Oleh : drh. Amira Nadia Prastuti, M.Sc.*
Taiwan tentu menjadi nama daerah yang cukup familier bagi kita. Negara yang mempunyai nama resmi Republik China (ROC) ini, terletak di Asia bagian Timur dan ibu kota negaranya di Taipei. Untuk wilayah Taiwan sendiri meliputi sebuah pulau yang terletak sekitar 160 km dari lepas pantai selatan China. Memang secara de facto negara dengan mata uang Taiwan Dollar (TWD) ini merupakan negara merdeka dan menjadi salah satu negara di dunia. Namun secara de jure, Taiwan hanya diakui sebagai negara merdeka oleh 23 negara di dunia, sehingga negara ini bukan negara yang merdeka seutuhnya dan lebih tepat disebut sebagai negara dengan pengakuan terbatas. Selain itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun tidak mengakui Taiwan sebagai sebuah negara. Dan di Indonesia, tidak terdapat Kedutaan Besar Taiwan, namun peran kedutaan besar digantikan dengan adanya Taipei Economic and Trade Office (TETO) yang berada di Jakarta dan Surabaya.

Kendati belum menjadi sebuah negara merdeka seutuhnya, namun geliat bisnis itik di Taiwan tak bisa dipandang sebelah mata.

Kendati belum menjadi sebuah negara merdeka seutuhnya, namun geliat bisnis perunggasan di Taiwan tak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih perkembangan bisnis bebek atau itik di negara ini. Masyarakat di sana mempunyai sejarah panjang dengan jenis unggas yang satu ini. Pasalnya budi daya itik merupakan sebuah usaha masyarakat Taiwan yang telah berlangsung sejak lama. Di mana negara yang juga dikenal dengan sebutan Negeri Formosa ini telah melakukan usaha budi daya itik sejak 300 tahun yang lalu dan memainkan peran penting dalam perekonomian pedesaan.
Dengan latar belakang tersebut, cukup beralasan apabila Taiwan menjelma menjadi salah satu negara yang mempunyai populasi itik terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization (2017) menyebutkan bahwa total populasi itik di dunia pada tahun 2017 mencapai 1,1 miliar ekor. Dari jumlah tersebut sekitar 80 % dari total populasi tersebut, tersebar di kawasan Benua Asia. Hal ini diperkuat oleh A. Jalaludeen and R. Richard Churchil dalam buku “Duck Production and Management Strategies” yang menjelaskan bahwa sebagian besar itik dipelihara di Asia (89,7%), diikuti oleh Eropa (6,5%), Amerika (2,3%), Afrika (1,4%) dan Oseania (0,1%).
Kemudian, di Taiwan umumnya itik dibudi dayakan sebagai penghasil daging dan telur. Namun, dalam dinamikanya, muncul beberapa diversifikasi jenis usaha itik di Taiwan, seperti pembibitan, peternakan itik pedaging, peternakan itik petelur, feedmill, unit hilirisasi dan pengolahan bulu.  Berdasarkan publikasi ilmiah yang ditulis oleh Huang, dkk pada tahun 2007 menyebutkan bahwa di Taiwan sekitar 35 juta itik disembelih per tahun. Merujuk pada data FAO (2019) menyebutkan bahwa Taiwan merupakan salah satu negara dengan produksi daging itik terbesar di dunia dengan total produksi mencapai 87.488 ton per tahun. Usaha peternakan itik pedaging ini umumnya memelihara itik bagal, pekin dan muscovy. Sedangkan sebagian besar peternakan itik di Taiwan berlokasi di daerah Yilan, Yunlin, Chiayi dan Taichung.
Perkembangan dari bisnis itik pedaging ini tak lepas dari kebiasaan masyarakat Taiwan dalam mengonsumsi daging itik. Di mana daging itik selalu dianggap sebagai makanan yang kaya protein, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, B1, B2 dan mioglobin. Secara khusus, daging ini dipercaya mengandung lebih banyak vitamin B1 dan B2 daripada daging sapi, babi, dan ayam. Selain itu, daging itik yang mempunyai tekstur empuk dan kenyal menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat di sana. Hal ini membuat banyak terciptanya berbagai produk kuliner olahan berbahan dasar daging itik, seperti daging itik asap, sop daging itik dan rolade itik panggang dan masih banyak lagi. Selain dinikmati oleh pasar lokal, produk daging itik dalam bentuk dingin dan beku dari Taiwan juga telah menjadi salah satu produk unggas utama yang diekspor ke Jepang.
Kemudian, masih dalam publikasi Huang dkk (2007) menyebutkan bahwa Taiwan mampu memproduksi sekitar 464 juta telur itik setiap tahunnya. Jenis itik petelur yang banyak dipelihara di Taiwan adalah Brown Tsaiya yang merupakan salah satu ras itik petelur tertinggi di dunia. Warna kulit telur Brown Tsaiya bervariasi dari putih, biru pucat hingga biru tua. Kemudian banyak telur itik yang diproses sebagai telur alkali dan telur asin. Selain dipasarkan di pasar domestik, telur olahan ini juga diekspor ke berbagai negara di dunia.
Berdasarkan laman https://www.poultryworld.net/ Amerika Serikat (AS) menjadi pasar ekspor terbesar untuk telur itik Taiwan, yang nilainya mencapai lebih dari setengah total ekspor telur itik Taiwan. Menurut data bea cukai AS yang dikumpulkan oleh Environment and Animal Society of Taiwan (EAST), pengiriman ke negara bagian California menyumbang 81,4% (1.379 ton) dari semua telur itik Taiwan yang diimpor ke AS dalam 5 tahun dari 2016 hingga 2020. Pada tahun 2020, setara dengan dua muatan kontainer telur itik Taiwan dibongkar di pelabuhan California per minggunya. Selain itu, Taiwan juga aktif mengekspor telur itik senilai NT$180 juta setiap tahun ke berbagai negara, seperti Kanada, Singapura, dan Jepang.
Tak hanya telur konsumsi, negara Taiwan juga telah melakukan ekspor telur tetas ke beberapa negara di Asia Tenggara. Selain itu pengolahan bulu itik juga merupakan usaha penting lainnya di Taiwan. Tai dan Tai (2001) melaporkan bahwa dengan teknologi pemrosesan, Taiwan telah mengekspor bulu bulu halus senilai USD 130 juta produk tahunan.
Isu kesejahteraan hewan
Telur itik telah lama menjadi salah satu makanan favorit di Taiwan. Biasanya masyarakat mengonsumsi telur itik sebagai acar, asinan, ataupun dalam produk makanan olahan seperti kue bulan. Seperti pada pangan lainnya, ternak yang menghasilkan telur ini tidak luput dari tren global peternakan terkait kesejahteraan hewan.
The Council of Agriculture statistics melaporkan bahwa pada tahun 2019, populasi itik petelur di Taiwan mencapai 2,16 juta, yang tersebar di sekitar 400 peternakan. Dari populasi ini, dihasilkan sekitar 400-500 juta telur per tahun dan menghasilkan pendapatan lebih dari USD$60 juta per tahun. Sebagian besar dari itik petelur ini dipelihara secara umbaran. Namun dalam dinamika nya, untuk meningkatkan produksi, banyak peternak yang beralih dengan menggunakan kandang baterai dalam usaha budi dayanya. Hal ini diperkuat dari data EAST, yang menyebutkan bahwa pada tahun 2019 sekitar 400.000 itik petelur (20%) dipelihara dengan kandang baterai.
Fenomena ini sontak memunculkan berbagai respon negatif dari beberapa negara. Melansir laman www.eurogroupforanimals.org menjelaskan bahwa pada Desember 2018, Eurogroup for Animals yang merupakan sebuah aliansi yang menaungi 70 organisasi perlindungan hewan dari 25 negara anggota Uni Eropa (UE), mengeluarkan pernyataan resmi yang memperingatkan bahwa telur itik Taiwan merupakan ancaman bagi standar kesejahteraan hewan UE dan bahkan kesehatan masyarakat. Hal ini merupakan respon dari permintaan Food and Drug Administration Taiwan kepada Komisi Eropa untuk diizinkan melakukan ekspor produk telur olahan Taiwan, termasuk produk telur itik ke UE.
Menyusul hal tersebut, pemerintah Taiwan pada tahun 2019 telah melarang penggunaan kandang baterai untuk itik petelur. Menurut https://www.poultryworld.net/, Taiwan menjadi negara pertama di dunia yang mengeluarkan larangan semacam ini untuk peternakan itik petelur. Di mana peternakan yang tidak mematuhi larangan tersebut, akan ditolak izin pendaftarannya. *Master of Science in Veterinary Medicine, National Pingtung University of Science and Technology, Taiwan
Artikel ini merupakan rubrik Internasional pada Majalah Poultry Indonesia edisi November 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com