POULTRYINDONESIA, Jakarta – Berbicara kasus koksidiosis pada unggas memang tak pernah habis. Serangan protozoa dari genus Eimeria ini masih menjadi ancaman nyata pada proses budi daya perunggasan. Hal ini mengemuka dalam acara Poultry TechniClass Series #11 yang mengangkat tema “Menangkis Ancaman Nyata Koksidiosis” secara dari melalui aplikasi Zoom, Kamis (11/4).
Dalam materinya Prof. drh. Charles Rangga Tabbu, M.Sc., Ph.D., selaku Ahli Patologi Veteriner, menyampaikan bahwa koksidiosis merupakan penyakit asal protozoa yang mudah menular. Koksidiosis ini menyebabkan kerusakan pada usus mulai dari bagian depan, hingga belakang, dimana peran usus dalam saluran pencernaan ini sangatlah penting.  Selain itu infeksinya bisa bersifat ringan hingga berat dan tersifat dari adanya diare atau kotoran yang lebih cair (yang dikarenakan peningkatan peristaltik pada usus) dan adanya enteritis.
“Namun disini jangan sampai salah tafsir dengan kata mudah menular, karena penyakit ini  tidak menular dari ayam ke ayam. Jadi secara sederhana penyakit ini adalah penyakit lingkungan dimana ookistanya ke lingkungan, kalau temperatur, oksigen, kelembapan nya cocok maka dia akan tumbuh dan bersporulasi. Apabila ditelan oleh ayam baik melalui pencemaran pakan, minum atau lainnya, baru ayam akan tertular. Serangan koksidiosis pada ayam ini berdampak pada kerusakan pada saluran pencernaan, sehingga membuat terganggunya proses digesti atau penyerapan nutrien, dehidrasi, kehilangan darah dan immunosupresi” jelasnya.
Menurut Charles koksidiosis dapat menyebabkan meningkatnya jumlah kematian, gangguan pertumbuhan, meningkatnya FCR, peningkatan biaya pengobatan dan pencegahan serta meningkatkan biaya produksi secara keseluruhan. Selain itu infeksi dari koksidiosis ini biasanya juga akan diikuti oleh penyakit lain.
“Kasus koksidiosis didukung oleh adanya berbagai aspek manajemen yang kurang optimal, seperti bi0sekuriti yang kurang baik, litter lembap yang akan menyebabkan sporulasi ookista, litter yang tidak didesinfeksi secara maksimal, serta vektor mekanik lain seperti kumbang litter dan frenky yang kurang tertangani dengan baik,” ujar Charles.
Terkait strategi pengendalian, lanjut Charles dapat dilakukan dengan kemoterapi yaitu dengan menggunakan obat antikoksidial, yang didukung oleh biosekutiti dan praktik peternakan yang terbaik. Pengobatan saja akan percuma apabila tidak didukung dengan biosekuriti dan manajemen yang baik. Dan untuk pendekatan pengendalian koksidiosis yang efektif pun akan berbeda tergantung pada tujuan pemeliharaan ayam, apakah di broiler, layer, breeder broiler atau breeder layer. 
“Dalam pemberian obat antioksidial harus diingat bahwa kalau tidak hati-hati akan terjadi resistensi. Untuk mencegah atau memperkecilnya harus ada program shuttle yaitu dengan mengganti antikosidial selama satu periode pemeliharaan. Misalnya penggunaan koksidiostat pada pakan broiler. Dengan memberikan salinomisin pada pakan starter dan grower, dan maduramisin pada pakan finisher,” tambahnya.
Sementara itu, dirinya juga menjelaskan upaya pencegahan koksidiosis dengan vaksinasi. Hal ini merupakan cara terbaik untuk memastikan ayam mempunyai imunitas terhadap elmeria yang paling patogen yaitu E.acervulina, E.maxima, E.tenella,E.necatrix dan E.brunetti. Menurutnya pengendalian koksidiosis pada breeder dan peternakan layer skala besar lebih difokuskan ke vaksinasi dengan dukungan manajemen peternakan yang baik serta biosekuriti yang ketat.
Baca Juga: Terus Dukung Perguruan Tinggi, CPI dan Unhas Gelar Panen Bersama Kandang Closed House
Masih dalam acara yang sama, drh. Shervida Rismawati, selaku Technical Education & Consultation Medion menjelaskan bahwa berdasakan data dari BMKG, selama bulan Juni- Juli diperkirakan curah hujan di sebagian daerah di Indonesia masih tinggi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para peternak, dimana ayam akan mudah stres dan daya tahan tubuh menurun serta meningkatnya serangan penyakit koksidiosis.
“Dalam 3 tahun terakhir, berdasarkan data yang dihimpun oleh tim Medion, menjelaskan bahwa secara nasional, koksidiosis menduduki peringkat ke 4 penyakit yang sering menyerang broiler. Sedangkan pada layer menduduki peringkat ke 7. Hal ini menggambarkan bahwa koksidiosis masih menjadi penyakit yang sering ditemui di lapangan,” terang Shervida.
Dirinya melanjutkan, koksidiosis menyebabkan kerusakan saluran pencernaan terutama mukosa usus, sehingga menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi. Hal ini akan membuat gangguan pertumbuhan, keseragaman rendah, peningkatan FCR dan penurunan performa pada ayam. Selain itu koksidiosis ini juga menyebabkan luka pada mukosa usus yang  berfungsi sebagai organ kekebalan, sehingga akan rentan terserang infeksi lain dan mortalitas akan meningkat.
“Dengan berbagai kerugian dan karakteristik dari koksidiosis, maka dapat dilakukan langkah pengendalian dengan penerapan manajemen pemeliharaan dan biosekuriti yang baik. Hal ini harus dikombinasikan. Peternak dapat melakukan pengapuran untuk membunuh ookista, karena ookista dari elmira ini tidak tahan panas.Selanjutnya kita harus memperhatikan kelembapan litter. Litter yang lembap akan memungkinkan ookista untuk berkembang biak. Pencegahannya dengan melakukan pembalikan litter secara rutin, Jika ditemui litter menggumpal, pilah dan keluarkan, serta Jika ditemui litter basah atau menggumpal dalam jumlah banyak, tutup dengan litter baru. Yang tak kalah penting, lakukan treatment pada litter sebelum ditebar ke dalam kandang yaitu dengan  dijemur dan disemprot formalin sampai kering,” tambahnya.
Kemudian, pembersihan dan desinfeksi kandang, kendaraan, peralatan dan pengendalian lalu lintas personal dan kendaraan menjadi hal yang juga harus menjadi perhatian. Selanjutnya optimalkan masa istirahat kandang untuk memutuskan rantai hidup agen penyakit yang dalam hal ini adalah koksidia, sehingga tidak terjadi infeksi yang berulang.
“Pencegahan dilakukan dengan penerapan biosekuriti yang ketat, manajemen pemeliharaan yang baik, serta pemberian herbal (fitobiotik) untuk menjaga integritas usus dan mengoptimalkan kerja saluran pencernaan. Apabila terjadi kasus,maka peternak dapat segera memberikan antikoksidiosis,” jelas Shervida.