Oleh : Jacqueline Cardoso Ferreira*
Industri perunggasan modern terus beradaptasi dengan tantangan lingkungan dan permintaan pasar yang semakin tinggi. 
Salah satu solusi inovatif dalam meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas ayam broiler adalah penggunaan kandang tertutup. Sistem ini memungkinkan kontrol otomatis terhadap variabel lingkungan seperti suhu, kelembapan, kecepatan angin, dan pencahayaan, sehingga menciptakan kondisi optimal bagi pertumbuhan ayam.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan dari Federal University of Lavras, Brasil, mengevaluasi dinamika lingkungan termal dalam kandang tertutup dan dampaknya terhadap performa broiler. Studi ini dilakukan selama satu siklus produksi dengan mengamati perubahan suhu, kelembapan, serta indeks kenyamanan termal seperti Temperature-Humidity Index (THI) dan Black Globe Humidity Index (BGHI).
Hasil penelitian ini menyoroti pentingnya pemantauan berkelanjutan dan penyesuaian kondisi lingkungan agar ayam dapat tumbuh secara optimal, mengurangi stres panas, serta meningkatkan efisiensi pakan dan produksi daging.
Metode dan Hasil Penelitian
Eksperimen ini dilakukan pada kandang tertutup yang menampung 40.000 ekor ayam broiler strain Cobb500™ selama enam minggu. Kandang ini dirancang untuk mengontrol suhu, kelembapan, dan ventilasi secara otomatis guna memastikan kondisi optimal bagi pertumbuhan ayam. Sistem pemantauan yang digunakan melibatkan berbagai sensor yang ditempatkan di berbagai titik dalam kandang untuk mengukur suhu, kelembapan, serta distribusi udara. Pemantauan dilakukan setiap 15 menit menggunakan Hobo® datalogger yang mampu merekam data lingkungan secara real-time. Selain itu, parameter seperti THI, BGHI, dan entalpi diukur untuk menilai kenyamanan termal ayam. Hasil pengukuran ini kemudian dianalisis untuk menentukan pola perubahan suhu dan kelembapan sepanjang siklus produksi.
Pada minggu pertama, kondisi lingkungan masih dalam batas kenyamanan dengan THI berkisar antara 72,4 hingga 80 dan BGHI antara 77 hingga 81,6. Suhu di dalam kandang tetap stabil karena ayam masih berada dalam fase awal pertumbuhan dengan tingkat produksi panas yang relatif rendah. Namun, mulai minggu kedua hingga minggu kelima, kondisi mulai bervariasi antara nyaman hingga kurang nyaman. THI tercatat berkisar 56,6 hingga 72, yang menunjukkan adanya fluktuasi suhu akibat peningkatan metabolisme ayam seiring bertambahnya usia dan massa tubuh mereka.
Selain itu, meningkatnya kepadatan populasi ayam dalam kandang menyebabkan distribusi panas yang tidak merata, terutama di area yang lebih jauh dari ventilasi utama. Beberapa zona dalam kandang mengalami suhu lebih tinggi dibandingkan area lainnya, yang mengindikasikan adanya perbedaan dalam sirkulasi udara. Penggunaan kipas dan sistem pendingin evaporatif membantu menstabilkan suhu, tetapi tantangan utama tetap ada pada zona-zona yang memiliki sirkulasi udara yang kurang optimal. Pada minggu keenam, seluruh indeks kenyamanan termal menunjukkan kondisi yang tidak nyaman akibat peningkatan metabolisme ayam yang signifikan serta tingginya kepadatan populasi. Peningkatan suhu tubuh ayam dan produksi uap air dari respirasi juga turut berkontribusi terhadap naiknya kelembapan di dalam kandang, sehingga menyebabkan penurunan disipasi panas melalui evaporasi dan meningkatkan risiko stres panas.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com