POULTRYINDONESIA, Bantul – Menteri Koperasi (Menkop), Budi Arie Setiadi, mengunjungi salah satu peternak anggota Koperasi Jasa Pinsar Petelur Nasional di Kamijoro, Sendangsari, Pajangan, Bantul, Jumat (21/2). Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan pasokan telur dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam kunjungannya, Budi menegaskan pentingnya membangun sistem koperasi yang solid guna menjamin suplai komoditas pangan yang berkelanjutan. “Soal MBG ini, kita perlu mempersiapkan komoditas-komoditas dan bahan baku, khususnya telur. Secara ilmiah, mengonsumsi telur terbukti dapat meningkatkan asupan protein, sehingga baik untuk pertumbuhan anak-anak,” ujar Budi.
Baca juga : PT Satwa Medika Utama Ekspansi ke Pasar Pakistan
Dirinya menekankan bahwa program MBG memerlukan strategi yang matang dalam pengadaan bahan baku. Oleh karena itu, pemerintah tengah menggenjot keberadaan koperasi ayam petelur sebagai bagian dari solusi distribusi dan stabilisasi harga.
“Kita ingin membangun koperasi khusus petelur karena tidak semua daerah mampu menghasilkan telur dalam jumlah besar. Ada daerah yang unggul dalam produksi cabai, sayur, atau daging, tetapi ada juga yang lebih potensial dalam peternakan ayam petelur,” jelasnya.
Dalam rangka mewujudkan ekosistem pasokan yang lebih baik, Menkop menggagas konsep koperasi hub atau “kop hub” sebagai pusat distribusi berbagai komoditas bagi program MBG. “Kop hub ini nantinya yang akan mengkoordinasikan suplai telur untuk berbagai dapur MBG. Misalnya, di sini ada koperasi ayam petelur yang bisa mendistribusikan telur ayam ke berbagai dapur yang memproduksi MBG,” lanjutnya.
Terkait dengan harga beli pemerintah, Mengkop menegaskan bahwa mekanisme harga akan diatur agar tidak merugikan peternak. Ia menyebut bahwa biaya logistik menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan harga akhir. “Soal harga, kita akan memastikan ada mekanisme yang adil, karena ada faktor biaya distribusi yang harus diperhitungkan. Misalnya, dari sini ke Bantul lebih murah, sedangkan daerah lain mungkin membutuhkan ongkos angkut lebih besar,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Budi Arie juga mengapresiasi peran Koperasi Jasa Pinsar Petelur Nasional dalam menjembatani kebutuhan peternak dengan pemerintah, khususnya dalam penyediaan bahan baku pakan ternak seperti jagung. Ia juga meyakini bahwa koperasi memiliki peran strategis dalam memperkuat sektor peternakan ayam petelur di Indonesia.
“Saya yakin, dengan kualitas produksi yang baik dan jaringan distribusi yang kuat, koperasi bisa menjadi bagian dari solusi pemenuhan gizi bagi anak-anak Indonesia. Pemerintah akan terus mendukung penguatan koperasi agar semakin berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi peternak serta masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN), Yudianto Yosgiarso, menyatakan kesiapan pihaknya dalam menjadi penyedia telur untuk program MBG. Namun, ia menekankan bahwa pemerintah harus memastikan sistem pembayaran yang lancar agar peternak tidak mengalami kesulitan finansial.
“Kami siap mendukung MBG, karena pada dasarnya kami adalah peternak yang memproduksi telur. Tapi perlu diingat, peternak tidak hanya bisa memproduksi, melainkan juga membutuhkan stabilitas finansial. Jadi, sistem pembayaran harus jelas dan lancar,” ujar Yudianto.
Dirinya menambahkan bahwa saat ini PPN memiliki lebih dari 1.300 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia dan menyumbang sekitar 45% dari total produksi nasional telur ayam. “Kami memiliki populasi ayam petelur nasional sekitar 300 juta ekor, dengan produksi mencapai 15 ribu ton per hari. Sehingga sangat siap apabila ditunjuk sebagai penyedia telur untuk MBG. Namun, harus ada jaminan dan kejelasan terkait pembiayaan dan pembayaran. Sebab, bagi koperasi, stabilitas anggota dalam ini peternak adalah hal yang utama,” tegasnya.