POULTRYINDONESIA, Yogyakarta – Sinergi antar Kementerian dan Lembaga terkait merupakan sebuah kunci untuk mengurai benang kusut persoalan sektor perunggasan. Hal ini mencuat kala acara Rembuk Nasional yang mengangkat tema “Revitalisasi Peternakan Rakyat Ayam Petelur untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional,” di Auditorium Fakultas Peternakan UGM, Rabu (24/3).
Menanggapi keluh kesah yang disampaikan peternak, Nasrullah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH ) menjelaskan bahwa produksi telur nasional saat ini hanya surplus 11,5 % dan dari tahun ketahun sebesar 10-11 persen. Sehingga apabila dilihat dari sisi hulu hilirnya tidak ada masalah. Bahkan dengan surplus sebesar ini, sebenarnya merupakan angka yang rawan apabila terjadi outbreak di Indonesia.
“Secara nasional kita tidak ada surplus produksi yang berlebihan. Hanya saja penyebarannya tidak merata. Selain itu saat ini yang bermasalah adalah di rantai distribusi dan hilirisasi. Belum pernah ada harga jatuh di pasar, harga jatuh hanya terjadi di farm gate. Ini adalah PR kita bersama, kita harus kompak sebagai peternak, asosiasi maupun koperasi. Kalau peternak kompak dengan harga maka hal ini tidak akan terjadi,” tegasnya.
Nasrullah melanjutkan bahwa pihaknya telah menghitung pemasukan GPS layer, dan hasilnya belum mengindikasikan over seperti yang terjadi di broiler. Untuk itu,  ketika ada tuntutan cutting PS, yang ditakutkan adalah kerawanan apabila terjadi outbreak di Indonesia. Selain itu Indonesia pada dasarnya tidak mempunyai cadangan telur sama sekali. Akan tetapi disisi lain, terdapat  11 negara mencoba untuk memasukkan telur ke Indonesia, namun tidak ditindaklanjuti untuk menjaga eksistensi peternak.
Baca Juga : Meraup Untung dari Bisnis Budidaya Ayam Kampung
“Secara produksi kita masih rawan, dan yang harus diperhatikan adalah bagaimana mengatur kelebihan yang terjadi. Selain itu kita harus sepakati dan sadari bahwa memang kita tidak mempunyai data populasi ayam yang riil. Untuk itu hari ini kita harus berkomitmen untuk pelaksanaan pendataan yang serius dengan dukungan semua pihak. Saya menegaskan  bahwa pemerintah berjanji untuk selalu melindungi peternak rakyat,” tegas Nasrullah.
Hal senada disampaikan oleh Kepala Badan Pangan Nasional, Arif Prasetyo Adi. Menurutnya, apabila mengacu pada data Prognosa Neraca Pangan Nasional 2022 kelebihan produksi telur sebesar 615 ton bukanlah angka yang terlalu besar. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah dengan peningkatan konsumsi telur nasional, sehingga peternak dapat bekerja dengan pasar yang jelas. Jangan sampai peternak bersikukuh untuk terus berproduksi tapi tidak mempunyai pasar yang jelas.
“Saya ingin ini disinergikan dengan program pemerintah. Seperti program dari Kemensos  yang bisa disinergikan dengan peternak. Begitupun program pengentasan stunting.  Untuk itu kita harus jalin kerja sama. Surplus 11% ini bukan sebuah hal yang berat, asalkan ada kerjasama dari berbagai kementerian dan lembaga. Saya disini bersama peternak, kalau memang (aturan yang dilaksanakan) benar tolong didukung, kalau salah tolong dikoreksi,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur utama PT Berdikari, Harry Warganegara menjelaskan bahwa permasalahan ini hampir terjadi di semua komoditi pangan, baik cabai, ayam, telur, beras dan lainya. Namun yang unik pada telur adalah sifat mudah rusak sehingga umur simpannya pendek. Untuk itu muncul beberapa wacana terkait tepung telur sebagai buffer stock. Namun dari berbagai kajian pabrik tepung telur ini masih kalah bersaing dengan produk tepung telur impor, kecuali pemerintah bisa menghentikan impor tersebut. 
“ Untuk itu, dalam situasi seperti ini, kita harus terus bersinergi. PT Berdikari hadir sebagai mitra peternak, bukan saingan. Kami mecoba bergerak di hulu, peternak ditengah dan kita diujungnya lagi atau dihilirnya. Untuk saat ini kami bersama Badan Pangan Nasional sedang menggodok sisi hilir dan infrastruktur nya sudah disiapkan melalui ID food,” papar Harry.
Pada kesempatan yang sama Musdhalifah Machmud, selaku Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kemenko Perekonomian menjelaskan bahwa di tahun 2022 pemerintah telah menyiapkan 50.000 ton jagung  sampai bulan Juni yang akan dipersiapkan untuk kebutuhan peternak rakyat.  Dirinya juga menegaskan supply bahan baku akan dipastikan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang melalau  PT Berdikari, dan Ditjen PKH. Selain itu, dirinya juga menyinggung terkait industri hilir komoditi telur ini.
“Pembangunan industri untuk memanfaatkan telur yang oversupply merupakan salah satu langkah yang sangat strategis. Dorongan untuk investasi industri pengolahan tepung telur terus dicanangkan. Kementerian perindustrian siap mendorong investasi pengolahan telur. Peternak juga diharapkan mendukung program yang ada,” tegasnya.