Pemanasan global diakibatkan penggunaan energi fosil yang berlebihan dan juga akibat proses produksi yang menggunakan bahan baku yang dihasilkan dengan tidak memperhitungkan pengeluaran karbon dioksida ke lingkungan sekitar. Peternakan dilaporkan menjadi salah satu penyumbang gas rumah kaca (GRK) yang terbesar dalam pertanian, meskipun hal ini diakibatkan oleh ternak ruminansia yang dipelihara negara-negara dengan populasi ternak sapi yang besar. Efek GRK dari ternak ruminan ini disamping dari pelepasan CO2 dalam proses metabolisme tetapi juga akibat pelepasan gas metana dari fermentasi rumen dan gas metana sangat berperan dalam perusakan ozon di langit sehingga sinar matahari dapat menembus bumi dan mengakibatkan pemanasan bumi. 

Pemanasan global menjadi topik yang banyak dibicarakan dalam dekade terakhir ini karena pemanasan global mengakibatkan implikasi yang signifikan. Tidak hanya terhadap lingkungan, tetapi juga dalam produksi ternak.

Di Indonesia, jumlah sapi dan ternak ruminan lainnya masih relatif kecil sehingga kepadatan ternak juga masih relatif rendah dibanding negara lain seperti di Belanda atau Selandia Baru, sehingga kontribusi terhadap pemanasan global masih relatif kecil. Akan tetapi ternak unggas yang jumlahnya banyak dapat memberikan kontribusi terhadap pemanasan global akibat dari pelepasan karbon baik dari penggunaan energi fosil untuk proses produksi maupun dari ransum yang dicerna dan dimetabolisme dalam tubuh ternak.   
Apa itu Carbon Footprint (Jejak Karbon)
Di dalam proses produksi barang maka dibutuhkan energi untuk mengolah bahan menjadi suatu produk. Penggunaan sumber energi seperti bahan bakar minyak (BBM) akan melalui proses pembakaran dari hidrokarbon (BBM) menjadi air (H2O) dan CO2 dan hasil pembakaran ini dilepaskan ke udara yang pada akhirnya mengakibatkan akumulasi CO2 dan pemanasan global. Dalam proses metabolisme pakan dalam tubuh ternak, zat gizi baik itu karbohidrat, lemak maupun protein dalam proses metabolisme akan menghasilkan CO2 yang dilepaskan melalui pernapasan. Selama proses produksi bahan pakan, digunakan berbagai teknologi pertanian yang dapat menghasilkan CO2 atau pengolahan tanah yang akan mendorong untuk melepaskan CO2 ke udara. Kesemuanya ini mengakibatkan pelepasan karbon ke udara. 
Jejak karbon adalah jumlah karbon atau gas emisi yang dihasilkan dari berbagai kegiatan (aktivitas) manusia pada kurun waktu tertentu. Jejak karbon biasanya diukur dari jumlah setara CO2 (CO2 Equivalent) yang dihasilkan selama proses produksi dalam suatu rantai pasok yang terjadi.  CO2 Eq. Tidak hanya diperoleh dari proses pembakaran atau metabolisme, jejak karbon juga memperhitungkan adanya bahan yang terbuang atau yang didaur ulang karena bahan tersebut mempunyai jejak karbon ketika bahan awalnya diproduksi. Jadi jejak karbon akan menghitung total semua gas rumah kaca (GRK) termasuk CO2 maupun metana yang diakibatkan oleh tindakan kita.
Dalam pemeliharaan ternak, jejak karbon dapat dihitung dari jumlah pakan yang digunakan, penggunaan energi baik untuk pemanas maupun listrik maupun kipas. Pengeluaran kotoran karena kotoran yang dikeluarkan dapat mengakibatkan pencemaran udara ketika dibuat dan digunakan pupuk. Ketika ayam diangkut maka diperlukan alat angkut yang menggunakan BBM, demikian juga ketika ayam dipotong dan diolah menjadi daging yang siap makan, maka diperlukan energi untuk mengolahnya dan memberikan nilai jejak karbon. *Konsultan teknis USSEC
 
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com