POULTRYINDONESIA, Yogyakarta — Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026 pada 19–21 Januari 2026 di Yogyakarta. Forum ini menjadi momentum penting konsolidasi peternak rakyat dari seluruh Indonesia dalam merumuskan arah baru industri perunggasan nasional yang lebih berkeadilan dan berpihak pada peternak mandiri.
Rakernas berlangsung di tengah dinamika sektor perunggasan yang masih dihadapkan pada persoalan struktural, mulai dari fluktuasi harga, ketimpangan struktur pasar, hingga tekanan modernisasi industri. Mengusung tema “Pengembangan Industri Ayam Terintegrasi”, PINSAR menegaskan komitmennya untuk memastikan transformasi industri tidak menggerus peran peternak rakyat, melainkan memperkuat posisi mereka dalam rantai pasok nasional.
Ketua Pelaksana Rakernas PINSAR Indonesia 2026, Parjuni, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin organisasi. Menurutnya, Rakernas menjadi ruang strategis untuk merumuskan langkah bersama dalam menghadapi tantangan ke depan.
“Kita menghadapi ketimpangan struktur pasar dan fluktuasi harga yang kerap merugikan peternak maupun konsumen. Rakernas ini menjadi wadah untuk menyatukan langkah bersama,” ujarnya.
Parjuni juga menyoroti pentingnya kesiapan industri perunggasan rakyat dalam mendukung program strategis pemerintah, khususnya Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai, stabilitas pasokan protein hewani menjadi kunci agar industri unggas mampu berkontribusi langsung terhadap ketahanan pangan nasional.
Rangkaian Rakernas diawali dengan jamuan makan malam yang berlangsung hangat di Candhari Heaven, Yogyakarta, Senin (19/1/2026), yang dihadiri para pimpinan wilayah PINSAR dari berbagai daerah.
Agenda utama Rakernas meliputi pembahasan pengembangan ekosistem industri ayam terintegrasi, evaluasi program kerja organisasi, serta perumusan langkah strategis menghadapi tantangan global pada 2026.
Dari daerah, sejumlah isu krusial turut mengemuka. PINSAR Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, misalnya, membawa lima isu utama ke forum Rakernas.
Ketua PINSAR Babel, Yahya, menyebut persoalan overpopulasi unggas kemitraan, keterbatasan Day Old Chick (DOC), lemahnya peran pengawasan pemerintah, praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, serta minimnya regulasi yang berpihak pada peternak mandiri.
“Rakernas ini menjadi forum penting agar aspirasi daerah dapat terakomodasi dalam kebijakan nasional,” tegasnya.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.