
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Saat dimintai pendapat mengenai kondisi produk herbal untuk perunggasan di Indonesia, Prof. drh. Bambang Pontjo Priosoeryanto, M.S., Ph.D, APVet, selaku peneliti Tropical Biopharmaca Research Center (TropBRC), mengatakan bahwa berdasarkan pengetahuannya, saat ini produsen asal Indonesia untuk produk herbal perunggasan maupun hewan memang belum banyak dan masih dikuasai oleh produk impor, sehingga masih memerlukan pengkajian dan pengembangan lebih lanjut.
Demi kemajuan produk herbal, diperlukan kerja sama dan sinergi dari berbagai pihak serta penyusunan strategi yang jelas agar dalam usaha pengembangannya dapat berjalan secara sistematis.
Peneliti yang menemukan herbal anti-Avian Influenza (AI) dan sudah memiliki hak paten ini mengaku bahwa sudah ada kerja sama dengan pihak swasta untuk mengembangkan produk herbal, hanya saja masih belum menemukan kesepakatan antarkedua belah pihak, sehingga pihaknya masih berupaya meneliti kembali potensi lain yang ada dalam tanaman obat yang dipakai sebagai anti AI, yaitu sebagai anti koksidia. Mencari obat baru juga tidaklah mudah, seperti fenomena pengembangan antibiotik yang cenderung lebih lambat daripada kecepatan mikroba yang menjadi resisten.
Peta jalan pengembangan herbal
Bambang tak memungkiri bahwa sudah banyak penelitian mengenai produk herbal di Indonesia, hanya saja jika ingin menciptakan sebuah akselerasi dalam pengembangan produk herbal untuk hewan, butuh sebuah peta jalan (roadmap) penelitian yang jelas tentang herbal, sehingga peta jalan nasional harus dibentuk untuk ranah peternakan dan kesehatan hewan.
Buku mengenai “Roadmap Pengembangan Jamu 2011-2025” pernah diterbitkan oleh Kementerian Bidang Perekonomian Republik Indonesia atas kesadaran bahwa jamu merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang perlu dilestarikan, dikembangkan, serta dimanfaatkan untuk kesehatan dan kesejahteraan seluruh rakyat. Pada roadmap tersebut lengkap dijelaskan lini masa target pengembangan jamu per lima tahun, namun roadmap ini hanya mengarah pada jamu untuk kesehatan manusia.
Baca Juga: Upaya Pencegahan dan Potensi Herbal Untuk DVH
Bambang berpendapat, pada era AGP dilarang seperti saat ini, sepatutnya dilaksanakan penelitian secara bersama dan progresif untuk menciptakan natural growth promoter (NGP) dari tumbuhan asli Indonesia, sehingga bisa dijadikan produk unggulan yang dapat diekspor ke luar negeri. Melalui peta jalan penelitian, juga dapat memberdayakan dan membina petani untuk menanam tanaman herbal tersebut sebagai suplai untuk pabrik obat, sehingga kemitraan dapat berjalan dengan baik.
Keberlanjutan bahan baku
Usaha dalam menjaga ketersediaan bahan baku telah dilakukan TropBRC yang memiliki kebun tanaman obat sendiri. Pembinaan juga dilakukan TropBRC kepada petani yang berada pada beberapa desa binaan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tujuannya agar tumbuhan herbal yang ditanam terstandar dan nantinya akan dapat membentuk suatu kemitraan.










