Telur sebaiknya diolah dengan cara direbus Untuk mengoptimalkan manfaat gizi di dalamnya
Telur merupakan sumber protein hewani yang paling mudah terjangkau masyarakat luas. Protein hewani sangat penting, terutama untuk anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Telur adalah protein hewani yang termurah, kaya akan gizi, serta mengandung semua vitamin, kecuali vitamin C. Sedemikian lengkapnya zat gizi yang terkandung, telur sering disebut dengan “Wonder Capsul” atau Kapsul Ajaib. Telur memiliki rasa yang enak, mudah diolah, harga terjangkau, dan mudah didapat.

Konsumsi protein hewani yang berasal dari ayam dan telur berperan penting untuk kesehatan dan meningkatkan kecerdasan bangsa, namun jangan lupakan faktor keamanan pangan produk telur, demi menjaga kesehatan manusia yang mengonsumsinya.

Berdasarkan hal itulah, sebaiknya telur dimakan utuh untuk keseimbangan zat-zat yang terkandung dalam tubuh. Para ahli kesehatan memiliki beberapa anjuran dalam konsumsi telur. Balita sebaiknya mengonsumsi 1 butir setiap hari, remaja aktif 2 butir/hari, orang dewasa minimal 3 butir/minggu, serta wanita hamil dan menyusui minimal 2 butir/hari untuk mendukung pertumbuhan janin dan pembentukan Air Susu Ibu (ASI).
Jika masyarakat Indonesia dapat meningkatkan konsumsi protein hewani seperti telur, maka permasalahan anemia dan pertumbuhan dapat lebih mudah diatasi. Namun dalam mengonsumsi telur, harus selalu diingat faktor keamanan pangannya, terlebih telur termasuk dalam kategori perishable product (mudah rusak). Hal ini dikarenakan di dalam telur kaya akan zat gizi yang berarti pula rentan terhadap kontaminasi bakteri berbahaya maupun kasus cemaran dioksin pada telur yang terjadi di Jawa Timur pada beberapa waktu yang lalu. Oleh karena itu faktor ketertelusuran darimana telur itu berasal, dan siapa produsen telur tersebut, adalah sangat penting untuk ditekankan dalam hal ini.
Menghindari cemaran Salmonella
Bakteri salmonella terkadang mencemari telur, namun hal itu jangan sampai menghalangi dalam mengonsumsi sumber protein kaya gizi ini. Untuk menghindari keracunan akibat makan telur yang terkontaminasi Salmonella, maka pilihlah telur yang masih segar, dengan kulit yang utuh dan tidak retak. Bakteri salmonela yang pada umumnya berasal dari kotoran ayam akan berkembang dengan cepat pada suhu ruang. Antisipasi atas hal itu, segera setelah belanja telur, masukkan ke dalam lemari pendingin, namun jika ada kotoran yang menempel, bersihkan terlebih dulu korotan tersebut agar tidak mencemari makanan lain dalam kulkas.
Baca Juga: Usaha Surveilans dan Keamanan Pangan Asal Unggas di Selandia Baru
Teknik menyimpan telur yang baik dalam kulkas adalah dengan diletakkan pada karton atau pembungkus wadah telur, dan letakkan pada bagian terdingin dalam kulkas dengan suhu di bawah 5 0C. Hal yang patut diingat, penyimpanan telur yang benar adalah maksimal tiga sampai lima minggu saja, sehingga disarankan dalam membeli telur di pasar, sesuai kebutuhan saja sehingga tidak terlalu banyak menumpuk telur di dalam kulkas.
Saran lain menghindari Sallmonela adalah jangan mengonsumsi telur yang sudah pecah, karena telur seperti itu sangat rentan terkontaminasi Salmonella. Selanjutnya, untuk membunuh kuman-kuman berbahaya, telur harus dimasak pada waktu yang sesuai dengan waktu yang tepat. Masaklah telur dengan cara dipanaskan hingga bersuhu minimal 72 0C selama minimal 4 menit. 
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “Menjaga Keamanan Pangan Produk Telur”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153