Hens in factory, Chicken in cages
Oleh: Mohammad Fadli, S.Pt*
Populasi ayam petelur di Indonesia pada tahun 2022 menurut Badan Pusat Statistik mencapai jumlah sebanyak 378.590.549 ekor. Hal ini seiring dengan peningkatan konsumsi telur masyarakat Indonesia, sekaligus menjadi potensi terhadap peningkatan jumlah peternak  setiap tahunnya. Berdasarkan fakta tersebut, maka dapat diketahui bahwa sektor peternakan ayam petelur masih menjadi primadona bagi para peternak di Indonesia. Baik peternak kecil maupun peternak berskala besar saling beradu untuk mencapai produksi optimal serta berupaya untuk dapat mempertahankan produksi yang baik dalam jangka waktu yang panjang.

Salah satu faktor utama baik atau tidaknya kualitas produksi ayam petelur ditentukan oleh 18-19 minggu pertama dalam manajemen pemeliharaan ayam.

Untuk itu, peternak perlu memperhatikan manajemen dalam pemeliharaan ayam petelur dari berbagai aspek, mulai dari pakan, kandang, penyakit, tata cara pengobatan, obat-obatan ternak, sifat genetiknya, asal usul ternak, vaksinasi dan sebagainya. Penulis menyoroti, terdapat salah satu aspek yang sering diabaikan untuk mencapai target produksi yang optimal yang berasal dari manajemen pemeliharaan pullet yang belum optimal. Kesadaran peternak dalam menanggapi pentingnya manajemen pullet yang masih rendah menyebabkan berbagai permasalahan yang akan datang di kemudian hari pada ayam saat fase bertelur.
Fase perkembangan dari DOC hingga pullet
Puncak produksi, kestabilan produksi, lamanya produksi, ukuran telur hingga kualitas kerabang dapat dilihat dari bagaimana manajemen pemeliharaan DOC dan pullet sebelum fase bertelur. Dimana untuk mencapai hal itu, peternak perlu melewati tahap-tahap penting pemeliharaan DOC dan pullet yang mempunyai pengaruh langsung terhadap produktivitas masa depan dan profitabilitas agribisnis peternakan tersebut.
Ketika DOC baru tiba di kandang, maka pakan dan air harus tersedia agar DOC dapat segera mengonsumsinya. Sementara itu, suhu juga perlu diatur dengan tepat agar tercipta kenyamanan pada anak ayam. Sumber panas tambahan saat masa brooding, dapat berasal dari gas brooder unggas atau arang/briket.
Tujuan utama selama masa brooding adalah untuk proses pertumbuhan yang pesat hingga mencapai target bobot badan pada umur 5 minggu, keseragaman yang baik sejak awal dan mempertahankan excellent livability. Dari DOC hingga pindah kandang, ayam akan tumbuh cepat, dan perkembangan organ terjadi pada berbagai umur. Kurangnya pertumbuhan pada salah satu tahap pertumbuhan dapat berdampak buruk pada kualitas pullet saat umur 17 minggu. Setiap keterlambatan pertumbuhan pada umur 4-5 minggu, akan tercermin pada penurunan bobot badan pada umur 16 minggu dan kemudian pada performa produksi, terutama pada rata-rata berat telur.
Perlu diketahui bahwa dua ekor pullet dengan bobot badan yang sama belum tentu mengembangkan komposisi tubuh yang sama, semua bergantung pada kurva pertumbuhannya. Kurva pertumbuhan yang baik menghasilkan perkembangan pullet yang baik. Pertumbuhan dan perkembangan ayam petelur dibagi dalam beberapa tahapan. Pertama, 3 minggu awal, dikhususkan untuk perkembangan pesat organ saluran pencernaan dan sistem kekebalan tubuh. Kemudian tahap, dari minggu ke 3 hingga minggu ke 6, kerangka dan otot berkembang pesat. Bobot badan pada umur 5 atau 6 minggu merupakan penentu kualitas ayam dara yang paling penting. Keterlambatan pertumbuhan apapun pada tahap ini berbahaya bagi ayam karena akan berdampak buruk pada kualitas ayam dara dan komposisi tubuh, yang pada akhirnya akan berdampak negatif terhadap performa ayam.

 

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com