari kekurangan pasokan energi yang berlanjut.
Gambar 1. Indeks harga pangan global (sumber: FAO, 2022; Vos dkk., 2022)
Gambar 1. Indeks harga pangan global (sumber: FAO, 2022; Vos dkk., 2022)
Gambar 2. Indeks harga energi global (sumber: fred.stlouisfed.org; statista.com)
Gambar 2. Indeks harga energi global (sumber: fred.stlouisfed.org; statista.com)
Uni Eropa (UE) secara khusus menarik perhatian karena kedekatannya dengan konflik dan hubungan perdagangannya dengan Rusia-Ukraina. Menurut data Badan Statistik Uni Eropa (Eurostat) Agustus 2022 lalu, laju inflasi mencapai 9,1% di kawasan Eropa dan mencapai 10,7% di UE dengan dua pemicu utama yang sama, yaitu harga energi dan harga pangan. Kenaikan harga energi dapat diterjemahkan sebagai kenaikan biaya produksi pada mayoritas operasional industri. Harga energi yang lebih tinggi telah mendorong kenaikan harga komoditas padat energi lainnya, seperti halnya pupuk. Industri pertanian dan peternakan yang merupakan industri padat energi, dalam operasionalnya memanfaatkan penggunaan pupuk, pestisida, gas, bahan bakar, listrik, dan biji-bijian bahan pakan sebagai input produksi. Oleh karena itu, dengan biaya input yang mahal maka melahirkan harga produk pangan nabati dan hewani yang tidak murah.
Melihat kenaikan input produksi dari sisi peternakan, European Commission (EC) pada tahun 2022 menjelaskan bahwa pengurangan UE dalam impor jagung, gandum, minyak rapeseed, dan minyak biji bunga matahari dari Ukraina berdampak pada industri pengolahan pakan. Di sisi lain, European Feed Manufacturers Federation (FEFAC) (2022) menyebutkan bahwa produksi pakan campuran (compound feed) pada tahun 2020 mengalami kenaikan 0,03% pada tahun 2021, yakni 150,2 juta ton. Segala komoditas pakan ternak dapat distabilkan dalam periode tersebut kecuali pakan komoditas babi.
Lebih lanjut FEFAC (2022) mencatat bahwasannya di luar komoditas babi, sektor peternakan lain berhasil meningkatkan produksinya di tahun 2021 walau sedang berada dalam kondisi Covid-19. Sektor pakan sapi UE meningkat sebesar 0,2% dari tahun 2020 akibat peningkatan produksi di Irlandia, Bulgaria, dan Austria. Disamping itu, sektor pakan unggas UE hanya berhasil meningkatkan produksinya sebesar 1,1%. Irlandia, Spanyol, Italia, Portugal, Austria, Finlandia, dan Romania dilaporkan berada pada pertumbuhan lebih dari 5%. Namun, beberapa negara anggota seperti Jerman, Perancis, Belgia, Swedia, Lituania, dan Polandia mengalami penurunan terutama dikarenakan beberapa sebab, seperti harga eceran telur yang datar, flu burung yang menyerang, dan tingginya biaya bahan baku. Sepertinya, berlangsungnya peperangan Rusia-Ukraina yang diperparah oleh wabah penyakit hewan di UE menyebabkan berkurangnya permintaan compound feed pada tahun 2022 sebesar 4 sampai 5 juta ton. Aktivitas produksi pakan untuk komoditas babi, sapi, dan unggas berturut-turut diestimasikan turun sebesar 4,2%, 1,6%, dan 3%. Secara total, prediksi penurunan pada industri compound feed di tahun ini adalah sebesar 2,9% (4,3 juta ton) dibandingkan tahun 2021.
Membahas secara khusus komoditas perunggasan UE di masa sulit pangan dan energi saat ini, menurut update data EC pada 14 September lalu, UE masih menduduki posisi sebagai 3 negara eksportir terbesar daging unggas dunia setelah Brazil dan Amerika Serikat. Meskipun demikian, perunggasan UE sempat diuji dengan hadirnya wabah Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). European Food Safety Authority (EFSA) (2022) mencatat bahwa di 36 negara Eropa terdapat sekitar 5300 kasus HPAI yang terdeteksi selama musim epidemi 2021-2022.
Lebih dari separuh wabah tersebut menyebar secara sekunder dari unggas yang terinfeksi ke peternakan unggas lainnya. Wabah HPAI tersebut juga merambah ke negara-negara anggota UE. Sehingga pada tahun 2021, produksi unggas UE mengalami penurunan sebesar 2,7% (Agriculture and Rural Development EC, 2022). Munculnya HPAI ditengah masalah keterbatasan bahan dan melonjaknya harga pakan UE adalah seperti pelengkap problematika perunggasan UE di masa sulit pangan dan energi. Permintaan dan kebutuhan konsumen akan produk unggas dibenturkan dengan realita keterbatasan pasokan bahan serta tingginya harga pakan. Pada pertengahan September 2022, harga daging unggas UE menyentuh angka 266,56 €/100 Kg berat karkas. Sementara itu, harga telur mencapai 196,36 €/100 Kg pada 21 September lalu. Kedua harga daging dan telur tersebut, berada di atas tren harga produk unggas Brazil pada periode yang sama (Gambar 3 dan 4).
Gambar 3. Update harga daging unggas UE 14/9/22 (sumber: agriculture.ec.europa.eu)
Gambar 3. Update harga daging unggas UE 14/9/22 (sumber: agriculture.ec.europa.eu)
Gambar 4. Update harga telur UE 21/9/22 (sumber: agriculture.ec.europa.eu)
Gambar 4. Update harga telur UE 21/9/22 (sumber: agriculture.ec.europa.eu)
Mengutip dari prospek jangka pendek pertanian UE 2022 yang disusun oleh Agriculture Rural Development EC, dengan harga yang baik dan permintaan produk unggas yang berkelanjutan, produksi di Spanyol dan Polandia diperkirakan akan stabil. Sementara itu, negara-negara anggota UE yang tidak terlalu terdampak oleh HPAI diprediksikan akan mengalami produksi yang moderat. Secara keseluruhan, perunggasan UE diperkirakan akan sedikit meningkat 0,5% pada tahun 2022. *Mahasiswa Lulusan Pascasarjana, Animal Life Science, Kangwong National University, Korea Selatan