isnis perunggasan selalu dibilang seksi, melihat dari harga komoditasnya yang bersifat fluktuatif. Seperti halnya pada supply-demand perunggasan baik broiler dan layer di sepanjang tahun 2023. Potret broiler sepanjang tahun 2023 tidak bisa dikatakan menguntungkan. Pasalnya, Harga Acuan Perbadan (HAP), masih tidak relevan. Kondisi yang tidak mengenakkan secara terpaksa harus dirasakan oleh peternak broiler, dimana sepanjang tahun 2023 mereka harus menelan kerugian. Pun, saat kondisi untung, momen tersebut tidak bertahan lama.
Kondisi yang cukup berat bagi para pelaku usaha bisnis perunggasan di tahun 2023. Tahun 2024 masih menjadi misteri. Walau begitu, momen besar yang terjadi pada tahun ini seperti Pemilu setidaknya bisa dijadikan sebagai salah satu harapan para pelaku usaha bisnis perunggasan.
Disisi lain, cukup menggembirakan bagi peternak layer. Harga jual telur nasional berada di atas HPP, walaupun kondisi ini tidak sepenuhnya dirasakan oleh peternak layer yang berada di Pulau Jawa sebagai penyumbang sekitar 60% dari total produksi telur nasional. Namun setidaknya, peternak layer tetap berada selangkah lebih baik dibandingkan dengan saudaranya.
Berbagai tantangan bisnis perunggasan yang terjadi tahun 2023 dibahas tuntas. Fenomena el nino merupakan salah satunya. Fenomena ini memberikan dampak pada kelangkaan jagung lokal yang mengakibatkan harga pakan kian meninggi. Mendorong pemerintah mengeluarkan kebijakan impor jagung dengan target awal membondong sebanyak 500 ribu ton. Realisasinya, hanya 20 ribu ton jagung yang diserap oleh Indonesia. Impor jagung yang ditujukan kepada peternak ini, menurut beberapa narasumber, belum merata diterima oleh semua peternak, sehingga mereka yang belum mendapatkan masih memburu jagung secara liar dengan harga yang mahal.
Baca juga : Potret Milenial dalam Wirausaha Perunggasan Nasional
Belum lagi jika berbicara mengenai daya beli masyarakat Indonesia terhadap produk unggas, dimana hal tersebut hasil dari dampak ekonomi makro yang dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dunia. Ditengah-tengah ketegangan perang Russia-Ukraina dan perang dagang AS-Tiongkok, muncul konflik baru Palestina-Israel, yang diperkirakan akan menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Kondisi ini menyebabkan harga bahan bakar dan bahan pokok lainnya kian meningkat. Masyarakat yang berada di lapisan ekonomi menengah ke bawah paling merasakan dampaknya. Pilihan untuk membeli produk unggas mungkin menjadi level sekian di skala prioritas kebutuhannya.
Disamping itu, kita baru saja menginjakkan kaki di tahun 2024 yang spesial, dimana tahun ini merupakan tahun politik nasional. Pemilihan Presiden 2024, gelaran yang diadakan selama 4 tahun sekali ini menjadi alasannya. Terlebih lagi dengan adanya Pemilihan Legislatif disaat yang bersamaan dengan Pilpres, kemudian Pemilihan Kepala Daerah di bulan November 2024. Secercah harapan muncul, momen tersebut dijadikan bahan bakar untuk mendongkrak gairah peternak. Adanya kegiatan-kegiatan kampanye dan program penguatan pengentasan stunting yang dilayangkan dari berbagai calon pemimpin rakyat dipercaya dapat meningkatkan penyerapan daging dan telur ayam. Dengan meningkatnya penyerapan, mereka para pelaku usaha on farm mengharapkan kestabilan harga jual produknya.










