Oleh : Dedy Kusmanagandi*
Myanmar adalah salah satu negara besar di Asia Tenggara yang terletak di daratan Asia, diantara Asia Tenggara dan Asia Selatan, berbatasan dengan negara Thailand, Laos, China, Bangladesh dan India. Negara yang memiliki luas daratan 676.578 km² ini diperintah oleh pemerintahan junta militer sejak kudeta pada tahun 1988. Negara ini memiliki populasi lebih dari 57 juta jiwa dengan Ibu kota terletak di Naypyidaw setelah dipindahkan oleh pemerintahan junta militer dari kota Yangon pada tahun 2005.
Di bidang perekonomian, Myanmar adalah negara berkembang yang memiliki pendapatan domestik bruto sebesar US$277,9 miliar dengan GDP perkapitanya tahun 2020 sebesar USD 1,527. Tulang punggung perekonomian Myanmar adalah sektor pertanian seperti beras, palawija, tebu, produk perkayuan dan produk-produk perikanan. Saat ini pertumbuhan ekonominya telah masuk kelas menengah yang menyebabkan meningkatnya permintaan terhadap daging, terutama daging ayam. Sektor pertanian memberikan kontribusi lebih dari 50% terhadap GDP dan sekitar 40 juta orang terlibat di dalamnya. Subsektor peternakan tumbuh rata-rata 7% setiap tahunnya dan berkontribusi sekitar seperenam dari GDP Pertanian.
Subsektor perunggasan
Menurut Central Statistical Organization (CSO) pada tahun 2018, Myanmar memproduksi 1.8 juta ton daging unggas dan 1.26 miliar telur unggas. Dari jumlah tersebut 91.3% adalah telur ayam dan 8.7% adalah telur bebek. Sedangkan untuk daging unggas, sekitar 90 persen dari jumlah tersebut adalah ayam, termasuk ayam lokal. Sisanya adalah bebek (7.7%), dan unggas lainnya seperti kalkun, burung puyuh, dan angsa.
Peningkatan populasi terbesar disumbang oleh ayam ras terutama dari segmen peternak komersial menengah ke atas, termasuk peternakan terpadu ayam dan ikan yang kandangnya dibangun di atas kolam, serta peternakan ayam jantan petelur yang disebut peternakan semi broiler yang dagingnya untuk makanan khas seperti Biryani.
Baca juga : Industri Perunggasan AS Khawatirkan Penyebaran AI
Selain peternakan unggas komersial, pertumbuhan yang cepat juga terjadi pada peternakan babi. Lokasi peternakan ayam komersial dan ternak babi berada dekat kota besar seperti kota Yangon dan Mandalay yang merupakan pusat penyediaan sarana produksi peternakan, daerah yang secara rutin berada dalam jangkauan logistik dan transportasi, serta dekat dengan pasar daging dan telur yang permintaannya sangat besar. Daerah Yangon, Ayeyarwady dan Bago di wilayah timur merupakan daerah penghasil utama ternak babi, ayam broiler dan telur skala nasional dengan perkiraan pangsa pasar sekitar 29% untuk ternak babi, 48% untuk ayam broiler, dan 31% untuk produksi telur.
Peternakan unggas dominan terdiri atas peternakan ayam petelur, peternakan ayam broiler, dan peternakan semi broiler yang merupakan peternakan ayam jantan petelur. Peternakan babi terdiri atas peternakan yang membesarkan anak babi yang kemudian dijual ke peternak lain untuk digemukan. Namun ada juga peternak yang memelihara dari kecil sampai dewasa dan dijual ke pasar. Peternakan unggas dan babi banyak yang dikelola secara tumpang sari yaitu dipelihara diatas kolam ikan.
Lebih dari 50 persen pangsa pasar pakan dan DOC ayam ras Myanmar dikuasai oleh perusahaan industri perunggasan asing. Seperti Myanmar CP yang merupakan bagian dari Thailand CP Group yang sudah hadir sejak tahun 1995, dan Perusahaan Japfa Maykha yang merupakan bagian dari Japfa Group yang kantor pusatnya di Indonesia yang sudah hadir sejak tahun 1996. Selain itu, perusahaan lokal yang cukup berperan dalam Industri perunggasan Myanmar adalah Crystel Diamond, Tet Caung, dan MRC. Perusahaan lainnya yang kemudian berinvestasi adalah perusahaan dari Belanda, China, dan Korea. Sebagian besar peternakan skala kecil dan menengah belum begitu efisien dalam pengelolaan budi dayanya.
Seiring dengan meningkatnya pendapatan penduduk dan sumber daya alam yang dimiliki, subsektor peternakan lokal semakin berkembang. Tumbuhnya peternakan komersial dan industri peternakan menyebabkan produksi perunggasan terutama ayam ras komersial semakin meningkat dan efisien. Beberapa perusahaan terintegrasi melakukan kerjasama dengan peternak kecil menengah dengan pola kemitraan atau contract farming.
Baca juga :Menelaah Bisnis Obat Hewan di Filipina










