Kemandirian bukan berarti menutup diri dari perdagangan global, melainkan memastikan bahwa setiap gejolak eksternal tidak langsung mengguncang dapur masyarakat.
Ketahanan pangan selalu menjadi fondasi membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Negara yang mampu menjamin ketersediaan pangan bergizi bagi rakyatnya akan memiliki modal kuat untuk membangun generasi sehat, produktif, dan kompetitif. Dalam konteks ini, protein hewani memegang peran paling strategis. 
Dengan menjaga ketersediaan protein hewani yang stabil, aman, dan terjangkau, artinya negara telah menyiapkan investasi jangka panjang bagi kualitas manusia Indonesia. Sebab, kandungan asam amino esensial, vitamin, serta mineral yang terkandung dalam protein hewani, seperti daging ayam dan telur, tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh sumber pangan lain. 
Contoh nyata bisa terlihat ketika dunia dihadapkan pada betapa rapuhnya sistem pangan dunia di masa pandemi Covid-19. Negara produsen ramai-ramai memilih mengamankan kebutuhan domestik mereka. Pembatasan ekspor, gangguan logistik, serta perubahan kebijakan perdagangan juga membuat akses terhadap produk pangan, termasuk protein hewani, menjadi terbatas. 
Ketika impor tersendat, negara yang belum mandiri dihadapkan pada risiko kelangkaan dan gejolak harga. Situasi tersebut menegaskan satu hal, bahwa ketergantungan berlebihan pada pasokan luar negeri adalah kerentanan yang tidak boleh diabaikan.
Kini, sekalipun lalu lintas perdagangan dunia sudah kembali lancar, tantangan belum sepenuhnya berkurang. Harga bahan pakan masih dipengaruhi pasar global. Perubahan iklim serta ketegangan politik memberi tekanan tambahan. Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap gizi semakin meningkat, namun daya beli dan akses tidak selalu merata. Dengan kata lain, kebutuhan protein hewani yang tumbuh belum tentu bisa diimbangi oleh dinamika produksi dan distribusi yang semakin kompleks.
Dalam lanskap tersebut, sektor unggas menempati posisi kunci. Unggas menjadi tulang punggung penyediaan protein hewani nasional. Siklus produksi yang pendek, produktivitas tinggi, dan keterjangkauan harga menjadikan daging ayam dan telur sebagai sumber protein utama bagi sebagian besar keluarga di Indonesia. 
Produk unggas juga dapat ditemukan di berbagai jenis pasar, baik di pasar tradisional maupun modern. Pengolahannya pun cenderung mudah dan diterima secara luas oleh lintas budaya. Tidak berlebihan jika sektor ini disebut sebagai penopang utama kemandirian protein Indonesia.
Meski demikian, tingkat konsumsi protein hewani masyarakat masih perlu ditingkatkan. Pola makan banyak keluarga di Indonesia masih didominasi karbohidrat, sementara telur dan daging belum menjadi menu rutin. 
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Pasca Panen pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.