Peternak haruslah mengupayakan tindakan antisipasi terhadap suhu udara yang ekstrim di siang dan malam hari pada musim kemarau untuk menghasilkan panen yang maksimum.
Oleh : Domi Sattyananda, S.Pt*
Indonesia terletak di daerah khatulistiwa yang notabene memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan penghujan. Secara otomatis, kegiatan budi daya di negara yang memiliki dua musim juga akan berbeda dengan pemeliharaan di negara dengan empat musim. Tantangan yang dihadapi oleh negara dengan dua musim akan juga pastinya berbeda. Mengingat suhu yang hangat sepanjang tahun merupakan kondisi yang sangat ideal bagi mikroorganisme patogen, maupun binatang pengganggu untuk hidup dan berkembang.

Musim kemarau identik dengan suhu yang tinggi di siang hari namun akan terjadi penurunan suhu yang ekstrim di malam hari. Oleh karena itu, perlu adanya penanganan dan antipasi untuk menjaga agar hasil panen tetap maksimal.

Unggas merupakan hewan berdarah panas, artinya ia memiliki kemampuan untuk mengatur kestabilan suhu dari waktu ke waktu. Akibat sifat tersebut, maka peternak harus mengetahui terlebih dahulu berapa sebetulnya suhu ideal yang diinginkan oleh ayam. Thermoregulator atau pengatur suhu tubuh terletak pada otak bagian belakang, bertanggung jawab merespon keadaan lingkungan yang nantinya akan erat kaitannya dengan tingkah laku ternak itu sendiri. Sebagai contoh, unggas yang merasa terlalu panas akan lebih banyak minum dan melakukan panting.
Baca Juga : Perbedaan Perlakuan Sirkulasi Udara Kandang Ayam
Saat musim panas, ayam akan rentan terkena cekaman panas atau heat stress, yakni sebuah kondisi di mana ayam sulit melepaskan kalor yang ada di dalam tubuh mereka ke lingkungan. Kondisi ini jika dibiarkan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan penurunan produksi yang signifikan bahkan kematian. Banyak sekali faktor-faktor yang menyebabkan cekaman panas pada ayam seperti sirkulasi udara yang kurang baik, kepadatan kandang yang cukup tinggi, hasil metabolisme dari pakan yang tinggi energi, konstruksi kandang, hingga litter yang basah. Berbagai macam hal tersebut jika dibiarkan akan memicu terjadinya heat stress.*Wartawan Poultry Indonesia
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi November 2019 dengan judul “Menjaga Performa di Musim Kemarau”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153