Koperasi menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan daya saing perunggasan dalam negeri (sumber gambar: www.aces.edu)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Koperasi merupakan badan usaha yang sifatnya aksi kolektif, yang bermisi sosial dengan memperjuangkan nasib secara bersama-sama agar anggotanya sejahtera. Koperasi juga sebagai salah satu bentuk badan usaha yang dimiliki dan dijalankan oleh para anggota untuk kepentingan bersama dapat menjadi solusi terhadap persoalan perunggasan nasional saat ini. Maka dari itu, pada seri ke-22 dari Indonesia Livestock Club mengangkat sebuah tema tentang “Koperasi Perunggasan yang Diharapkan” sekaligus bertepatan dengan hari Koperasi Nasional Senin, (12/7), lewat aplikasi Zoom.
Berdasarkan paparan Teten Masduki selaku Menkop UKM RI, mengatakan bahwa unggas merupakan pangan yang sangat penting sebagai sumber protein masyarakat indonesia dibandingkan dengan protein lain kecuali ikan. Sektor peternakan juga merupakan sektor yang tetap tumbuh selama pandemi.
“Terlepas dari bermacam keunggulan tersebut, masih ada banyak tantangan yang musti dihadapi, yang pertama yaitu skala usaha yg sifatnya kecil dan perorangan, kedua rendahnya akses pembiayaan yang mudah, Ketiga rendahnya produktivitas, karena mayoritas merupakan 45 tahun keatas dan 85% dari peternak itu tidak melibatkan teknologi dalam budi daya,” ucap Teten.
Selanjutnya menurut Guru Besar Fapet IPB University, Prof. Muladno Menyatakan bahwa bisnis perunggasan di Indonesia semakin kritis, tidak kompetitif, tidak produktif dan terkesan primitif, oleh karena itu koperasi adalah salah satu solusinya.
“Prinsipnya dengan berkoperasi para peternak bisa membangun integrasi horizontal sehingga bisa sejajar dengan integrator yang notabene industri yang terintegrasi secara vertikal,” jelas Muladno.
Lebih lanjut menurut Yudianto yosgiarso selaku Ketua Koperasi PPN mengatakan bahwa saat ini populasi ayam ras petelur sudah berkembang dengan sangat pesat, oleh karena itu perlu didukung oleh pasokan pakan yang stabil.
“Kami ingin memberikan info bahwa populasi ternak yang ada di Indonesia khususnya Layer itu sudah mendekati 250 juta ekor, maka kalau per ekor ayam petelur itu mengkonsumsi 120 gram per hari, dibutuhkan jagung sebanyak 15.000 ton per hari,” ujar Yudianto.
Pihaknya juga menyebutkan bahwa dalam upaya mengajak para peternak agar bisa bergabung ke dalam koperasi itu tidak mudah, karena mereka merasa cukup dengan kekuatannya sendiri.
“Maka dari itu kami menghimbau kepada Kemenkop UKM agar bisa ikut memberikan pendampingan kepada para peternak,” pintanya.
Baca Juga: Memperjuangkan Nasib Peternak Rakyat dengan Membentuk Koperasi
Pada kesempatan yang sama, Andi Ricky Rosali sebagai anggota Koperasi Pinsar Unggas Nasional, berkoperasi memang sangat memberi manfaat terutama bagi para peternak di luar Pulau Jawa.
“Bagi kami yang berada di daerah Makassar itu sangat bermanfaat dan terasa manfaatnya bagi para pelaku UMKM disana. Kekuatan besar koperasi ini seharusnya benar-benar menjadi salah satu pondasi dalam menggerakkan perekonomian di Indonesia,” ungkap Andi.
Masih menurut Andi, Semangat dalam mengembangkan koperasi memang tidak bisa dilakukan secara individual, tetapi harus ada asas kebermanfaatan yang bisa dirasakan oleh seluruh anggota koperasi. Selanjutnya yang dirasa tak kalah penting bagi para milenial, bagi yang kesulitan mengakses pembiayaan ada LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) yang tentu sangat bermanfaat bagi para umkm.
Berdasarkan penuturan dari Kepala Pengawas Koperasi Produksi PPN Lampung, Jenny Soelistiani menyatakan bahwa dengan berkoperasi tentu akan lebih kuat dengan badan hukum dan memiliki struktur organisasi yang sesuai dengan eksistensi koperasi. Namun dibalik kekuatan tersebut, koperasi masih memiliki beberapa kelemahan seperti lemahnya struktur permodalan koperasi, lemahnya pengelolaan manajemen usaha, sdm yang kurang profesional dan mumpuni, dan juga kurang memadainya sarana dan prasarana yang tersedia.
“Ada pula ancaman dalam berkoperasi yaitu persaingan usaha yang semakin ketat, kurangnya kepercayaan untuk saling kerjasama dengan pelaku ekonomi lain,” tutur Jenny.
Sedangkan menurut pandangan dari pelaku usaha di bidang ayam ras pedaging, menurut Ketua Koperasi Wira Sakti Bogor yaitu Sugeng Wahyudi mengatakan bahwa saat ini terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan secara khusus yang dirangkum menjadi dua hal yaitu permasalahan secara internal maupun eksternal. Secara internal, dalam berkoperasi perlu adanya militansi, tanggung jawab, gotong royong, jujur, taat aturan, dan profesionalisme yang harus dimiliki oleh setiap anggota.
“Berhasil atau tidaknya koperasi itu bergantung pada pengurus dan anggotanya, bukan dari siapa sosok yang ada dibalik koperasi tersebut,” ujar sugeng.
Sedangkan dari sisi eksternal, Sugeng menyoroti bahwa pendampingan dari Pemerintah dan akademisi harus bisa menaungi para peternak agar bisa menyejahterakan peternak.
“Perlu adanya regulasi yang berkualitas. Faktanya, regulasi yang ada belum mampu memayungi para pelaku dengan skala terkecil,” tegas Sugeng.
Pada kesempatan selanjutnya menurut Suwardi selaku Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Kendal, menyatakan bahwa saat ini sudah banyak peternak yang bergabung dengan koperasi karena berawal dari keresahan para peternak tentang harga acuan telur yang dikuasai oleh broker atau bakul sehingga peternak tidak memiliki daya tawar.
“Berawal dari permasalahan tersebut didirikanlah Koperasi Peternak Kendal, akhirnya banyak dari peternak yang sadar dan akhirnya begabung dengan koperasi. Dengan bergabung menjadi anggota, maka para peternak memiliki bargaining power dengan pihak luar,” pungkasnya.