Umur ayam juga menjadi patokan dalam menentukan kepadatan kandang
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Umur ayam juga menjadi patokan dalam menentukan kepadatan kandang. Angka patokan yang telah diutarakan oleh Jajat merupakan rasio kepadatan yang digunakan dari fase awal masa pemeliharaan 0-14 hari (brooder) sampai akhir fase grower (hari ke-28 ke atas). “Kisaran angka tersebut merupakan patokan kepadatan yang biasa digunakan dari fase awal masa pemeliharaan (brooder) hingga akhir fase grower atau pada minggu ke-4. Ketika memasuki masa panen raya atau periode finisher, maka yang dipakai adalah standar kapasitas kipas yang kira-kira untuk ayam dengan total bobot 25-30 kilogram per meter persegi. Jadi ketika memasuki periode akhir masa pemeliharaan, sebaiknya merujuk pada satuan kilogram,” jelas Jajat.
Saat ayam memasuki minggu ke-3 atau sudah mulai menginjak fase finisher, sebaiknya hitung kembali bobot badan per flock. Tujuannya ketika hasil perhitungan dari sampling rataan bobot badan di kandang diperkirakan melebihi kapasitas, maka manajer kandang sebaiknya memanen sebagian dari populasi. Harapannya dengan populasi yang sudah berkurang, dapat memberikan ruang bagi ayam yang tersisa untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan target akhir dari bobot badan hasil panen.
“Rata-rata kepadatan ideal di lapangan jika merujuk pada kondisi di atas, perlu dilakukan panen awal untuk mengurangi populasi ternak. Jika dihitung menggunakan rumus (kepadatan kandang) ternyata sudah memenuhi syarat untuk penjarangan kandang, maka sebaiknya manajer kandang mengajukan penjarangan. Tujuannya yaitu memberi ruang kepada ayam yang lain untuk dapat tumbuh sesuai dengan target bobot akhir panen,” kata Jajat.
Baca Juga: Proses Persiapan Panen dalam Kandang
Mengenai penjarangan, jika manajer kandang terlambat dalam melakukannya, sangat berisiko tinggi terhadap gangguan pertumbuhan bobot badan, ketika bobot badan terhambat, maka pakan yang diberikan kepada ayam menjadi tidak efisien. Jika dianalogikan, kandang yang terlalu padat akan menahan bobot badan pada angka tertentu, sedangkan pakan yang dikonsumsi terus bertambah. Pada akhirnya, FCR yang dihitung pada akhir masa pemeliharaan tidak sesuai dengan target FCR yang diharapkan.
“Kita harus cermat juga dalam melakukan penjarangan, ketika terlalu dini dalam melakukan penjarangan, apalagi jika terlalu banyak populasi yang dipanen pada umur kecil, berisiko sulit untuk mengejar rataan panen pada ukuran besar, karena memang untuk ayam ukuran besar terdapat kecenderungan harga yang lebih murah dibandingkan dengan ayam ukuran kecil,” jelasnya.
Dalam melakukan proses pemanenan ayam, peternak sebaiknya melihat juga kondisi harga di lapangan. Panen pada ukuran kecil mengakibatkan sulitnya peternak untuk mengejar target rataan bobot badan, namun jika harga di lapangan sesuai dengan margin yang ada, maka tidak ada salahnya bagi peternak untuk segera mengusulkan pemanenan lebih awal.
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi April 2020 dengan judul “Maksimalkan Produksi, Perhatikan Kepadatan Kandang”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153