Seorang anak sedang mengumpulkan telur pada kandang layer
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pakan merupakan salah satu komponen penting yang menentukan efisiensi produksi suatu peternakan. Untuk mencapai efisiensi tersebut, US Soybean Export Council (USSEC) berinisiatif mengadakan webinar teknis berjudul ‘Virtual Be-spoken for Self Mixing Layer Farmers’ melalui aplikasi Zoom, Senin (10/8).
Webinar tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada peternak layer bagaimana cara untuk mencapai ongkos produksi pada ayam petelur dengan harga pakan Rp4500 per kilogramnya, khususnya bagi peternak layer di Kalimantan.
Ibnu Edy Wiyono selaku Moderator webinar mengatakan bahwa untuk mencapai ongkos produksi Rp4500 per kilogram, tantangannya cukup banyak salah satunya harga bahan pakan yang berfluktuasi sesuai dengan kondisi pasar.
Berdasarkan data bahan pakan utama per minggu yang dimiliki oleh USSEC menunjukkan harga jagung yang sempat naik, namun turun setelah panen sampai saat ini. Demikian dengan harga bungkil kedelai dan Full Fat Soybean (FFS) meningkat signifikan dari bulan April dan Mei, namun sekarang sudah mulai turun.
Oleh karenanya, Ibnu menilai bahwa pengendalian dari faktor internal yaitu memilih bahan pakan yang baik dan berkualitas dan bernutrisi dapat membantu untuk mencapai ongkos produksi tersebut.
Budi Tangendjaja selaku Feed Technical Consultant yang menjadi pemateri pada webinar teknis tersebut mengatakan bahwa target ayam petelur harus semakin besar dan harus menjadi self-mixing untuk menekan biaya produksi.
Baca Juga: Dampak Pengunaan Full Fat Soybean Meal Pada Pakan Unggas
Pada prinsipnya agar memiliki daya saing peternakan harus memerhatikan beberapa hal seperti biaya pakan, tenaga kerja, iklim usaha yang baik, terintergrasi secara vertikal, serta penerapan teknologi yang maju.
“Teknologi ayam petelur di dunia ini sudah berkembang sedemikian rupa dan bagi pemelihara ayam petelur harus selalu menerapkan teknologi yang lebih baru karena ayam petelur berubah setiap tahunnya dan diciptakan supaya makin lebih efesien dalam menghasilkan telur,” jelasnya.
Budi menjelaskan bahwa yang dimaksud dari terintergrasi vertikal yaitu artinya dari awal input sampai penjualan telur harus dikontrol dalam suatu rantai pasok oleh peternak agar lebih efisien.
“Pada konsep ini semua tahap pada rantai pasok berbicara mengenai biaya sehingga kita dapat memperoleh keuntungan jika kita dapat mengontrol seluruh biaya tersebut,” ucapnya
Berkenaan dengan penyusunan ransum, Budi mengatakan bahwa konsumsi pakan petelur harus dicermati dan harus pas, karena selisih beberapa gram yang diberikan dalam pakan ayam berkontribusi pada biaya produksi. Tambahan lainnya yaitu jika asupan gizinya juga harus pas sesuai dengan kebutuhan serta perlu adanya penyesuaian terhadap kondisi lingkungan pemeliharaan.
Di pengujung pemaparannya, Budi Tangendjaja memberikan demonstrasi kepada peserta bagaimana cara untuk menekan biaya produksi telur secara keseluruhan serta agar ayam petelur dapat berproduksi lebih efisien dalam bentuk formulasi pakan menggunakan aplikasi Microsoft Excel.