Kolaborasi dan komunikasi adalah poin penting dalam berbisnis
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Melaksanakan niatan bisnis tidak harus menunggu lulus kuliah, niatan itu bisa dijalankan meski masih dalam masa perkuliahan, seperti yang disampaikan oleh Dr.Ir. Bambang Ali Nugroho , MS.DAA., IPM.,ASEAN Eng, Wakil Direktur BIIW Universitas Brawijaya (UB) dalam acara webinar bertema “Membidik Peluang Bisnis Lebih Dini” yang diadakan oleh Fakultas Peternakan (Fapet) UB, Kamis (26/8).
Menurutnya, untuk menjelaskan kepada orang tua atas pilihan membuka bisnis saat kuliah untuk saat ini lebih mudah. Sebab, orang tua sekarang tidak terlalu konservatif seperti orang tua zaman dulu. Bahkan, ia memberi keluasan bagi para mahasiswa bahwa untuk ujian kelulusannya nanti bisa diupayakan dari cash flow yang bisa dihasilkan dari usaha yang sudah dijalankan. Hal ini sejalan dengan tekad dari Prof.Dr.Sc.Agr.Ir. Suyadi, MS, IPU., ASEAN Eng, dekan Fapet UB yang ingin mencetak para wirausahawan. Bahkan tolak ukur dari keberhasilan pendidikan di Fapet UB adalah dari banyaknya lulusan yang menjadi wirausahawan.
Baca juga : Membangun SDM Unggul Industri Perunggasan
Sementara itu, menurut CEO Ternaknesia, Dalu Nuzlul Kirom, menemukan bahwa masalah merupakan gerbang pertama bagi wirausahawan untuk beranjak ke tahap berikutnya. Sebagai contoh, adanya masalah di sektor peternakan, mulai dari hulu, hilir, pasar serta investasi di dunia peternakan, melahirkan ternaknesia seperti yang ia tangani akhir -akhir ini. Menurut Dalu, Penemuan masalah saja tidak cukup, harus divalidasi agar masalah itu benar -benar terjadi di lapangan. Setelah itu barulah beranjak ke tim untuk mencari solusi yang bisa diterapkan.
“Konsep ini harus dibagikan dengan tim dengan berbagai disiplin ilmu. Misal di aplikasi ini ada yang dari aspek teknologi, ada yang dari tim teknis dalam hal ini tim yang mengerti tentang peternakan. Sebaliknya, jika yang mempunyai ide adalah peternakan, maka bisa kerja sama dengan tim yang ahli bidang teknologi, zamannya sekarang adalah sinergi,” tegasnya.
Setelah terbentuk konsep barulah dibentuk prototipe, prototipe ini untuk mengurangi biaya, dan sebagai evaluasi, jika produknya benar- benar bisa diterima konsumen barulah diproduksi secara masal. Tahap akhir adalah modal. Sebab, modal adalah jalan untuk meningkatkan kapasitas produksi, agar supply bisa lebih banyak.
“Modal bukan langkah awal, sebab kami pernah memberi modal ternyata tidak jalan juga, malah cenderung membelanjakan modal pada hal hal yang kurang dibutuhkan dalam produksi,” pungkasnya.