Suasana seminar nasional yang diadakan oleh ADHPI
POULTRY INDONESIA, Surabaya – Perubahan iklim berpotensi meningkatkan penyebaran penyakit, memengaruhi produktivitas, serta memengaruhi kesejahteraan unggas di Indonesia.Peningkatan suhu lingkungan dapat menimbulkan stres pada unggas yang akan berdampak negatif pada kesehatan, pertumbuhan dan produksi.
Salah satu penyakit yang sering muncul akibat perubahan iklim ini adalah mycotoksikosis yakni penyakit yang muncul akibat adanya mycotoxin. Menurut Farming Professional dan Private Poultry Farm Consultant, Tony Unandar, berdasarkan survei yang sudah dilakukan oleh para peneliti, semua bahan baku khususnya jagung di Indonesia telah terkontaminasi tidak kurang dari tiga jenis toxin. Bahkan selalu lebih dari tiga jenis toxin.
“Survei ini sudah dilakukan dua kali pada jagung  baik impor maupun lokal. Ternyata isinya lebih dari tiga jenis toxin. Sedang interaksi antara toxin, satu dan yang lain akan mempotensiasi daya racun. Walaupun kadarnya sama-sama rendah, maka daya racunnya akan meningkat,” terangnya dalam sebuah seminar nasional perunggasan yang diadakan oleh Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia ( ADHPI) bersamaan dalam pameran Indo Livestock 2023 Expo & Forum di Surabaya, Jumat ( 28/7).
Dalam seminar yang mengangkat tema ” Tinjauan Patofisiologi Unggas dan Antisipasi Kondisi Peningkatan Suhu Lingkungan Dampak dari Global Warming dan El Nino” ini, Tony memberikan contoh penjelasan tentang ochratoxin. Menurutnya pertama diserang dari toksin ini adalah gut integrity, setelah toksin diserap usus maka akan lari ke hati. Akibatnya akan terjadi perubahan hati. Dimana tahap awal adanya mycotoxin akan memberikan efek immunosuppression.
“Pemeriksaan patofisiologi adanya toksin ini adalah dengan melihat kelenjar limfenya. Dimana apakah ada pembesaran. Selanjutnya memeriksa sumsum tulang nya. Pada ochratoxin maka gambaran yang didapatkan adalah menumpuknya asam urat di dalam ginjal, serta perubahan hati. Sebab, tidak semua toxin binder bekerja pada ochratoxin ini,” tegasnya.
Ia juga menegaskan tentang efek kumulatif dari adanya toksin ini. Dimana kalau sudah diserap oleh usus, maka pada ayam umur tertentu akan terjadi efek toksiknya sebagai akibat dari penumpukan toksin dalam tubuh ayam.