Masih pada acara yang sama, drh. Natalia Cintya Hariyani selaku Technical Specialist Bioprotection PT Elanco Animal Health Indonesia banyak menjelaskan terkait penanganan lalat di kandang. Dirinya mengatakan bahwa dalam praktiknya kebanyakan peternak hanya memberikan perilaku terhadap lalat dewasanya saja. Padahal, bibit penyakit yang disebabkan oleh lalat sudah dimulai dari awal fase pertumbuhan lalat.
“Kita tidak sadar bahwa ternyata lalat dewasa itu hanya memenuhi 20% dari total kemungkinan adanya populasi lalat, sehingga 80% sisanya itu masih berbentuk larva atau telur lalat. Dalam kata lain, pencegahan lalat itu memang rumit dan harus benar-benar diperhatikan dari akarnya,” terangnya.
Cintya mengatakan, secara garis besar terdapat 4 metode untuk pengendalian keberadaan lalat. Metode tersebut antara lain metode lingkungan, biologis, fisik, dan kimiawi. Metode biologi sebenarnya menggunakan hewan sebagai predator, jadi tidak efektif untuk peternakan. Untuk metode lingkungan bisa dilakukan dengan perbaikan pengelolaan kandang dan gudang. Peternak harus mengetahui penyebab kedatangan lalat, sehingga dapat melakukan pencegahan dengan cara membersihkan lingkungan kandang dan gudang. Kemudian, metode fisik dapat dilakukan dengan jebakan lem dan elektrik.
Metode selanjutnya, bisa menggunakan bahan kimia seperti pyrethroids, organophosphates, carbamates, neonicotinoids dan spinosyn. Dalam perkembangannya, golongan bahan kimia ini diawali pada tahun 1960 yang diawali dengan ditemukan golongan organophosphates dan kemudian diikuti dengan golongan lainnya. Walaupun tidak dapat membasmi secara total, tetapi tindakan preventif tersebut dapat mendepopulasi lalat di kandang. Dengan metode kimia, Cintya mengatakan mampu mengurangi populasi lalat dewasa dan larva.
“Metode kimia dibagi menjadi 2, ada yang mampu membunuh lalat dewasa atau adult cides dan juga yang masih menjadi larva atau larvicides. Pada adulticides ini kita dapat membunuh dengan cara racun kontak dalam bentuk spray, sehingga ketika lalat dewasa ini melakukan kontak langsung dengan bahan kimia itu akan menimbulkan paralisis atau kelumpuhan yang kemudian akan mati. Kemudian larvicides ditujukan untuk menghentikan siklus perkembangan lalat, sehingga tidak memproduksi lalat dewasa,” terang Cintya.
Baca Juga: Langkah Tepat Penanganan Lalat
Sebelum menggunakan metode kimia, peternak harus menganalisis terlebih dahulu mengenai tempat yang berpotensi dihinggapi lalat. Dengan begitu, dapat memudahkan peternak dalam memberikan perlakuan pada lalat. Baik adulticides maupun larvicides memiliki cara aplikasinya sendiri. Namun, menggunakan sprayer merupakan metode yang dapat digunakan untuk kedua jenis tersebut.
“Contoh untuk kontrol lalat dewasa dapat dilakukan dengan menaburkan bahan kimia tersebut di suatu wadah. Selanjutnya, aplikasi bahan kimia bisa dilakukan dengan cat, sehingga ketika momen lalat sedang istirahat, dapat terhirup dengan bahan kimia. Aplikasi terakhir dapat menggunakan sprayer kepada lalat yang terlihat mata. Kalau untuk penggunaan bahan kimia pada larva dapat digunakan via pakan. Berikan pakan yang telah dicampuri bahan kimia di tempat yang terdapat banyak larvanya seperti tempat pembuangan limbah kandang. Selain via pakan, pembunuhan larva juga dapat dilakukan dengan disemprotkan atau spray,” tambahnya.
Cara kerja bahan kimia ini pada prinsipnya sama. Hanya saja dirinya mengatakan bahwa tiap golongan kimia memiliki tempat reaksi yang berbeda-beda. Reaksi yang terjadi di dalam sistem saraf lalat tersebut menyebabkan adanya reaksi over stimulation.
“Cara kerja bahan kimia itu terjadi di dalam sistem saraf pada lalat. Kalau menggunakan golongan kimia pyrethroids, reaksinya di tempat bernama sodium channel. Kalau menggunakan organophosphates dan carbamates itu beraksi di acetylcholine, sedangkan neonicotinoids bereaksi di nicotinic acetylcholine receptor. Terakhir, golongan spinosyn bereaksi di gaba receptor,” pungkas Cintya.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada Majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, sila mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153