Di tengah dinamika industri perunggasan yang terus berkembang, optimalisasi pakan menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas.  

Sebagaimana yang kita ketahui, biaya pakan menyumbang hingga 60–70% dari total biaya produksi, sehingga pakan menjadi sangat penting untuk diperhatikan oleh para pelaku usaha. Dalam upaya menekan biaya sekaligus memaksimalkan pemanfaatan nutrien dari bahan baku pakan yang bervariasi kualitasnya, berbagai teknologi pakan terus dikembangkan, salah satunya melalui penggunaan enzim sebagai aditif dalam formulasi pakan unggas.

Penggunaan enzim dalam pakan sebenarnya bukanlah hal baru, namun semakin berkembangnya riset dan ketersediaan enzim yang lebih spesifik dan stabil membuat penggunaan enzim dalam pakan menjadi semakin populer. Berbagai penelitian membuktikan bahwa enzim mampu membantu memecah komponen-komponen kompleks dalam bahan pakan, sehingga nutrien dapat diserap secara lebih optimal oleh sistem pencernaan unggas. 

Untuk mendapatkan pemahaman lebih lanjut, Poultry Indonesia mewawancarai Legi O. Putra selaku Technology Application Specialist PT Cargill Indonesia secara tertulis pada Senin (23/6). Dalam kesempatan tersebut ia menyampaikan bahwa enzim adalah katalisator biologis yang berperan penting dalam proses pemecahan komponen pakan yang kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana dan lebih mudah dicerna oleh unggas.

“Enzim ini ibarat pisau khusus yang dapat memotong bahan pakan yang asalnya besar menjadi lebih mudah diserap oleh tubuh ayam. Tanpa penggunaan enzim dalam pakan, banyak nutrisi penting yang akan terbuang percuma lewat kotoran,” ungkapnya.

Ragam dan Manfaat Enzim

Di industri pakan, beberapa jenis enzim sudah umum digunakan karena fungsinya yang spesifik. Utamanya, enzim berperan dalam meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi dari bahan pakan, terutama ketika bahan baku yang digunakan memiliki kandungan anti-nutrisi atau struktur kompleks yang sulit dicerna secara alami oleh sistem pencernaan unggas. 

Fitase, misalnya, berfungsi melepaskan fosfor tersembunyi dalam bahan pakan seperti jagung dan dedak. Protease membantu mencerna protein dari bungkil kedelai, sementara xilanase dan amilase masing-masing bekerja pada serat dan pati. Tak ketinggalan, mananase digunakan untuk mengolah bahan seperti bungkil sawit. 

“Dengan penyerapan nutrisi yang lebih baik, formulator bisa menggunakan campuran bahan pakan yang lebih murah tanpa menurunkan kualitas produksi. Ditambah lagi, feses unggas menjadi lebih bersih karena fosfor dan nitrogen yang terbuang lebih sedikit, sistem pencernaan ayam juga lebih sehat dan rasio konversi pakan (FCR) akan semakin efisien” jelasnya. 

Dosis dan Faktor Penentu Efektivitas

Penggunaan enzim dalam pakan tentu tidak bisa sembarangan. Putra menyampaikan bahwa dosis ideal berkisar antara 350–1000 gram per ton pakan, tergantung pada jenis dan kualitas bahan baku. Namun, perlu diketahui juga bahwa efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain seperti pH saluran cerna, suhu, bentuk pakan (mash, crumble, pelet), teknik coating, hingga interaksi dengan mikroba. 

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com