Oleh : drh. Agung Suganda, M.Si*.
Dalam era globalisasi yang semakin kompetitif, industri peternakan nasional menghadapi tantangan yang tidak ringan. 
Salah satu tantangan utama adalah ketergantungan terhadap bahan pakan impor, yang berdampak langsung pada biaya produksi, kestabilan harga, serta kesejahteraan peternak. Untuk mengatasi tantangan ini, optimalisasi pemanfaatan bahan pakan lokal menjadi langkah strategis dalam mencapai kemandirian dan keberlanjutan industri peternakan nasional.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2024 mencapai 281,6 juta jiwa. Diperkirakan angka ini akan meningkat menjadi 317,23 juta jiwa pada tahun 2040 dan mencapai 328,93 juta jiwa pada tahun 2050. Pertumbuhan jumlah penduduk ini menuntut penyediaan pangan dalam jumlah yang cukup, terjangkau, serta memenuhi aspek mutu dan kehalalan. Konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia terus berkembang seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan pendapatan. Sebagai gambaran, konsumsi per kapita pada tahun 2024 untuk daging sapi sebesar 2,75 kg/kapita/tahun, daging ayam ras sebesar 13,21 kg/kapita/tahun, telur ayam ras sebesar 22,16 kg/kapita/tahun, dan susu sebesar 16,43 kg/kapita/tahun.
Bagi masyarakat Indonesia, pangan hewani berbasis unggas, baik daging ayam maupun telur, telah menjadi alternatif utama dalam memenuhi kebutuhan protein hewaninya. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional, tingkat partisipasi konsumsi telur mencapai 92,77%, daging unggas sebesar 66,11%, konsumsi susu sebesar 42,75%, dan konsumsi daging sapi sebesar 7,34%. Keberagaman ini memberikan alternatif bagi konsumen untuk memilih sumber pangan hewani yang lebih murah dan mudah didapatkan. Namun, peningkatan konsumsi protein hewani ini juga harus diimbangi dengan peningkatan produksi yang berkelanjutan dan efisien, yang tidak hanya bergantung pada bahan pakan impor.
Salah satu komponen terbesar dalam produksi daging, telur, dan susu adalah biaya pakan, yang berkontribusi sebesar 70,62% pada usaha budidaya ayam ras petelur, 56,95% pada budidaya ayam ras pedaging, 57,67% pada budidaya sapi potong, dan 67,08% pada budidaya sapi perah. Dinamika harga pakan, yang seringkali dipengaruhi oleh fluktuasi harga bahan pakan impor, akan sangat berpengaruh terhadap dinamika harga produk peternakan dan pendapatan peternak.
Dalam menghadapi tantangan ini, penting bagi kita untuk memperkuat kemandirian industri pakan melalui optimalisasi pemanfaatan bahan pakan lokal. Penggunaan bahan pakan lokal tidak hanya akan mengurangi ketergantungan terhadap impor, tetapi juga akan menciptakan rantai nilai yang lebih kuat antara sektor pertanian dan peternakan. Petani lokal, khususnya petani jagung, dapat berperan lebih besar dalam menyediakan bahan baku bagi industri pakan, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka.
Industri pakan dalam negeri telah menunjukkan perkembangan signifikan dalam empat tahun terakhir. Pada tahun 2020, produksi pakan mencapai 15,89 juta ton, meningkat menjadi 17,38 juta ton pada tahun 2021, 17,63 juta ton pada tahun 2022, dan 17,94 juta ton pada tahun 2023. Dari total pakan yang diproduksi, 97% merupakan pakan unggas, sedangkan 3% sisanya berupa pakan ruminansia dan monogastrik. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa industri pakan memiliki kapasitas untuk mendukung peningkatan produksi peternakan, asalkan terus didorong dengan inovasi dan kolaborasi.
Potensi luas subsektor peternakan
Dalam konteks yang lebih luas, industri peternakan di Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang lebih lanjut dengan dukungan dari berbagai pihak. Pemanfaatan bahan pakan lokal harus dioptimalkan untuk mengurangi ketergantungan pada impor, sekaligus meningkatkan kontribusi industri pakan terhadap perekonomian nasional. Kerja sama antara peternak dan produsen pakan, serta kolaborasi dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi, menjadi kunci dalam pengembangan inovasi pakan yang efisien dan ramah lingkungan.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com