Penyakit ND hingga saat ini masih menjadi ancaman di lapangan. Tak hanya menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan usaha perunggasan.
Serangan penyakit menjadi salah satu faktor utama dalam keberhasilan budi daya unggas. Pasalnya sebagai salah satu sektor usaha biologis, tentu kemunculan penyakit bisa terjadi kapan saja. Salah satu penyakit yang terus menjadi mimpi buruk bagi para peternak di Indonesia adalah Newcastle Disease (ND) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tetelo. Bahkan berdasarkan, surveillance penyakit dari tim lapangan Ceva yang telah diterbitkan di Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2024, diperkirakan bahwa penyakit ND, IB dan IBD menempati peringkat tertinggi penyakit yang akan mengancam dunia peternakan di tahun 2025. Di mana seperti yang tertera dalam Grafik 1, diproyeksikan penyakit ND berada pada rangking pertama dengan persentase 16 %.
Kilas Balik Newcastle Disease
Newcastle Disease (ND) adalah penyakit viral perunggasan yang sangat menular dan mempunyai dampak besar secara ekonomi. Bahkan penyakit ini dikategorikan sebagai penyakit unggas daftar A oleh Office International des Epizooties (OIE) atau yang kini disebut dengan World Organisation for Animal Health (WOAH). Sejak kemunculannya pertama kali di Pulau Jawa, Indonesia serta kemunculannya di Newcastle-upon-Tyne, Inggris pada tahun 1926, wabah penyakit ini terus menyebar secara global, dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi industri perunggasan dunia.
Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus Avian paramyxovirus serotype–1 atau virus Newcastle Disease (ND) yang menyerang bangsa burung terutama unggas. Penyakit ini akan menyerang pernapasan dan dapat bersifat sistemik, akut dan sangat mudah menular, dapat menyerang berbagai jenis unggas, terutama ayam. Sementara itu penularan penyakit ini dapat secara langsung oleh ayam sakit ke ayam yang peka, maupun secara tidak langsung melalui peralatan kandang, pakan dan pekerja yang tercemar oleh virus tersebut.
Pada ayam sakit, virus ND dapat ditemukan pada feses, leleran tubuh maupun telur dan udara disekitarnya sehingga sangat efektif menjadi media penularan melalui rute oral (pencernaan) maupun inhalasi (pernapasan). Virus ND yang masuk ke dalam tubuh ayam akan menimbulkan gejala klinis antara 5-6 hari sesudahnya (masa inkubasi).
Gejala klinis penyakit ini bersifat mendadak yang ditandai dengan kondisi ayam lesu dan lemah, gangguan respirasi atau ngorok, anoreksia atau kehilangan nafsu makan dan minum. Jika ayam dapat bertahan selama 3 hari, gejala klinis yang nampak diantaranya adalah diare berwarna hijau, tremor, paralisis pada otot kaki dan sayap, tortikolis dan pada ayam layer terjadi penurunan produksi yang signifikan dan kemudian diikuti dengan kematian tinggi.
Tortikolis yang sering kita jumpai pada kasus ini menunjukkan bahwa ayam tersebut pernah kontak dengan virus lapangan namun titer antibodi tidak cukup untuk melakukan perlawanan. Ayam dengan gejala klinis tortikolis biasanya tidak mati dan sekali waktu tetap berproduksi. Namun ayam ini harus segera kita keluarkan dari populasi (culling) karena ayam ini mengeluarkan shedding virus setiap hari melalui feses, sehingga sangat berbahaya bagi sekumpulan populasi lainnya.
Pada layer di kandang baterai kejadian paralisis otot sayap dan kaki karena kasus ND menyebabkan kelumpuhan yang ‘dramatis’. Kedua kaki terjulur ke bawah melewati sekat-sekat kawat kandang baterai, posisi tubuh menempel pada alas baterai dengan posisi sayap menggantung dan kepala ayam tremor. Gejala klinis kelumpuhan seperti ini biasanya menyebabkan kematian tinggi hingga 50 persen.










