Oleh : Faid Ajie Wiratama, S.Pt*
Keberhasilan budi daya broiler tergantung dari bagaimana ketelitian dan ketepatan manajemen dalam setiap proses produksinya. Memang benar, dengan perkembangan genetik ayam yang semakin baik, menawarkan potensi produksi yang lebih meningkat dari pada periode yang lalu. Namun, sebagai konsekuensi logis, potensi genetik tersebut baru bisa keluar secara optimal, apabila bersanding dengan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan ayam. Untuk itu, manajemen pemeliharaan yang tepat dan sesuai kebutuhan ayam, menjadi sebuah keharusan dalam keberhasilan performa produksi broiler.
Alas kandang, menjadi salah satu indikator pemeliharaan yang tak boleh disepelekan. Buruknya kualitas alas kandang, dapat berdampak negatif pada performa ayam.
Dari sekian banyak tata laksana pemeliharaan, manajemen alas kandang menjadi salah satu hal penting yang wajib diperhatikan. Alas kandang atau yang biasa disebut dengan litter adalah media yang digunakan untuk mengisi dan membatasi kontak langsung antara kaki ayam dengan lantai yang suhunya relatif dingin serta membantu menyerap air dari ekskreta maupun dari tumpahan air minum. Alas kandang menjadi hal sangat penting, khususnya di peternakan yang menggunakan kandang postal. Dimana kandang postal sendiri menjadi jenis kandang yang banyak digunakan oleh peternak broiler di Indonesia.
Alas kandang menjadi salah satu kunci dalam kesuksesan pemeliharaan broiler, terutama pada masa awal pemeliharaan atau brooding. Kondisi alas kandang juga menjadi indikator bagi kesejahteraan broiler, karena kualitas alas kandang yang buruk dapat menyebabkan datangnya penyakit yang mengancam ternak. Hal ini cukup beralasan karena alas kandang merupakan media yang cocok bagi pertumbuhan jamur dan mikroorganisme.
Banyak kerugian yang disebabkan oleh buruknya kualitas alas kandang. Dampak utama yang akan timbul ketika alas kandang basah atau berdebu adalah tingginya kadar amonia pada kandang tersebut. Kadar amonia yang tinggi dapat menyebabkan iritasi pada mukosa membran mata dan saluran pernapasan ayam. Kondisi seperti ini akan menyebabkan penyakit-penyakit pada ayam muncul seperti penyakit pernapasan (CRD, IB, Infectious Coryza), penyakit pencernaan (Coccidiosis, Necrotic Enteritis, Salmonellosis, Staphylococcosis) dan penyakit akibat infeksi jamur (mikotoksikosis).
Selain itu, buruknya kualitas alas kandang juga dapat menyebabkan pertumbuhan ayam pada fase DOC lambat. Pasalnya buruknya kualitas alas kandang pada masa brooding dapat membuat DOC kedinginan walaupun suhu brooding telah sesuai. Akibatnya, ayam akan malas untuk beraktivitas dan pertumbuhannya lambat. Kemudian manajemen alas kandang yang buruk juga dapat meningkatkan resiko infeksi jamur, protozoa, bakteri patogen, virus dan menimbulkan luka di telapak kaki anak ayam (telapak kaki membengkak) dan kemerahan di bagian otot dada (dada melepuh) yang disebabkan karena panasnya ammonia pada alas kandang tersebut. *Technical Support Kemitraan PT Mitra Unggas Perkasa Makassar










