Oleh :  Seftian Syahri Putra

Tingkat produksi yang tinggi merupakan target yang harus dicapai oleh setiap peternak broiler. Terdapat banyak cara yang dapat dilakukan peternak untuk dapat meningkatkan produksi broiler, salah satunya dengan pemberian pakan imbuhan dalam pakan unggas. Pakan imbuhan yang paling banyak digunakan peternak dan dapat meningkatkan produksi secara signifikan yaitu antibiotic growth promoter (AGP), akan tetapi AGP dapat ikut terserap dengan nutrient dan tertimbun pada daging sehingga secara tidak langsung konsumen juga mengonsumsi antibiotik dalam jumlah yang rendah.

Sejak AGP dilarang, banyak peneliti di dalam negeri yang mulai mencari alternatif pengganti, salah satunya melalui pemanfaatan bahan-bahan alami yang didapatkan dari alam.

Pelarangan penggunaan AGP secara menyeluruh terjadi karena efek negatif dari antibiotik itu sendiri yang secara tidak langsung dapat berdampak pada manusia. Hal ini disebabkan oleh berpindahnya gen resistensi mikroba yang terdapat pada hewan, ke mikroba yang terdapat pada manusia. Efek negatif yang ditimbulkan terhadap penggunaan AGP menyebabkan penggunaan AGP pada unggas telah dilarang di beberapa negara (Fritts dan Waldroup 2003). Pelaporan pertama untuk pelarangan penggunaan AGP menurut Midilli et al. (2008) adalah di Swedia pada tahun 1986, kemudian disusul oleh Denmark melarang penggunan avoparsin (vancomycin-like compound) karena adanya laporan resistensi pada isolat yang berasal dari peternakan unggas pada tahun 1995. Komisi Uni Eropa juga melarang penggunaan avoparsin di semua anggota Uni Eropa pada tahun 1997.
Sejatinya, penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan di Indonesia telah dilarang sejak dikeluarkannya Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Pasal 22 pada ayat 4 huruf c yang menyatakan bahwa setiap orang dilarang menggunakan pakan yang dicampur hormon tertentu dan/atau antibiotik imbuhan pakan, akan tetapi aturan ini baru berjalan sejak awal tahun 2018. Sebagian para ahli berpendapat bahwa Indonesia belum waktunya melarang antibiotik sebagai imbuhan pakan mengingat cara pemeliharaan ternak di Indonesia yang masih bersistem opened house (belum intensif 100%) dan beriklim tropis. Mekanisme pemeliharaaan seperti ini, menyebabkan kuman belum bisa dikendalikan hanya melalui pengobatan saja.
Baca Juga : Minyak Atsiri Serai dan Kapulaga Solusi Pengganti AGP
Upaya pengadaan alternatif pengganti AGP harus terus diusahakan, salah satunya dengan mencari sebuah alternatif pengganti AGP berupa ramuan dengan memanfaatkan bahan herbal yang merupakan warisan budaya bangsa, telah digunakan turun-temurun, serta ketersediaan bahan bakunya yang melimpah di Indonesia, yaitu jamu dengan bahan sambiloto, temulawak, madu, dan jahe (STMJ). Khasiat pemberian jamu STMJ dengan konsentrasi 20 persen terbukti mampu meningkatkan nafsu makan, mempertahankan kekebalan tubuh, dan efektif dalam membasmi bakteri patogen dalam pencernaan, sehingga dapat menghasilkan bobot badan, bobot karkas, maupun feed conversion ratio (FCR) yang baik.
Sambiloto merupakan tanaman yang berguna bagi kesehatan dan dapat meningkatkan nafsu makan broiler. Sambiloto memiliki zat aktif berupa andrografolid, saponin, tanin, dan flavonoid yang diduga dapat membantu pertumbuhan ayam broiler (Prapanza dan Marianto 2003). Menurut Bintivok et al. (2002), sambiloto juga berperan dalam menghambat pertumbuhan kapang penghasil aflatoksin (Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus) yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, penurunan kekebalan tubuh, kegagalan program vaksinasi, kerusakan kromosom, perdarahan, dan memar yang berakibat kematian meningkat sehingga produksi ternak menurun (Bintivok et al. 2002).
Temulawak mengandung beberapa kandungan aktif seperti germakron, kurkuminoid, xanthorrizol, dan minyak esensial. Studi farmakologi menunjukkan bahwa zat yang terkandung memberi efek antibakteri, antioksidan, antiinflamasi, antihepatotoksik, antireumatik, dan efek hipotermia (Yasni et al.1991). Temulawak dapat digunakan sebagai antibiotik alami yang dapat mengurangi penggunaan antibiotik sintetik dan meningkatkan kualitas produk ternak terutama ayam pedaging sehingga aman bagi kesehatan konsumen.
Madu dan jahe sebagai salah satu kandungan dalam jamu STMJ berperan dalam peningkatan bobot badan. Madu dapat menunjang bobot badan karena kandungan antimikroba dan flavonoidnya (Kilicoglu et al. 2008), sedangkan jahe memiliki efek yang baik pada performa broiler dan menurunkan kolesterol serum darah, trigliserida, serta glukosa yang bermanfaat sebagai antioksidan dan gen potensial antistres (Mohamed et al. 2012). Antioksidan dapat menghindarkan ayam dari berbagai penyakit karena berfungsi untuk mencegah infeksi, berperan sebagai antibiotik alami, dan antibakteri yang dapat menyembuhkan penyakit, menghentikan peradangan, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh (Siregar et al. 2011). *Mahasiswa Program Profesi Dokter Hewan Institut Pertanian Bogor
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2019 dengan judul “Menyiasati Pelarangan AGP dengan Bahan Alami”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153