Oleh: Mikael Sihite, S.Pt., M.Si*

Probiotik dapat mengurangi pembentukan gas-gas berbahaya sisa metabolisme ternak broiler seperti amonia (NH3) yang merupakan salah satu penyumbang pemanasan global dengan mengubah metabolisme pada saluran pencernaan. Probiotik dapat meningkatkan pencernaan dan penyerapan nutrisi, sehingga sisa nutrisi tidak tercerna tidak dikonversi oleh mikroba patogen menjadi gas berbahaya. Probiotik juga memiliki kemampuan menekan pertumbuhan mikroba patogen di dalam saluran pencernaan, sehingga akumulasi mikroba patogen berkurang.

        Peternakan ayam broiler juga memiliki porsi besar dalam peningkatan jumlah gas rumah kaca di dunia. Meskipun kita lebih akrab dengan pendapat yang mengatakan bahwa asap pembakaran pabrik dan asap kendaraan di jalanan sebagai penyebab pemanasan global. Namun, perlu diketahui bahwa peternakan adalah salah satu industri penyumbang gas rumah kaca terbesar. Jika metana dari ternak ruminansia lebih dikenal sebagai limbah peternakan penyumbang gas rumah kaca, maka perlu diketahui bahwa peternakan ayam broiler juga menghasilkan gas berbahaya yaitu amonia yang bersifat toksik pada ternak dan juga manusia.

Amonia dilaporkan sebagai prekursor pembentukan PM2.5 (Particulate Matter atau akrab disebut Particle Pollution) yang berbahaya bagi lingkungan, bisa membentuk hujan asam dan merusak ekosistem makhluk hidup, serta bersifat karsinogenik dan menyebabkan kanker paru-paru jika terhirup manusia. Emisi NH3 dari industri pertanian (termasuk peternakan) dilaporkan menyumbang sekitar 50% PM2.5 di Eropa yang memiliki rerata produksi ayam broiler 11,06 juta ton (USDA, 2023), tetapi angka tersebut merupakan akumulasi produksi daging broiler dari seluruh negara-negara di Eropa, dengan produksi tertinggi dari negara Polandia yaitu sebesar 2,5 juta ton. Sementara itu, dalam perhitungan per negara, Indonesia masih termasuk negara penghasil daging broiler yang tinggi. Indonesia yang pada tahun 2022 memiliki populasi 3.168.325.176 ekor dan produksi 3.997.652,70 ton (tahun 2023) (Data BPS) tentu memiliki porsi dalam menghasilkan amonia (NH3) pada lingkungan. Hal tersebut seharusnya juga menjadi “food for thought” bagi Indonesia untuk ikut serta dalam penanggulangan dampak amonia bagi lingkungan.

            Selain berbahaya untuk lingkungan dan manusia, amonia juga dapat berakibat buruk pada tingkat performa ayam broiler. Beberapa penelitian tentang dampak amonia terhadap unggas telah dilaporkan sejak sekitar 40 tahun yang lalu. Valentine (1964) bahkan telah melaporkan adanya penurunan laju pertumbuhan dan peningkatan FCR broiler jika terpapar amonia berkisar 60-70 ppm udara kandang. Selain dampak pada performa pertumbuhan, sebenarnya dampak pertama amonia adalah menyerang saluran pernapasan. Seperti dilaporkan oleh Oyetunde, dkk. (1978), terdapat perubahan mikroskopis pada trakea dan paru-paru unggas yang terpapar amonia pada udara kandang. Penurunan performa unggas pedaging ini tentu menjadi hal yang tidak diinginkan oleh para pengusaha unggas pedaging.

Probiotik dapat didefinisikan sebagai mikroba hidup yang dapat memberikan manfaat kepada inangnya dengan memengaruhi keseimbangan mikroorganisme di dalam saluran pencernaan. Dari definisi tersebut, diketahui bahwa probiotik tidak harus selalu merupakan bakteri, golongan jamur atau fungi juga bisa menjadi probiotik. Probiotik dapat memengaruhi kinerja pencernaan dan penyerapan, meningkatkan imunitas inangnya, meningkatkan performa pertumbuhan, hingga bobot badan ternak saat panen.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com