POULTRYINDONESIA, Padang – Sumatra Barat menjadi tuan rumah perayaan hari ayam dan telur nasional (HATN). Momentum ini bertepatan dengan perayaan dies natalis Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Faterna Unand) ke-59. Menyongsong hal tersebut, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia dan Fakultas Peternakan Unand menyelenggarakan Seminar Nasional Ayam dan Telur 2022 dengan tema “Kontribusi ayam dan telur dalam penyediaan protein hewani untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan Tangguh”. Kegiatan yang terselenggara secara hybrid, di Peternakan Convention Centre (PCC) Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Kamis (22/9) ini merupakan rangkaian agenda perayaan HATN 2022 yang juga berdekatan dengan perayaan Dies Natalis Faterna Unand yang ke-59.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Dr. Ir. Adrizal, MS mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk memperingati HATN 2022 dan Sekaligus rangkaian acara Dies Natalis Faterna Unand yang ke-59.
“Kegiatan Seminar Nasional ini kita inisiasikan sebagai bentuk perayaan HATN 2022 dan sekaligus rangkaian dari perayaan Dies Natalis Faterna Unand yang ke-59. Mudah-mudahan kegiatan seminar ini bisa memberikan manfaat kepada kita semua serta menjadi inspirasi bagi bapak/ibu sebagai pengambil kebijakan, serta untuk praktisi dibidang peternakan agar semakin tinggi motivasinya untuk mengembangkan potensi ayam dan telur sebagai sumber pendapatan yang menjanjikan untuk meningkatkan perekonomian kita,” jelasnya.
Sementara itu, mewakili Rektor Unand, Wakil Rektor 3 Unand, Ir. Insannul Kamil, M.Eng.,Ph.D, IPM, ASEAN.Eng. menyampaikan bahwa seminar ini akan membahas mengenai kecukupan gizi Indonesia. Nilai kecukupan gizi sangat berpengaruh terhadap isu besar yang sedang dihadapi Indonesia saat ini yaitu isu stunting. Dirinya berharap melalui seminar ini bisa muncul gagasan baru yang menjadi jawaban dari isu besar tersebut.
Kemudian, Wakil Gubernur Sumatra Barat, Audy Joinaldy yang turut hadir secara luring menyampaikan bahwa Faterna Unand mepunyai peran besar di Sumatra barat dalam mengkampanyekan dan merubah stigma masyarakat terhadap konsumsi ayam dan telur di Sumatra Barat maupun nasional.
“Konsumsi ayam dan telur di Indonesia termasuk yang paling rendah jika dibandingkan negara-negara di asia tenggara. Maka perlu peran kita bersama terutama mahasiswa untuk menjadi corong-corong kampanye konsumsi ayam dan telur nasional” kata Audy.
Baca Juga: Menimbang Peluang Ekspor Jagung
Selanjutnya dalam sesi Seminar Nasional, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen PKH, Kementan, Tri Melasari, S.Pt., M.Si menyampaikan perkembangan supply demand ayam dan telur pada tahun 2022 yang menunjukkan kondisi yang relatif stabil.
“Pemerintah mendorong untuk meningkatkan daya saing peternak dalam negri. Selain itu, asosiasi perunggasan hendaknya juga turut mendorong upaya untuk meningkatkan konsumsi ayam dan telur dimasyarakat. Di lain sisi dalam merespon tantangan pangan global, peternak dalam negeri berpeluang untuk melakukan ekspor” ujar Ibu Direktur yang hadir secara daring.
Dalam sesi yang sama, Singgih Januratmoko, S.K.H., M.M selaku Ketua Umum Pinsar Indonesia yang hadir secara luring menyampaikan bagaimana sejarah peringatan HATN di Indonesia.
“Sejarah lahirnya peringatan HATN berangkat dari kegiatan kampanye gizi yang dilakukan oleh Pinsar Indonesia secara mandiri sejak tahun 1991 di Pekan Raya Jakarta (PRJ). Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab kami dalam meningkatkan konsumsi ayam dan telur. Kemudian kegiatan ini berkembang dari tahun ke tahun. Baru setelahnya pada tahun 2013 menjadi tahun pertama kegiatan kampanye gizi ayam dan telur dalam format peringatan nasional yang terselenggara pertama kali di Denpasar, Bali” kata Singgih menjelaskan.
Sementara itu, Prof. dr. Nur Indrawati Lipoeto, MSc, PhD, SpGK selaku Ahli Gizi, Fakultas Kedokteran Unand menyampaiakan bahwa ayam dan telur merupakan sumber protein hewani yang menjanjikan dan ideal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Ayam dan telur adalah makanan sumber protein yang ideal, karena mempunyai kandungan gizi yang lebih baik dibanding sumber protein lainnya. Selain itu, ketersediaan dan harganya relatif terjangkau bagi masyarakat. Ayam dan telur yang diolah dengan baik juga dapat mempercepat pertumbuhan serta mengurangi resiko penyakit menular,” jelasnya meyakinkan.
Dalam sesi selanjutnya yang disampaikan oleh Ir. Efendi, M.P, selaku Kadis Pangan, Sumatera Barat menyampaikan bahwa provinsi ini masih jauh tertinggal apabila dibandingkan provinsi lain jika berbicara soal konsumsi telur dan ayam.
“Konsumsi telur dan daging ayam kita di Sumatra Barat tertinggal jauh dari provinsi lainnya, walaupun sebenarnya kita termasuk 5 besar sentra produksi telur tanah air. Untuk itu, hal ini merupakan tugas kita bersama, baik Perguruan Tinggi dan juga Pemprov untuk meningkatkan konsumsi telur dan ayam di Sumatra Barat” ujarnya.
Masih dalam kesempatan yang sama, Dosen Faterna Unand, Dr. Rusfidra, S.Pt, MP menyampaikan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk 275 juta ini adalah pasar yang sangat besar untuk dipenuhi kebutuhannya.
“Indonesia yang kurang lebih penduduknya 275 juta jiwa ini adalah pasar yang sangat seksi untuk dipenuhi kebutuhan protein hewaninya, terutama unggas. Kalau selama ini kita hanya melirik broiler dan layer, maka sudah saatnya kita memulai untuk mempertimbangkan produksi unggas lokal sebagai salah satu komoditi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pasalnya, potensi unggas lokal di Indonesia sangat banyak baik itu ayam maupun itik,” pungkasnya.