Oleh : drh. Herinda Pertiwi, MSi PhD*
Dengan hadirnya teknologi phytase modern, fitat yang dulu dianggap pengganggu kini dapat dimanfaatkan sebagai sumber fosfor strategis yang mampu mendorong efisiensi pakan, menekan biaya, dan mendukung keberlanjutan industri perunggasan.
Di tengah kenaikan harga bahan baku pakan dan tuntutan keberlanjutan lingkungan, efisiensi nutrisi menjadi kata kunci di industri perunggasan Indonesia. Fosfor (P) merupakan salah satu mineral mahal dan krusial dalam formulasi pakan, baik untuk broiler maupun layer. Namun, sebagian besar fosfor di dalam bahan baku nabati seperti jagung dan bungkil kedelai terikat dalam bentuk fitat (phytate), yang sulit dimanfaatkan oleh ayam. Akibatnya, banyak fosfor yang justru berakhir di feses, bukan dimanfaatkan oleh tubuh. Seiring berkembangnya teknologi enzim, khususnya phytase generasi baru, fitat yang dulu dilihat sebagai “pengganggu” kini dapat diubah menjadi sumber nutrisi yang bernilai. Artikel ini akan membahas secara lugas berdasar penelitian terbaru, bagaimana phytase modern bekerja dan apa implikasinya bagi pakan unggas di Indonesia.
Fitat, Harta Karun Fosfor yang Sering Terbuang
Fitat merupakan cadangan fosfor utama di dalam biji-bijian dan kacang-kacangan. Pada tanaman, bentuk ini menguntungkan, namun bagi unggas, fitat justru menjadi masalah. Saluran cerna ayam tidak menghasilkan enzim phytase dalam jumlah dan aktivitas yang cukup untuk memecah molekul fitat secara efektif. Akibatnya, fosfor yang terikat dalam fitat tidak terserap secara optimal dan sebagian besar keluar lagi bersama feses.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Fitat juga dapat mengikat kalsium, zinc, magnesium, serta berinteraksi dengan protein dan pati. Ikatan ini membuat mineral-mineral penting, sebagian asam amino, dan sebagian energi menjadi kurang tersedia bagi tubuh. Secara praktis, tanpa intervensi, peternak membayar fosfor, kalsium, dan nutrien lain di dalam bahan pakan, tetapi tidak semuanya termanfaatkan dengan baik.
Untuk mengatasi defisit fosfor yang tidak tercerna ini, formulator pakan biasanya menambahkan fosfat anorganik seperti monocalcium phosphate (MCP) atau dicalcium phosphate (DCP). Produk-produk fosfat ini umumnya berharga tinggi dan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi pasar global, dan menyumbang porsi besar dalam biaya formulasi. Di banyak peternakan, biaya fosfat anorganik ini bisa signifikan per ton pakan, terutama ketika harga jagung dan bungkil juga sedang tinggi. Dengan kata lain, energi, protein, dan fosfor yang terperangkap dalam fitat serta harus “ditebus” lagi dengan MCP/DCP membuat sistem menjadi kurang efisien.
Phytase Generasi Baru, Mengubah Cara Kita Memandang Fitat
Phytase, enzim yang tugas utamanya memotong gugus fosfat dari molekul fitat sehingga fosfor menjadi bentuk yang lebih mudah diserap. Phytase generasi baru yang berkembang dalam dua dekade terakhir umumnya berasal dari bakteri, misalnya dari galur Escherichia coli, dan diklasifikasikan sebagai 6-phytase. Dibandingkan phytase generasi awal, enzim ini memiliki beberapa keunggulan penting, seperti aktivitas tinggi pada pH asam di proventrikulus dan gizzard, ketahanan terhadap suhu tinggi saat proses pelleting, serta kemampuan memecah fitat secara lebih lengkap hingga menghasilkan myo-inositol.
Produk microbial phytase-6 yang beredar di pasaran global biasanya diformulasikan dengan aktivitas sekitar 5.000 FTU per gram, tersedia dalam bentuk bubuk maupun cairan, dan dirancang untuk mudah diaplikasikan di feedmill. Dalam praktik formulasi, phytase bukan sekadar “menambah fosfor”, tetapi mengubah strategi pemanfaatan fitat. Ketika phytase bekerja, enzim ini memotong gugus fosfat satu per satu dari cincin myo-inositol pada molekul fitat. Setiap ikatan fosfat yang dilepas akan mengurangi kemampuan fitat untuk mengikat kalsium, protein, dan mineral lain, sehingga kompleks fitat–mineral–protein yang semula tidak larut menjadi lebih mudah terdisosiasi dan dicerna.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com