Talk show dies natalis FKH Unair
POULTRYINDONESIA, Surabaya – Dalam rangka Dies Natalis Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, Surabaya yang ke – 50, FKH Unair menyelenggarakan talk show pada Sabtu, (15/1) yang berlangsung secara hybrid baik luring maupun daring.
Dalam talk show kali ini menghadirkan pembicara para Dekan FKH dari masa ke masa, serta pembicara dari beragam bidang yang digeluti oleh para alumni meliputi pemerintahan, praktisi, peneliti, serta pelaku usaha.
Baca juga : Upaya Mendorong Usaha Peternakan Ayam Buras di Indonesia
Adalah Suparto salah satu alumni FKH Unair angkatan 1994, yang lulus dengan nilai _cumlaude_ pada tahun 2000 menceritakan bahwa dirinya sudah memiliki ketertarikan akan dunia kewirausahaan sejak masih duduk di bangku kuliah.
“Saya itu matanya hijau, apapun yang bisa saya uangkan maka saya berupaya untuk menjadikan uang,” tegas pria kelahiran Lamongan itu.
Kebetulan saat kuliah, ia memiliki teman yang berasal dari Blitar, sebagai sentra peternakan ayam petelur. Singkat cerita, Ayah dari kwan dekat Suparto memiliki ternak ayam petelur, di sisi lain daerahnya merupakan sumber bahan baku pakan berupa dedak dan jagung dengan ketersediaan yang melimpah.
Akhirnya, Suparto menawarkan kedua barang itu ke orang tua sang teman. Gayung bersambut akhirnya bapak sang teman setuju untuk membeli dedak dan jagung akhirnya aksi jual beli terjadi.
“Namun sayang, uangnya tidak bisa kontan, harus menunggu dua minggu, sementara saya sedang butuh uang juga untuk kuliah,” katanya.
Akhirnya untuk mengatasi kebuntuan itu, ia menawarkan untuk menjual telurnya di Babat, Lamongan. Hasil dari penjualan itu lalu ia terbesit niat bagaimana kalau bisa memproduksi telur di daerahnya sendiri. Dimana biaya produksi akan lebih murah, karena bahan baku pakan melimpah dan lebih murah.
Akhirnya ia bertekad untuk mendirikan peternakan ayam petelur, untuk memantapkan langkahnya setelah lulus kuliah ia memilih bergabung ke perusahaan peternakan ayam.
” Lebih pada untuk mencuri ilmu aja sih,” katanya
Setelah Itu, pada tahun 2001 ia tancap gas untuk mendirikan peternakan ayam petelur di daerahnya,yang sempat mendapat cibiran dari lingkungan sekitar. Namun, cibiran itu ternyata pada akhirnya berubah menjadi pujian. Sebab, lingkungan sekitar juga tergerak untuk beternak hingga akhirnya pada tahun 2008 ia mendirikan koperasi ternak gunungrejo makmur.
Dengan semangat yang ada di kampungnya, dengan wadah koperasi, ia mengajukan proposal pada pemerintah untuk bantuan ayam. Namun ,di luar dugaan pemerintah ternyata menawari bantuan sapi. Akhirnya, bantuan itu diterima sebanyak 20 ekor, dan kini sudah berkembang menjadi sekitar 400 ekor.
” Berawal dari peternakan ayam petelur itulah,kini sudah ada divisi untuk sapi,” pungkasnya.