Teknologi terkini dalam bidang peternakan yang ditampilkan dalam pameran peternakan internasional
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Bonus demografi yang digadang-gadang akan menjadi titik balik Indonesia untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat memang perlu dipersiapkan sedemikian rupa. Apalagi Indonesia merupakan salah satu pemain terbesar untuk industri broiler dan layer di kawasan Asia Tenggara, maka industri ini harus sigap dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang terbaik agar tetap berdaya saing.  
Menurut Suaedi Sunanto selaku CEO PT Nutricell Pacific, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, salah satunya memang dari segi sumber daya manusia. Beberapa hal tersebut yakni yang pertama dari sisi pendapatan per kapita masyarakat harus bisa berada pada angka US$47.000 atau sekitar 10 kali lipat dari saat ini. Kedua yakni mengenai ketersediaan sumber daya manusia Indonesia.
Selain itu, tidak perlu menunggu Indonesia emas 2045, industri broiler dan layer saat ini sudah menjelma menjadi salah satu yang diperhitungkan di dunia. Menurutnya, Indonesia sudah sanggup menghasilkan broiler sekitar 70 juta ekor per minggu, bahkan Indonesia menempati urutan kelima dari segi produksi broiler di kawasan Asia setelah China, India, Korea Selatan, dan Jepang 
Selain untuk broiler, Suaedi juga menungkapkan optimisme dari komoditas ayam petelur (layer). Menurutnya industri layer saat ini sudah berkembang sangat pesat di mana jika dilihat dari sejarah masa lalu yaitu pada tahun 1971-1991, industri layer di Indonesia bahkan tidak masuk ke dalam urutan 15 besar di Asia. Namun industri ini perlahan semakin baik ketika pada tahun 2011 Indonesia masuk dalam 10 besar penghasil telur di Asia.
Baca Juga: Menyiapkan SDM Peternakan Unggul untuk Indonesia Maju
Mengenai kesiapan sumber daya manusia di sektor perunggasan, Desianto B. Utomo, yang merupakan praktisi di industri ini juga turut berkomentar. Saat ditemui Poultry Indonesia di Jakarta, Rabu (17/6), menjelaskan bahwa SDM perunggasan harus disiapkan sejak dini karena jika dilihat dari demografi generasi produktif yang saat ini dihuni oleh generasi milenial, kebanyakan sudah melek informasi dan memiliki daya beli yang cukup kuat.
Sumber daya manusia yang mumpuni di sektor perunggasan juga harus mampu berdaya saing dan memiliki bekal kompetensi yang diakui baik nasional, regional, maupun global. Tidak hanya berfokus pada lapisan SDM yang menempuh jalur formal, akan tetapi lapisan masyarakan non formal yang bekerja di sektor budi daya perunggasan juga harus mendapatkan kompetensi yang sesuai dengan industri.
Desianto juga menambahkan bahwa sektor perunggasan juga merupakan salah satu solusi dari masalah stunting yang ada saat ini. Oleh karenanya, dengan mengonsumsi produk asal unggas, sebetulnya masalah tentang stunting di Indonesia bisa terselesaikan. Tentu semua hal tersebut dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam proses kegiatan penyediaan protein hewani khususnya perunggasan.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2020 dengan judul “Selayang Pandang SDM Perunggasan di Indonesia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153