Oleh: Heri Setiawan*  
Di depan pintu masuk Great Room tempat diselenggarakannya event “Let’s Speak Poultry” terpampang poster bertuliskan Welcome to the Forum Were We Speak Poultry. Pada bagian tengah poster tersebut dengan latar belakang gambar DOC broiler, juga tertera tulisan Together, to Get the Best from Your Birds.
Sangatlah kontradiktif bila membandingkan antara yang terjadi di dunia global dengan kejadian disini. Disana sudah terbiasa dengan pola pikir prediktif, proaktif, dan antisipatif dalam menyongsong suatu perubahan. Tidaklah demikian dengan yang terjadi di sini.
Memasuki Great Room seluas 428 m² di lantai 3 hotel bintang 5 di kawasan North Sathorn Road Silom, Bangrak-Bangkok, Thailand itu, terasa nuansa profesionalitas dan totalitas. Jelas sekali bahwa forum fenomenal tersebut ditangani oleh Event Organizer (EO) berkaliber internasional. Penataan ruangan, panggung, serta peralatannya benar-benar rapi sehingga terkesan efektif sekaligus atraktif.
Back drop berhiaskan tulisan “Let’s Speak Poultry” yang dipadupadankan dengan tulisan People, Products, Services menjadi fokus para hadirin saat memandang panggung. Dua layar masing-masing berukuran 4×6 m terpasang di kiri dan kanan bagian atas dinding belakang panggung. Penempatan kedua layar pada posisi tersebut memungkinkan seluruh peserta bisa melihat dengan jelas materi presentasinya.  
Di sisi kiri panggung, terdapat poster berlatarbelakang gambar parent stock dan bertuliskan Healthier Birds, Healthier Farms, Healthier Planet. Sedangkan di sisi kanan panggung, posternya dihiasi dengan gambar DOC broiler. Tertulis di poster tersebut Working together today for the Poultry Industry of Tomorrow.
Lalu bagaimana dengan sistem suara yang digunakan disana? Jawabannya sangat jernih dan jelas, tak ada suara gaung, juga nihil suara berisik. Lancar jaya, tanpa kejadian ‘putus-sambung’ suara.
Sudah melompat
Total ada 7 makalah yang dipresentasikan pada hari pertama Forum “Let’s Speak Poultry.” Diawali dengan presentasi Nan-Dirk Mulder (Senior Global Specialist Animal Protein-Rabobank). Makalahnya berjudul Global Poultry Production and Market OutlookShaping Industry Focus in Fast Changing Times. Materi presentasi Dirk Mulder terdiri dari 3 bagian, yakni: Global Production and Market Outlook; Regional Asia Outlook 2023; dan Long Term Perspectives.
Bila menyimak dengan seksama materi yang disampaikan Dirk Mulder itu, ada 3 hal penting yang patut dicatat dan diacungi jempol. Pertama: datanya akurat, lengkap, dan konsisten. Maknanya adalah, metode pengumpulan datanya harus baik dan benar; kejujuran memberikan data; serta komitmen untuk senantiasa memberikan pembaruan informasi data secara periodik. Bukan dengan metode instruksi semisal dengan intimidasi plus sanksi.
Kedua, kapabilitas dan kompetensi dalam menganalisis data yang terkumpul haruslah mumpuni/piawai. Maknanya, butuh personal yang memiliki cara berpikir sistematis disertai daya analisis tajam. Bukan personal yang hanya bisa merekapitulasi data. Apalagi personal yang bisanya hanya mampu “menumpukkan data” di laci mejanya.
Ketiga, membuat kesimpulan berdasarkan hasil analisis tajam dan mendalam terhadap data-data yang tersedia. Selanjutnya, menyusun suatu prediksi berlandaskan wawasan perspektif ke depan (jangka panjang). Untuk itu dibutuhkan personal yang memiliki kapasitas visioner, proaktif, dan obyektif, Bukan personal yang berpemikiran jangka pendek dan berorientasi instan saja. Apalagi personal yang besiteguh bahwa kebenaran itu hanya ada satu.
Di hari pertama tersebut, dibahas dan didiskusikan 6 makalah lainnya yang bersifat teknis. Disebut demikian karena mengulas tentang penyakit, yakni: Avian Influenza (AI); Infectious Bursal Disease (IBD); dan Newcastle Disease (ND) ditinjau dari aspek evolusi strategi pengendaliannya.
Meskipun keenam makalah tersebut bersifat teknis, namun pembahasannya difokuskan pada perkembangan strategi pengendaliannya. Tentu saja, strategi itu dipergunakan sebagai landasan yang kuat dalam menyusun dan menetapkan kebijakan maupun regulasi. Harap dicatat baik-baik bahwa hal itu terjadi di sana.
Bagaimana situasi dan kondisinya di sini? Menurut Penulis hal ini perlu meditasi, introspeksi dan keberanian tersendiri untuk mengungkapkannya ke ranah publik. Jujur, penulis harus mengakui bahwa pada tataran penyusunan kebijakan inilah sering terjadi distorsi. Maksudnya, kebijakan atau regulasi itu tidak murni didasarkan pada kajian teknis secara komprehensif. Kebijakan atau regulasi yang ditetapkan akan semakin amburadul bila tidak digunakan strategi yang jelas dan terukur sebagai landasan penyusunannya. Bukan rahasia lagi bila kebijakan atau regulasi tersebut disisipi dengan kepentingan tertentu, bahkan tak jarang ada muatan politis di dalamnya.
Ujung-ujungnya, kebijakan maupun regulasi yang ditetapkan bersifat tambal sulam. Bahkan yang sudah ada sebelumnya, direvisi seiring dengan bergantinya pejabat yang berwenang. Berdalih bahwa yang lama sudah tidak relevan lagi, maka pejabat baru itupun membuat kebijakan atau regulasi yang baru pula.     
Masih jalan di tempat
Berbeda dengan hari pertama, di hari kedua ada 6 (enam) presentasi. Di antara 6 makalah yang dipresentasikan, 5 makalah mengulas tentang teknologi vaksin yang semakin canggih. Salah satu diantaranya dipresentasikan oleh Michel Bublot, dengan judul “The Next Generation of Marek’s Disease Vaccine.”
Slide pertama Bublot menggambarkan bahwa penyakit Marek merupakan ancaman klasik yang senantiasa berisik. Virus Marek terus bermutasi dan beradaptasi guna mempertahankan eksistensinya. Secara grafis diilustrasikan bahwa setiap 20 tahun – dimulai tahun 1940 – terjadi peningkatan derajat virulensinya. Dari tahun 1940 hingga tahun 2020, berturut-turut derajat virulensinya meningkat: m, v, vv, vv+, dan vv++.
Bagi kalangan ilmuwan dan peneliti, pola mutasi virus Marek yang konsisten itu justru menjadi suatu tantangan sekaligus peluang. Sikap proaktif dan antisipatif. Bahkan mereka sangat antusias dan saling berlomba untuk membuktikan kecerdasan berpikir dan kecanggihan teknologinya.
Riset-riset yang dilakukan bertujuan untuk mendapatkan vaksin Marek yang benar-benar memenuhi rumus “Efficacy/Safety Balance.”  Sebagai flash back, di era tahun 1990-an vaksin Marek ketika itu “Safety+, Efficacy“. Sedangkan pada masa tahun 2010-an “Safety-, Efficacy+”
Setelah melakukan berbagai riset yang jelas dan terukur serta memenuhi kaidah-kaidah ilmiah, akhirnya ditemukan suatu metode unik dan fantastik sehingga disebut sebagai “unprecendented engineering design”. Metode itu menggunakan teknologi LTR (Long Terminal Repeat).
Teknologi LTR yang canggih itu sudah dipatenkan oleh salah satu perusahaan produsen vaksin terbesar dunia yang bermarkas di Jerman. Keunggulan dan manfaat teknologi LTR tersebut sangat diapresiasi oleh kalangan Industri Perunggasan Global.  Dengan teknologi LTR maka vaksin Marek yang diproduksnya bisa memenuhi kriteria “Safety+, Efficacy+”.
Sangatlah kontradiktif bila membandingkan antara yang terjadi di dunia global dengan kejadian disini. Disana sudah terbiasa dengan pola pikir prediktif, proaktif, dan antisipatif dalam menyongsong suatu perubahan, mereka telah mempersiapkannya dengan berbagai alternatif solusi.
Tidaklah demikian dengan yang terjadi di sini. Sebagai contoh, ketika terjadi fluktuasi harga live bird (LB) yang memang sering berulang-ulang, tetap saja timbul kepanikan di sana-sini. sikap saling tuding dan saling menyalahkan antara satu pihak dengan pihak yang lainnya kerap kali Bermunculanlah. Bahkan ada arogansi juga.
Yang lebih menggelikan lagi adalah belum adanya koordinasi dan sinkronisasi data-data perunggasan nasional. Jelas disini bahwa Kementerian/Lembaga (K/L) berjalan sendiri-sendiri. Ego sektoralnya sangatlah kuat bahkan ‘kokoh tak tertandingi’.
Pelaku usaha bidang perunggasan sering mengeluh karena merasa direpotkan dengan adanya permintaan data yang bertubi-tubi dari instansi yang berbeda-beda. Pada hal data-data yang diminta sama adanya. Tapi, ada juga permintaan data yang berbeda. Maksudnya, kurun waktu (periodenya) yang beda.
Bila masalah data tersebut belum diselesaikan, maka jangan berharap bisa dihasilkan suatu kebijakan/regulasi yang benar-benar sesuai harapan. Maknanya, kita di sini tak usah berharap banyak untuk bisa melompat seperti yang di sana. Kita di sini, hendaknya bisa memaklumi kalau hanya bisa jalan di tempat. *Praktisi Perunggasan Tinggal di Surabaya
Artikel ini merupakan rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com