Oleh : Ir. Don Purjono Utoyo, MBA*
Bahan pangan seperti tempe, tahu, telur dan daging ayam merupakan sumber asupan protein yang penting bagi seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Hal ini  dikarenakan harganya yang relatif terjangkau dan tersedia hampir di seluruh pelosok tanah air. Terlebih pada masa pandemi COVID-19 ini, bahan pangan sumber protein tersebut sangat dibutuhkan untuk menjaga kebugaran tubuh masyarakat.

Dalam upaya peningkatan konsumsi, semua stakeholder perunggasan Indonesia harus semakin efisien, inovatif dan kreatif dalam mempromosikan produk unggulannya. Dalam hal ini media juga harus ikut proaktif  dalam upaya promosi produk perunggasan.

Namun dalam pemenuhan bahan pangan tersebut, penulis berpendapat bahwa ketergantungan akan impor merupakan sebuah kendala tersendiri yang harus dihadapi. Negara Indonesia masih harus  mengimpor bahan baku produksi seperti  jagung, kedelai dan turunannya (DDGS, CGM, SBM),  MBM, sumber protein, kalsium dan phospor dengan jumlah yang cukup besar. Dalam pasar global, harga bahan baku tersebut cenderung mengalami kenaikan. Dengan juga adanya fenomena kenaikan nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS, maka dapat  menyulitkan para pembuat atau pedagang tempe dan tahu, serta para peternak ayam.
Alangkah baiknya apabila semua komponen dapat bersinergi secara “all-out”, menyeluruh dan bersama-sama mengatasi persoalan yang terjadi, agar tidak melangkah keliru melewati “jalan pintas yang tidak pantas”. Dalam hal ini penulis mencontohkan seperti kebijakan cutting & pemangkasan, terus berulangnya demonstrasi dan lain sebagainya. Lebih lanjut 5P (Pemerintah, Peneliti, Publik, Pelaku usaha dan Pers) harus bahu-membahu dalam mengembangkan perunggasan nasional. Produk perunggasan, diharapkan mampu mencukupi kebutuhan pangan asal protein hewani (telur dan daging)  secara cepat bagi penduduk Indonesia di kala pandemi COVID-19 ini.
Baca Juga: Ahli Gizi Sebut Pangan Berkualitas Tingkatkan Imun di masa Pandemi
Swasembada pada komoditas telur dan daging ayam harus tetap dijaga dan diatur  ke depannya. Aset perunggasan yang senilai lebih dari ± Rp150 triliun dengan revenue sekitar Rp 450 triliun menjadi peluang yang  menarik bagi para investor. Selaras dengan hal tersebut, nilai Investasi pada bidang perunggasan pun cenderung terus membesar, sedangkan permintaannya masih pasang surut. Pasalnya konsumsi masyarakat di Indonesia masih tergolong rendah dan jauh dibawah USA, Brasil, Malaysia dan beberapa negara lain. Hal ini akan menimbulkan  persaingan usaha yang semakin tajam antar para pelaku, di antaranya perusahaan dengan  peternak kecil, peternakan mitra dengan  peternakan mandiri, perusahaan besar dengan perusahaan kecil, perusahaan besar dengan perusahaan besar serta produk nasional dengan produk impor dari negara lain yang berupaya keras masuk ke Indonesia.
Selain itu, penulis berpendapat bahwa pemerintah tidak  perlu ikut masuk terlalu jauh dalam urusan bisnisnya. Serahkan urusan bisnis kepada swasta dan peternak. Pemerintah cukup menjadi regulator dan membantu dalam hal insentif bagi pelaku usaha, misalnya subsidi bunga perbankan untuk kandang close house, RPA, dan cold storage. Sebagai contoh, di beberapa negara tetangga, peternak yang membuat kandang closed house akan mendapatkan bantuan dari pemerintah, seperti skim kredit di Malaysia 3%,  Thailand 2% serta dibuatkan akses pendukung, misal jalan, jembatan, suplai air serta listrik. Hal ini akan membuat investasi berjalan secara modern, sehingga manajemen biaya rendah, efisiensinya tinggi dan daya saing meningkat. Dengan langkah tersebut, pemerintah akan mampu menjaga ketersediaan dan kestabilan pangan, sehingga keuntungan juga akan kembali ke negara  melalui  pendapatan pajak dan lainnya.  
Di sisi lain dalam upaya peningkatan konsumsi, semua stakeholder perunggasan Indonesia harus semakin efisien, inovatif dan kreatif dalam mempromosikan produk unggulannya. Dalam hal ini media juga harus ikut proaktif  dalam upaya promosi produk perunggasan. Sebagai Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia, penulis menegaskan bahwa di masa seperti ini ketersediaan telur dan daging ayam perlu terus dijaga dan ditingkatkan.*Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2020 dengan judul “Menjaga Ketersediaan Pangan Perunggasan di Era Pandemi COVID-19”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153