POULTRYINDONESIA, Bogor – Dinamika stok jagung,selama ini seolah aman – aman saja. Namun, semenjak adanya bentangan poster Suroto,peternak petelur asal Blitar,Saat kunjungan Presiden,Joko Widodo ke Blitar,membuat dinamika jagung berubah.
“Bagaimanapun,adanya usaha berbenah di stock jagung,merupakan salah satu dampak dari Suroto efek,” tegas Diner Y.E Saragih, SP, M.SE,yang mewakili Direktorat Pakan, dalam acara Rapat Evaluasi dan Sinkronisasi Data Jagung 2021 yang berlangsung di Bogor pada 8 – 10 Oktober, dan acara ini berlangsung secara hybrid melalui aplikasi Zoom.
Baca juga : Diperlukan Regulasi yang Berkeadilan untuk Komoditas Jagung
Menurut Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo,yang hadir via virtual dalam acara ini mengungkapkan bahwa secara data tahunan, untuk produksi jagung cenderung sudah bagus. Namun masih perlu konfirmasi lebih lanjut.
“Sebetulnya untuk jagung kita sendiri sudah mampu memproduksi sekitar 15 juta ton/ tahun. Dengan total konsumsi sebanyak 14 juta ton dan masih surplus 1,4 juta ton pertahun,dan kalau ditambah dengan data 2020,maka masih sisa 2,8 juta ton, sebenarnya cukup,” terangnya.
Namun menurut Mentan, karena adanya covid 19 adanya maka terdapat tantangan baru, sehingga dalam lingkup data produksi jagung sudah besar, namun, fakta di lapangan orang sulit mencari jagung. Namun berdasarkan data yang didapat, ternyata tidak sesuai dengan fakta yang ada. Ada beberapa hal yang membuat kondisi di lapangan kurang sesuai dengan data yang ada, sehingga membuat jagung cenderung langka, dan harganya naik.
“Sebenarnya saya senang melihat kenaikan harga jagung. Namun,disisi lain hal ini malah membuat dampak yang kurang bagus bagi peternak. Sebab, bisa dipahami produk peternakan berupa daging dan telur ayam juga mengalami penurunan, imbas dari PPKM selama ini,” terangnya.
Menurutnya, kalau barang banyak maka harga akan turun,atau paling tidak sama dengan sebelumnya. Namun,kondisi di jagung ternyata tidak seperti itu.
“Oleh karena itu kita sangat membutuhkan evaluasi,jagung ada di mana,tersimpan oleh siapa,dan dari acara ini saya berharap ada data yang akurat,tidak pura- pura,apa adanya,tidak boleh salah prediksi,”terangnya.
Sebenarnya,lanjutnya, menurut data kita masih mempunyai 2,8 juta jagung.Namun ternyata data itu kurang tepat,lebih baik,kita mengakui kesalahan itu,dan kita kejar dengan baik,selama setahun ini,sehingga tidak ada masalah dengan jagung.
Setelah evaluasi,diharapkan akan ada mapping dan segera melakukan perencanaan penanaman jagung,dan kedepan diharapkan adanya stock jagung yang melimpah. Meskipun nanti akan ada persoalan lagi ketika jagung melimpah,seperti harga jagung jatuh.Namun,lebih baik tersedia banyak dan cukup,daripada akan ada persoalan tentang pakan ternak di kemudian hari.